Tolong matikan adblock dan script blocker Anda untuk melihat halaman ini.

──Jika ingin meng-COPY tolong sertakan sumber :D──


Penerjemah : D.Blank13th


Act 4

Kosmetik


Lima bulan telah berlalu semenjak aku dipanggil ke dunia ini.

“Apa yang kamu buat?”

Saat aku membuat minyak esensial dari Lavender yang kupetik di kebun herbal, Jude bicara padaku.

“Apa itu bahan-bahan potion?”

“Bukan, mereka bahan untuk toner kulit.”

Apa yang kumau adalah air bunga, produk sampingan pembuatan minyak esensial.

Semenjak datang ke dunia ini, sekarang aku bisa membuat kosmetik.

Aku selalu tertarik dengan kosmetik buatan tangan dan kosmetik juga penting.

Tentu saja ada kosmetik di dunia ini tapi kebanyakan ditujukan untuk bangsawan, jadi harganya mahal.

Beruntungnya ini adalah Lembaga Penelitian Tanaman Herbal.

Aku bisa menggunakan peralatan dan fasilitas di tempat ini untuk membuat kosmetik. Sebagai  bonusnya aku bisa menggunakan bahan sebanyak yang kumau.

“Eh~, jadi kamu juga bisa membuatnya dari tanaman herbal.”

“Kamu bisa juga membuatnya dari bunga yang disebut mawar.”

Ada kosmetik di dunia ini tapi tidak seperti potion, ada banyak resep misterius.

Apa benar-benar tidak apa-apa mengoleskan itu di wajahmu? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan.

Kalau kau mengoleskan sesuatu seperti itu di wajahmu, bukannya lebih baik kalau mengoleskan potion saja?

Namun tujuan potion adalah untuk menyembuhkan luka, potion tidak memiliki efek pelembab atau pemutih seperti produk kosmetik, jadi sulit untuk menggunakannya sebagai produk kosmetik.

Aku mencoba menggunakannya sebelumnya tapi itu benar-benar sulit.

“Kamu sudah membuatnya sebelumnya. Apa kamu menggunakan Lavender saat itu juga?”

“Aku menggunakannya tapi aku tidak menggunakannya untuk membuat toner kulit.”

“Begitu. Apa efeknya berbeda?”

“Yah, efek dasarnya sama.”

“Sungguh? Nah, kosmetik yang dibuat Sei sepertinya akan memiliki efek yang tinggi.”

Aku tersenyum pahit pada apa yang Jude katakan.

Produk kosmetik yang kubuat sangat efektif.

Kalau dipikir-pikir lagi, ternyata berjalan dengan baik saat aku mencoba untuk memusatkan Magic Power ke dalamnya sambil mengaduk.

Ada perbedaan besar dalam efek ketika aku memusatkan Magic Power ke dalamnya dan tidak.

Terlebih skill farmasiku mempengaruhi kosmetikku dan kutukan peningkatan 50%-ku diterapkan.

Ketika aku menyadari kalau skill farmasiku mempengaruhinya, kupikir mungkin, peneliti lain akan memintaku untuk membuat kosmetik dengan cara yang sama.

Lalu seperti yang ditakutkan, ada perbedaan efek diantara kosmetik yang kubuat dan yang tidak.

Sepertinya hubungan antara kosmetik dan skill farmasi itu tidak jelas dan para peneliti terkejut ketika mereka menyadarinya.

Tidak seperti potion, hanya sejumlah kecil orang yang menggunakan kosmetik. Para peneliti tidak tertarik karena mereka semua pria, jadi mereka tidak menyadarinya.

Ketika kutukan peningkatan 50%-ku dilaporkan ke Direktur, dia tertawa seolah menyiratkan hal itu terjadi lagi?

Itu adalah tawa yang sangat lusuh.

“Apa kamu mulai membuat kosmetik setelah datang ke lembaga penelitian, Sei?”

“Yap.”

“Sudah kuduga.”

Sudah dia duga?

Ketika aku memiringkan kepalaku, Jude tertawa malu-malu.

“Kamu jadi sangat cantik semenjak datang kesini.”

“Eh?”

Begitu mendadak, apa yang dia bilang, anak ini.

Sebelum aku mengetahuinya, aku bingung tapi aku mengerti yang dia maksud dan aku bisa merasakan wajahku memanas sedikit demi sedikit.

Itu adalah pertama kalinya seorang pria mengatakan sesuatu seperti itu padaku dan itu benar-benar memalukan.

“A-apa yang kamu katakan tiba-tiba?’

