Tolong matikan adblock dan script blocker Anda untuk melihat halaman ini.

─̶─Jika ingin meng-COPY tolong sertakan sumber :D─̶─


Penerjemah : D.Blank13th


Chapter 2

1x1=Aimless

Part III


─̶─permainannya hanya sepihak.

Tidak dapat melihat peluang untuk kemenangannya, Riku kalah dalam gerakan ke-29-nya. Ini semua sesuai rencana.

“Sial, aku kalah...Ini tak bisa terbantu, aku hanya akan membawamu ke [Koloni] untuk memenuhi kondisi.”

Untuk memiliki Ex-Machina yang sangat kalkulatif sebagai lawan─̶─mustahil bagi Riku yang hanya bisa memprediksi gerakan selanjutnya.

Karena inilah─̶─dia mengusulkan suatu kondisi yang menguntungkan bagi yang kalah. “.....”

Gadis Ex-Machina itu melihat saat Riku memalsukan senyum, tidak lupa untuk menunjukkan ekspresi penyesalan.

─̶─itu bisa dikatakan ajaib, untuk pengembangan berjalan sesuai rencana.

Meskipun motifnya tidak diketahui, tak ada arti baginya untuk bermain dengan manusia menggunakan strategi rumit.

Hanya dirinya yang tertarik pada manusia─̶─yang berarti bahwa Ex-Machina lain tidak memiliki nada  ketertarikan terhadap ras manusia. Ini berarti bahwa rasnya mungkin tidak mengincar manusia.

Dengan itu dikatakan, karena permainan itu sendiri tidak memiliki kekuatan mengikat, tiap kelalaian tidak dimungkinkan untuk─̶─

“<Pertanyaan> Kenapa kau menunjukkan perilaku penyesalan mendalam?” “─̶─apa?”

Untuk sesaat, napasnya berhenti.

[Tingkah]-nya menjadi menyesal telah terlihat, Riku tidak bisa membantu selain memikirkan─̶─

ini seharusnya tidak mungkin.

Karena dia benar-benar menutup perasaannya, itu hanya interpretasi. Sampai sekarang bahkan Riku sendiri tidak bisa memahami jika perasaan itu adalah pemikirannya sesungguhnya. Namun, jika [Pemikiran sesungguh] nya terlihat, maka─̶─

Gadis Ex-Machina menatap menatap mata waspada Riku─̶─disana seharusnya tidak ada apa-apa tercermin dalam mata gelap gulita itu.

“<Menyimpulkan> Keberadaan [Hati] seseorang dikonfirmasi. Ada nilai untuk terus menganalasis.”

─̶─makna dibalik kalimat ini, Riku tidak mengerti.

Namun, gadis Ex-Machina itu, terlihat seolah dia menunjukkan sebuah senyum─̶─itu mungkin ilusi.

“...Ah, omong-omong, aku belum memperkenalkan diriku.”

Riku hanya memikirkan hal itu sekarang. Karena keadaan darurat yang ia hadapi berturut-turut, dia benar-benar melupakan tentang itu.

“Itu, namaku Riku. Bagaimana denganmu─̶─?” “<Menjawab>─̶─√úc207Pr4f57t9”

“...Ah? Uh, apa? Apa itu...Sebuah nama?”

“<Benar> Nomor identifikasi individu mesin ini─̶─apa ini tidak identik dengan [Nama]?”

“...Tidak, jika kau ingin memahami hati manusia di koloni, kau harus memeliki nama yang lebih mirip manusia─̶─“

Kalimat ini menyebabkan gadis kecil itu menjadi terselimuti dalam pemikiran mendalam. “<Pertanyaan> Bisakah nama dengan bebas ditetapkan oleh perkataan individu?” “Yah─̶─ada hal seperti itu.”

Lalu, gadis itu membungkus dirinya dalam pemikiran mendalam.

Tiba-tiba, dia membungkus jarinya di rambutnya dan mengumumkan namanya.

“<Menjawab>─̶─[Shuwaruvi]”

“Terlalu panjang, itu membingungkan orang, dan itu tidak tampak seperti sebuah nama. Diberhentikan dengan tiga alasan diatas─̶─panggil dirimu sendiri [ShuVi] saja.”

Riku dengan mudah menolak usulannya. Tapi, tampaknya menjadi ilusi─̶─

“....<Bingung> Dibilang bebas memilih tapi direvisi....<Bantahan> Harus memanggil aku sendiri dari awal.”

Riku selalu bertanya-tanya, gadis itu tampak seolah dia memprotes dalam kemarahan yang cocok.

─̶─ini pasti ilusiku, Riku sekali lagi turun dengan keputusan ini.