“Mhm? Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.”

Dia buru-buru mempermainkanku tapi sepertinya dia sadar kalau aku merasa malu. Tentu saja, Jude tertawa.

Memang tidak ada lembur larut malam di dunia ini dan berkat menjalani gaya hidup biasa, kantung di bawah mataku telah hilang, benar-benar hilang. Rambut dan kulitku juga menjadi bercahaya.

Ketika aku di Jepang, aku bekerja lembur setiap hari sehingga tidak realistis bagiku untuk tampil  cantik dan bergaya, aku adalah wanita yang sangat tidak populer. Tapi pertama kalinya aku melihat cermin setelah kemari, aku melihat perubahan penampilanku dan menganggapnya sedikit menyenangkan.

Berkat krim yang kuoleskan di sekitar mataku, penglihatanku jadi lebih baik dan aku tidak membutuhkan kacamata lagi.

Tapi seorang wanita tidak populer tetaplah wanita tidak pppuler.

Meskipun penampilanku berubah, di dalamnya masihlah sama.

Aku sangat tertekan dengan ini.

“Berhenti menggodaku.”

Itu yang kukatakan tapi Jude hanya merendahkan alisnya dan tersenyum seolah sedang bermasalah.


◊♦◊♦◊♦◊


Aku bangun pagi-pagi, menyikat gigi, mencuci muka dan mengoleskan kosmetik.

Rutinitas yang sama ketika aku masih di Jepang.

Kupikir kosmetik yang kubuat perlahan menunjukkan efek mereka dan penampilanku menjadi cukup sehat.

Aku melihat pantulanku di cermin kecil (yang ada di tasku saat aku dipanggil ke dunia ini), aku melihat efeknya dan tersenyum, puas.

Meskipun tidak memakai make-up pun, aku terlihat sama seperti biasanya.

Aku bisa membuat produk kosmetik dasar tapi aku tidak bisa mengingat cara membuat make-up jadi aku tidak bisa membuatnya.

Aku tidak menyukai make-up berat jadi ini cukup.

Aku melihat pantulanku untuk beberapa saat dan ketika aku merasa puas, aku mengganti pakaianku.

Hari ini adalah hari libur dan akan cukup bagus jika aku bersantai sedikit.

Nah, apa yang harus kulakukan?

“[Status]”


Takanashi Sei
Lv. 55/Saint

HP: 4,867/4,867
MP: 6,067/6,067

Combat Skill:
Holy Attribute Magic: Lv.

Production Skill:
Farmasi: Lv. 30
Memasak: Lv. 8


Untuk sekarang, mari periksa statusku saat ini.

Skill farmasi dan memasak-ku, keduanya meningkat.

Jika aku terus memasak, skillnya mungkin akan meningkat tapi baru-baru ini sulit untuk meningkatkan skill farmasi-ku bahkan ketika aku membuat HP potion kelas tinggi.

Apa yang bisa kubuat yang lebih tinggi dari HP potion kelas tinggi?

Ada buku tentang tanaman herbal dan obat-obatan di lembaga penelitian tapi aku tidak pernah melihat buku tentang potion dengan efek yang lebih tinggi daripada HP potion kelas tinggi.

Kalau aku pergi ke perpustakaan istana kerajaan, akankah ada buku seperti itu disana?

Hari ini adalah hari libur yang sudah kutunggu-tunggu, tapi aku menghabiskannya dengan melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, aku masih seorang workaholic. Tapi tidak ada yang kulakukan juga.

Meskipun aku ingin pergi ke kota untuk berbelanja, aku belum pernah keluar dari istana kerajaan sebelumnya dan aku merasa sedikit tidak nyaman.

Akan berbeda ceritanya kalau ada seseorang yang ikut denganku......

Yah, sudahlah.

Hari ini aku akan mengasingkan diri di perpustakaan istana kerajaan dan membaca buku.

“Huh? Sei, apa kamu mau keluar?”

Saat aku turun dari lantai tiga ke lantai pertama, Jude memanggilku.

Hari ini bukan hari liburnya jadi dia bekerja.

Sepertinya dia baru saja masuk ke lembaga penelitian setelah mendapatkan tanaman herbal dari gudang. Kotak yang dipegangnya dengan kedua tangannya berisi tanaman herbal.

“Yap, aku berencana untuk pergi ke perpustakaan istana kerajaan.”

“Begitu, bukannya hari ini hari liburmu?”

“Yap.”

“Hati-hati, ya.”

“Ya, sampai nanti.”

Jude mengantarku saat aku meninggalkan lembaga penelitian dan berjalan menuju istana kerajaan.

Butuh waktu 30 menit tapi ini juga olahraga yang agus.

Aku tidak berolahraga cukup karena aku membatasi diriku di lembaga penelitian setiap hari jadi aku harus sering jalan-jalan seperti ini.

Tapi itu merepotkan......

Setelah berjalan beberapa saat, aku tiba di istana kerajaan dan masuk ke dalam.

Aku sering berkunjung ke perpustakaan istana kerajaan untuk urusan pekerjaan sehingga aku tidak tersesat.

Sepanjang jalan aku melihat vas dan lukisan yang menghiasi koridor istana kerajaan dan dalam waktu singkat, aku sampai di perpustakaan.

Karena ini istana kerajaan, kupikir mereka semua barang kelas atas.

Sangat menyenangkan melihat pola-pola halus pada vas dan pemandangan yang indah dalam lukisan.

Di dunia asalku, beberapa tempat mengubah bekas istana menjadi museum seni, jadi aku merasa sedang berjalan-jalan di museum seni.

Ketika aku sampai di perpustakaan, aku membuka pintu dan masuk. Karena aliran udara, aku melihat debu mengambang dalam cahaya yang bersinar melalui jendela.

Hanya ada beberapa jendela di ruangan ini untuk melindungi buku-buku, jadi disini redup.

Dengan menggunakan cahaya samar, aku melihat-lihat buku di rak buku dan mencari buku yang kuinginkan.

Aku memilih beberapa buku sebelum duduk di meja terdekat dan membuka salah satu buku.

Tentu saja, huruf-hurufnya tidak ditulis dalam bahasa Jepang tapi aku bisa memahami apa yang tertulis, mungkin karena efek pemanggilan.

Dalam pikiranku itu ditulis dalam bahasa Jepang jadi ini adalah perasaan yang sangat aneh.

Aku tidak tahu berapa banyak waktu yang berlalu tapi ketika aku bolak-balik ke rak buku dan kembali lagi, pintu berderit terbuka.

Bukan hal yang aneh bagi orang-orang untuk datang ke sini karena semuanya tersedia bagi semua orang yang bekerja di istana kerajaan.

Aku mencari-cari pegawai yang biasa, tapi aku malah melihat seorang gadis cantik yang menakjubkan mengenakan gaun mewah.

Dia memiliki rambut pirang yang setengah diikat dan mata biru berbentuk almond.

Tidak peduli bagaimana aku memandangnya, dia adalah seorang wanita muda dari keluarga bangsawan.

Selain itu, peringkat keluarganya tinggi.

Tidak aneh melihat seorang wanita muda di istana kerajaan tapi aku merasa bahwa ini adalah pertama kalinya aku bertemu salah satunya di perpustakaan.

Karena dia bagus cuci mata aku terus menatapnya dan dia menyadariku.

Karena aku orang Jepang, aku dengan cepat menundukkan kepala dengan refleks dan dia membalas dengan senyuman yang indah.

Tidak sopan kalau aku menatapnya lebih jauh, jadi aku mengembalikan pandanganku ke buku di tanganku.

Sesaat kemudian sebuah buku diletakkan di kursi di depanku.

Aku mengangkat wajahku dan ternyata itu adalah wanita muda yang tadi, kali ini dia sedang membaca bukunya tanpa melihatku.

Aku heran mengapa dia duduk di sini meskipun ada kursi lain tapi aku terus membaca buku di tanganku tanpa mempedulikannya.

Ketika aku selesai membaca semua buku yang kumiliki, aku mendengar bel yang mengatakan padaku bahwa sudah jam tiga.

Kurasa aku sudah berada di perpustakaan untuk waktu yang cukup lama.

Aku berdiri, berpikir bahwa aku harus segera kembali dan wanita muda itu memanggilku, “Permisi.”

“Ya?”

“Tentang buku yang disana itu......”

Rupanya dia ingin membaca salah satu buku yang akan kusimpan.

Aku sudah selesai membacanya jadi aku memberikannya padanya dan dia terkejut melihat buku-buku lain di tanganku.

“Anda membaca buku-buku yang sulit. Apakah anda seorang peneliti?”

“Ya.”

“Sudah saya duga. Buku ini ditulis dalam bahasa kuno jadi saya pun kesulitan membacanya.”

Aku bisa membacanya terlepas dari bahasa penulisannya karena suatu kemampuan, jadi aku sama sekali tidak menyadarinya, tapi sepertinya salah satu buku yang kubaca ditulis dalam bahasa kuno.