“Oke, aku akan merapikan untuk sementara waktu lalu aku akan membawamu ke koloni─̶─tapi sebelum itu, ada beberapa tindakan pencegahan.”

Menekuk salah satu jarinya, dia berkata.

“Ex-Machina tidak dapat memiliki hati saling memahami. Adalah karena mereka ketakutan, mereka takut memiliki saling memahami.”

“.........<Benar>”

Melihat Ex-Machina yang bernama ShuVi menganggukkan kepalanya, Riku melanjutkan.

“Jadi selain dari mengubah nama, dapatkah kau mengubah nada bicaramu yang langsung menunjukkan fakta bahwa kau adalah seorang Ex-Machina?”

“─̶─<Baca> Simulasi kepribadian 1610─̶─“

Tatapan ShuVi naik, dan dia mulai memiliki ekspresi seolah merenungkan. “─̶─hey hey, maka~ Onii-chan❤ Ini cukup?”

“Kau bercanda, ditolak.”

Tanpa ekspresi, tanpa suara mengalun, diatas itu, untuk menambah nada yang tidak perlu. Riku datar menolak ini.

“.....<Paradox> Aku telah hati-hati mengulasnya....”

“Aku sudah mempunyai seorang kakak perempuan, jadi pengaturan ini tidak bisa diterima.”

“....<Permintaan> Tolong berikan aku dengan pengaturan yang sesuai situasi.”

Riku mengabaikan ShuVi yang terlihat seperti dia masih marah dan mulai serius berpikir.

Sejujurnya, dia ditinggalkan sendirian dan dipaksa Coron untuk menjaga rumahnya selama lima hari. Dibawah keadaan ini, Riku membawa seorang gadis pulang.

─̶─pengaturan terbaik akan jadi─̶─

“......Lalu, berpura-puralah kau adalah seorang korban yang diseret ke dalam perang.” “........─̶──̶──̶─“

“Kau pemalu, cukup. Ini akan berarti masalah jika kau ketahuan, jadi jangan bicara terlalu banyak. Dan berhenti menggunakan pola bicara yang langsung menunjukkan kau sebagai Ex-Machina─̶─itu tak apa?”

ShuVi dengan seksama memperhatikan apa yang dikatakan Riku dengan hatinya. “..............Un.”

Hanya 10 detik penuh.

Setelah beberapa pertimbangan hati-hati, gadis Ex-Machina─̶─ShuVi, mengangguk.

Kemudian─̶─

Di wajah tanpa ekspresi yang awalnya anorganiknya, bayangan mulai menutupi wajahnya.

Dia diam-diam─̶─membuka mulutnya.

“....Aku, mengerti....Apakah ini.......Bagus?”

─̶─

Dia bahkan memiliki ekspresi yang sesuai─̶─karena bagaimana dia menyerupai manusia asli, Riku sejenak tertegun.

“....Itu adalah, pura-pura─̶─kan?”

Itu seolah ada orang baru.

Jika tidak untuk bagian-bagian mesin yang terekspos, bahkan Riku akan sudah teripu berpikir bahwa dia adalah manusia.

Akan lebih baik jika itu hanya tidak wajar, aneh dan tidak masuk akal.

─̶─inilah apa yang Riku duga─̶─Tapi ShuVi menggeleng kepalanya dan menjawab.

“....Pura-pura? Tidak....Meniru pengaturan yang diusulkan,.....Dengan menelusuri....Orang..” Riku tidak mengerti arti dibalik kata-kata itu.

Tapi dengan begitu dia tidak akan dikenali sebagai Ex-Machina. Langkah selanjutnya adalah─̶─

“Oke, pertama, kau perlu mengenakan pakaian yang tepat.”

─̶──̶──̶─ya, tidak peduli seberapa terampil ekspresi wajah dan bahasa menyamar, seorang gadis manusia tidak akan berjalan diluar telanjang bulat.

“Sembunyikan bagian mesin. Sebuah hoodie akan cukup untuk menutupi kepala─̶─dengarkan dengan seksama, benar-benar jangan pernah izinkan siapapun melihat tubuhmu oh?”

ShuVi mengangguk sebagai respon.

“.....Un. Benar-benar, hanya izinkan Riku.....”

..........

“Meskipun aku memiliki perasaan bahwa ada sesuatu yang salah, yah─̶─jangan pikirkn. Kalau begitu

aku mengandalkanmu.”

Melihat dari berbagai pandang yang lebih luas, Riku menduga banyak keributan ketika dia kembali pulang.

Meskipun kecemasan mengalir di dalam hatinya, Riku memutuskan untuk memberikan permikiran dan memulai perjalanan kembali ke koloni.

Dia juga membawa sebuah hadiah yang sangat merepotkan─̶─

─̶─Part III END─̶─


Prev | ToC | Next