Walaupun dia bilang itu sulit, aku tidak bisa memahami perasannya jadi aku tersenyum samar untuk menipunya.

“Apakah anda juga tertarik dengan tanaman herbal, Nona?”

“Ya, benar.”

Aku bertanya padanya sambil menggunakan honorifik yang mengerikan dan dia samar-samar tersenyum.

Hmm, apakah penggunaan honorifik-ku buruk ataukah aku menanyakan sesuatu yang buruk?

Meskipun aku tidak bisa mencapai kesimpulan, kupikir akan buruk jika mengganggunya lebih jauh dan memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dengan benar.

“Jika anda tertarik, silakan datang ke Lembaga Penelitian Tanaman Herbal. Ada banyak tanaman herbal di kebun herbal. Nama saya Sei, saya peneliti disana.”

“Terima kasih. Ini agak terlambat tapi nama saya Elizabeth Ashley.”

“Kalau begitu, saya harus segera kembali ke lembaga penelitian.”

“Selamat tinggal.”

Aku mengembalikan buku itu ke rak buku. Ketika aku meninggalkan perpustakaan, aku merasakan panas yang menyengat dari luar.

Ini sudah musim panas.

Suhunya entah bagaimana disesuaikan di dalam perpustakaan dan lebih rendah dari suhu di koridor.

Saat aku berjalan kembali ke lembaga penelitian sambil mengipasi diri, kudengar seekor kuda berlari dari belakang.

Aku berbalik dan melihat ada sekelompok kuda yang menuju ke arahku.

Orang-orang yang menunggangi kuda tampak seperti ksatria dan aku merasa seperti aku mengenal orang yang di depan dari suatu tempat.

“Sei!”

“Ah, selamat siang.”

Orang yang di depan adalah Kapten Ordo Ksatria ke-3.

Jadi, apakah itu berarti semua orang di belakangnya juga dari Ordo Ksatria ke-3?

Aku melihat beberapa wajah yang familier jadi sepertinya memang benar.

“Apa kamu mau pergi ke lembaga penelitian?”

“Iya.”

“Kalau kamu mau, mau tumpangan?”

“Terima kasih atas tawarannya tapi saya tidak tahu cara menunggangi kuda......”

Masih ada jarak sampai lembaga penelitian.

Aku menghargai tawarannya tapi aku tidak tahu cara menunggangi kuda.

Ketika aku melihat ke arahnya yang merasa bermasalah, dia mengulurkan tangannya dan berkata, “Pegang tanganku.”

Dengan gugup aku memegang tangan Kapten dan dia dengan cepat mengangkatku ke atas kuda. Aku sekarang duduk di depan Kapten.

Betapapun kurusnya aku, kekuatan apa yang dia miliki untuk bisa mengangkat seorang wanita?

Apakah semua ksatria sekuat ini?

“Kalau begitu, haruskah kita pergi?”

Sementara aku terkejut, Kapten mengangkat kendali dan kuda perlahan bergerak.

Garis pandangku benar-benar tinggi di atas kuda, ini agak menakutkan.

Saat aku dengan hati-hati meraih sadel, aku mendengar suara tertawa yang tenang di belakangku. Kapten meletakkan tangannya di pinggangku.

“Tidak apa, aku memegangimu.”

“Ma-maaf.”

Ada apa dengan kedekatan ini?

Ini mungkin pertama kalinya aku merasakan panas tubuh seseorang di punggungku.

Dia bukan pacarku dan aku adalah wanita tua yang tidak populer, sedekat ini sangat intens.

Ini mungkin tak terelakkan tapi aku merasa seakan dipeluk dari belakang. Ini memalukan, telingaku semakin memanas.

“Apa yang kamu lakukan di istana kerajaan?”

“Nah hari ini adalah hari libur saya jadi saya pikir saya akan pergi ke perpustakaan untuk membaca.”

“Jadi ini hari liburmu. Buku apa yang kamu baca?”

“Buku tanaman herbal. Ada sesuatu yang ingin saya temukan......”

Sementara hatiku berdenyut, Kapten berbicara kepadaku.

Setiap kali dia berbicara, suaranya terdengar dari belakangku.

Sementara aku berpikir, “Wow!” berulang-ulang dalam pikiranku, aku menjawab dan perlahan-lahan menenang.

“Kamu menghabiskan hari liburmu untuk menyelidiki tanaman herbal? Bukannya itu pekerjaan?”

“Tidak, belajar tentang tanaman herbal juga hobi saya.”

Sejujurnya, ini mengejutkan bagiku untuk bekerja pada hari libur jadi aku tetap bersikeras bahwa ini adalah hobi.

“Apa kamu tidak punya hobi lain?”

“Nah......”

Dia bertanya kepadaku dengan heran tapi aku tidak dapat menemukan jawabannya.

Aku selalu bekerja jadi aku tidak punya hobi.

Sementara kami sedang ngobrol seperti itu, kami sampai di persimpangan antara lembaga penelitian dan barak.

Kapten memberi tahu para ksatria di belakang bahwa dia akan mengantarku ke lembaga penelitian, jadi kami berpisah dengan mereka di persimpangan jalan.

Ketika aku mengatakan kepadanya bahwa tidak apa menurunkanku disini, dia menjawab, “Sudah dekat jadi aku akan mengantarmu”. Pada akhirnya dia membawaku ke pintu masuk lembaga penelitian.


◊♦◊♦◊♦◊


“Sei, bagian ini agak sulit. Bisakah kamu menjelaskannya untukku?”

“Nah, ini......”

Aku berbicara dengan Liz tentang buku. Dia juga dikenal sebagai Elizabeth-sama, orang yang kutemui di perpustakaan.

Meski kita berbicara, hanya saat aku punya urusan di perpustakaan jadi tidak terlalu lama.

Isi buku ditulis dalam bahasa asing atau bahasa kuno. Liz bertanya tentang bagian yang tidak dia mengerti.

Liz sepertinya sedang belajar bahasa. Aku menjelaskan bagian-bagian yang sulit dipahaminya.

Awalnya, dia bertanya tentang tata bahasanya tapi maaf, aku sama sekali tidak mengerti tata bahasanya.

Aku hanya mengerti isinya.

“Begitu, jadi itu artinya. Terima kasih.”

“Tidak masalah.”

“Aku selalu mengganggu pekerjaanmu, aku minta maaf.”

“Ah, jangan khawatir. Ini istirahat yang bagus kok.”

Kenapa kau berbicara dengan seorang bangsawan dengan nada yang sangat akrab?

Awalnya aku benar-benar menggunakan honorifik.

Tapi dipertengahan, Liz memberitahuku, kau tahu?

Aku juga memanggilnya Liz sekarang, bukan Elizabeth-sama. Dia memintaku untuk berbicara normal dengannya.

Aku tidak bisa menolak saat seorang wanita muda yang cantik meminta.

“Kulit Sei sangat indah.”

Untuk menjelaskan isi buku ini, wajah kami sangat dekat satu sama lain dan dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.

Aku tidak terbiasa dengan pujian, jadi aku tidak tahu bagaimana harus menjawab ketika seorang gadis cantik, yang terlihat seperti boneka bisque dengan kulit sempurna dan tanpa pori-pori, memujiku.

“Sungguh?” Aku menjawab dengan rendah hati sambil memiringkan kepalaku. Liz mengangguk dan tersenyum.

“Meskipun aku berhati-hati di musim ini, aku masih terbakar sinar matahari di siang hari. Kudengar Sei juga bekerja di kebun herbal tapi kamu sama sekali tidak terbakar sinar matahari. Aku merasa kamu jadi lebih putih dan kulitmu jadi semakin bening.”

“Benarkah? Liz sama sekali tidak terbakar matahari.”

“Tentu saja aku sangat berhati-hati. Aku merawat kulitku setiap hari, tapi meski begitu aku tidak akan pernah bisa mencapai tingkat bening Sei. Produk apa yang kamu pakai?”

Tentu saja Liz adalah seorang gadis jadi sepertinya dia juga tertarik pada kecantikan dan dia membicarakannya dengan sangat antusias.

Apalagi karena dia seorang bangsawan? Dia berbicara tentang hal-hal yang orang dewasa bicarakan. Di Jepang, aku tidak bisa membayangkan gadis sekolahan berbicara tentang hal-hal semacam ini.

Ketika aku seumuran dengan Liz, yang kulakukan palingan adalah memakai tabir surya.

Apakah kau menyebut sesuatu seperti ini ‘kekuatan gadis agung’?

“Aku membuat produk kosmetik sendiri.”

“Wow!”

Ketika aku bilang aku membuatnya sendiri, mata Liz bersinar.

Karena Liz adalah seorang bangsawan, dia tidak pernah membuat produk kosmetik sendiri jadi ini tidak biasa.

Namun karena Liz sedang mempelajari tanaman herbal, dia bertanya kepadaku hal-hal seperti: bahan apa yang kamu gunakan? Efek apa yang dimiliki bahan tersebut?

Dia tampak lebih antusias daripada saat dia bertanya tentang isi buku.

Kupikir Liz juga seorang perempuan. Saat dia akhirnya tenang, dia mengatakan sesuatu yang tak terduga.

“Bukan hanya kosmetik yang membuatmu cantik, iya kan Sei?”

“Mhm? Apa maksudmu?”

“Kamu baru saja jatuh cinta, bukan?”

Huh?!

Liz menutup mulutnya dengan kipasnya dan tertawa sambil menatap wajahku.

Tunggu, tunggu dulu, mengapa kita tiba-tiba membicarakan hal ini?

Cinta ada di dunia yang sangat jauh bagiku.

“Ini adalah sesuatu yang kudengar, ada desas-desus kalau Kapten Hawk sering terlihat bersama seorang wanita.”

“Kapten Hawk?”

Aku memiringkan kepalaku saat tiba-tiba dia mengatakan nama yang tidak dikenal.

Liz mengira itu aneh jadi dia menutup kipasnya dan mengerutkan alisnya.

“Apa Sei tidak mengenal Hawk-sama?”

Satu-satunya orang yang terlintas dalam pikiranku adalah Kapten Ordo Ksatria ke-3. Apakah namanya Hawk?

Aku selalu memanggilnya Kapten-sama jadi aku tidak tahu siapa namanya.

Direktur selalu memanggilnya Al jadi aku tidak tahu nama keluarganya juga......

“Apakah Kapten Hawk adalah Kapten Ordo Ksatria ke-3?”

“Jadi kamu memang mengenalnya.”

“Kalau begitu, Kapten Ordo Ksatria ke-3 adalah teman baik Direktur kami.”

Sepertinya dia sedang membicarakan Kapten Ordo Ksatria ke-3.

Tapi jika kau bilang dia terlihat bersama seorang wanita, kemungkinan besar itu bukan aku.

Apa yang kupikir disangkal dengan apa yang dia katakan selanjutnya.

“Sepertinya ada yang melihatnya menunggangi kuda dengan seorang wanita......”

Maaf, itu pasti aku.

Akhir-akhir ini setiap kali dia melihatku kembali dari perpustakaan, dia selalu mengantarku kembali ke lembaga penelitian.

Dan seperti yang terlihat, ada dua orang yang menunggangi kuda.

Ini benar-benar memalukan jadi aku menolaknya untuk kedua kalinya tapi kemudian dia membuat wajah yang sangat sedih dan aku tidak bisa menolaknya lagi.

Apalagi pada awalnya dia langsung membawaku kembali ke lembaga penelitian, namun baru-baru ini kami memutari istana kerajaan. Kami mungkin terlihat saat itu.

“Kupikir itu memang aku.”

“Sudah kuduga, itu Sei, kan?”

Aku mengaku dengan jujur dan Liz tampak lega sambil tersenyum.

Aku agak khawatir dengan ekspresinya jadi aku bertanya.

“Ada apa?”

“Eh?”

“Tidak, kamu sepertinya lega jadi aku heran apakah akan buruk jika itu bukan aku.”

Itu yang kubilang dan dia berkata dengan wajah cantik, “Aku khawatir”.

Aku ingin tahu apakah aku seharusnya tidak membalas.

Ketika aku mencoba mengatakan kepadanya bahwa dia tidak perlu memberi tahuku jika sulit untuk mengatakannya, Liz menghela napas dan mengaku.

“Ketika aku mendengar rumor tersebut, aku yakin itu adalah Sei. Tapi semua orang di Akademi terus mengatakan bahwa itu adalah wanita yang berbeda.”

“Wanita yang berbeda?”

“Ya.”

Menurut Liz, mereka berspekulasi bahwa wanita yang bersama Kapten adalah teman sekelasnya.

Teman sekelas Liz. Itu mungkin berarti seorang gadis berusia 15 tahun, kan?

Jika kuingat dengan benar, para senior di Akademi seharusnya berusia 15 tahun.

Eh, seorang gadis berusia 15 tahun dan Kapten...... Itu berbau kejahatan.

Apakah perbedaan usia tidak masalah di dunia ini?

“Aku rasa teman sekelasmu dan Hawk-sama berbeda beberapa tahun. Apakah itu masalahnya?”

“Tidak, itu jarang tapi bukan itu masalahnya.”

Aku tiba-tiba bertanya kepadanya karena aku khawatir tapi sepertinya perbedaan usia itu boleh-boleh saja.

Jika iya, apa masalahnya?

Saat aku memikirkannya, Liz berbicara dengan ragu.

“Ada masalah dengan si teman sekelas.”

“Masalah?”

“Di Akademi, dia sangat akrab dengan pria yang memiliki tunangan. Ini telah menjadi sedikit masalah.”

Tunangan!

Itu adalah kata yang tidak biasa sehingga benar-benar menyelinap ke dalam pikiranku. Biasanya akan menjadi masalah jika ada desas-desus tentang seseorang yang bertunangan.

Anak-anak bangsawan yang menghadiri Akademi memiliki pernikahan yang sudah diatur sejak dini.

Kamu menjadi dewasa pada usia 15 tahun disini dan ketika kau telah dewasa tampaknya kau juga bisa menikah. Jika kau memikirkannya seperti itu maka itu tidak terlalu awal, bukan?

Tapi ada sesuatu yang menggangguku.

“Hey, apakah Hawk-sama memiliki tunangan?”

“Hawk-sama? Dia seharusnya tidak memiliki tunangan.”

“Oh. Dengan percakapan yang tadi, aku yakin dia memiliki tunangan.”

“Jika Hawk-sama memiliki tunangan maka ini akan menjadi masalah, biarpun orang lain itu adalah Sei.”

“Itu benar.”

“Fufufu, aku yakin Hawk-sama bisa membedakannya jadi seharusnya tidak ada masalah.”

Aku terkejut sejenak berpikir bahwa Kapten juga memiliki tunangan tapi aku lega mendengar dia tidak memiliki tunangan.

Bahkan di dunia ini, bermasalah jika ada desas-desus tentang orang yang bertunangan.

Pertama, bahkan jika Kapten tidak memiliki tunangan, akan merepotkan baginya untuk memiliki rumor yang beredar tentang seseorang sepertiku menjadi kekasihnya.

Tidak sepertiku, Kapten memiliki banyak orang yang bisa dia pilih.

Dia hanya mengantarku kembali ke lembaga penelitian karena kebaikannya.

Tidak bisa dimaafkan jika ini menyita kesempatannya dalam mencintai.

Demi Kapten, sebaiknya aku menyangkalnya dengan benar.

“Ini bukan masalah atau apapun. Lagipula Hawk-sama dan aku tidak memiliki hubungan seperti itu.”

“Ah, begitukah?”

“Itu benar. Lagipula, ayo kembali ke cerita.”

“Ya, benar. Jadi di Akademi mereka mengatakan bahwa dia akan melakukan apapun untuk mendekati Ksatria Es-sama juga.”

“Ksatria Es-sama?”

“Ah, itu julukan Hawk-sama.”

Kapten sepertinya disebut Ksatria Es-sama karena dia menggunakan sihir atribut es dan dia selalu tanpa ekspresi. Dia tidak membiarkan emosinya keluar.

Tanpa ekspresi?

Kesanku tentang Kapten adalah dia selalu tersenyum.

“Karena Hawk-sama juga populer, berbagai orang telah mengatakan hal-hal seperti, pengikutnya telah meningkat lagi.”

“Jadi itu artinya, di Akademi dia hanya akrab dengan laki-laki populer, kan?”

“Itu benar.”

Liz meratap sambil meletakkan tangannya di pipinya dan mendesah.

Singkatnya ada kesalahpahaman tentang teman sekelas Liz di Akademi, yang membuat laki-laki populer menunggunya, juga mendekati Kapten.

Tapi itu hanya sesuatu yang dikatakan gadis itu, kurasa tidak ada hubungannya dengan Liz. Jadi kenapa dia tampak murung?

“Kedengarannya sangat suram. Mendengarkan ceritanya, sepertinya Liz tidak terlibat dalam masalah teman sekelas itu. Jadi apa ada yang salah?”

“Yah, para tunangan dari laki-laki di sekitarnya menyuruhku untuk mengatakan sesuatu tentang hal itu, jadi aku sangat terganggu.”

“Itu sesuatu yang harus mereka katakan sendiri, bukan Liz, kan?”

“Mereka sudah memperingatkannya tapi situasinya masih belum membaik.”

“Kalau begitu, meskipun Liz mengatakan sesuatu, bukannya itu mustahil?”

“Yah......”

Melihat Liz terlihat sedih dan murung, entah bagaimana aku ingin membantunya.

Namun aku tidak pernah beruntung dengan cinta jadi aku tidak dapat memikirkan saran untuknya.

Sementara aku memikirkan tentang apa yang bisa dilakukan, Liz berbicara.

“Beberapa hari yang lalu seseorang akhirnya berhenti datang ke Akademi.”

Menurut Liz, tunangan wanita muda yang berhenti datang ke Akademi itu juga salah satu pengikut teman sekelas yang bermasalah.

Karena usianya, wanita muda itu memiliki banyak jerawat di wajahnya dan sepertinya dia telah terganggu oleh penampilannya untuk waktu yang lama.

Dia telah mencoba banyak cara untuk menghilangkan jerawatnya tapi tidak ada yang berhasil. Dia memiliki jerawat sepanjang tahun, jadi dia tidak bisa menikmati modis. Dia polos dibandingkan wanita muda lain di sekitarnya.

Nampaknya suatu hari wanita muda tersebut mendengar tunangannya sendiri memuji si teman sekelas itu.

Liz juga bersamanya pada saat itu jadi dia ingat apa yang laki-laki itu katakan: kulit si teman sekelas itu mulus sehingga dia ingin menyentuhnya, dia selalu terlihat imut, dll. Tetap saja, nampaknya dia memuji penampilannya.

Mereka kebetulan lewat saat hanya orang itu sedang berbicara dan tidak sengaja mendengar. Kemudian wanita muda itu dan Liz pergi sebelum ketahuan.

Wanita muda itu belum pernah dipuji oleh tunangannya sebelumnya. Dia mungkin tidak puas dengan penampilannya karena tunangannya tidak pernah memujinya. Dia menjadi cemas karenanya dan sekarang terbaring di tempat tidur.

Dia terkejut dengan kejadian itu dan dia merasa sedih karena jerawatnya tidak sembut tidak peduli seberapa keras dia mencoba. Hal itu menjadi terlalu berat baginya.

“Kupikir dia akan ceria lagi setidaknya jika jerawatnya sembuh......”

“Yah......”

Aku memikirkan sedikit tentang apa yang dikatakan Liz.

Aku tidak bisa menasihatinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan cinta tapi aku bisa memberikan saran untuk perawatan jerawat.

“Aku mungkin bisa membantumu dengan perawatan jerawat.”

“Sungguh?!”

Liz tiba-tiba tersenyum mendengar kata-kataku.

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepalaku. Selama satu jam, aku menjelaskan tentang perawatan jerawat yang kudengar saat berada di Jepang, secara rinci.

Setelah berpisah dengan Liz, aku kembali ke laboratorium. Setelah selesai bekerja, aku mulai bersiap membuat kosmetik.

Tentu saja produk kosmetik ini untuk wanita yang sedang menderita jerawat.

Saat aku sedang menyiapkan bahan, Jude lewat.

“Kamu membuat produk kosmetik lagi?”

Jude sepertinya menyadari bahwa aku tidak membuat potion dari bahan yang ada di meja kerja.

Aku mengangguk sebagai balasan dari pertanyaan Jude.

“Ya, seseorang memintanya.”

Untuk berhasil membuat produk kosmetik, aku dan Liz juga mengecek tentang produk kosmetik dan perawatan yang pernah dicoba wanita muda itu. Benar saja, produknya menggunakan bahan yang memalukan. Diskusi tentang perawatan meragukan itu seperti sihir juga muncul.

Itulah standar dunia ini dan mungkin ada perawatan yang tepat, tapi sementara dia mencoba perawatanku, aku membuatnya berjanji untuk tidak menggunakan produk kosmetik dan perawatan tersebut.

Aku tidak tahu apa yang akan itu pengaruhi.

Aku memberi tahu Liz poin penting seperti: teknik mencuci muka, diet, waktu tidur dan sebagainya. Tapi hanya untuk pengaman aku memutuskan untuk membuatnya menggunakan produk yang kubuat.

Aku memasukan bahan yang akan mempengaruhi jerawat ke dalam wadah kaca, mengaduk dan memusatkan Magic Power ke dalamnya.

Sambil memusatkan Magic Power-ku, aku tidak lupa berdoa ──pergilah jerawat── dan ──jadilah cantik──.

Aku tidak melakukan ini saat membuat kosmetik untukku sendiri tapi kali ini adalah hadiah.

Saat aku berdoa dengan sangat keras, wadah gelas itu berkilau putih.

Ini belum pernah terjadi sebelumnya, aneh tapi aku tidak dapat menemukan sesuatu yang aneh dalam produk yang telah selesai.

Aku mengambil sedikit dan menyebarkannya ke bagian belakang tanganku tapi aku tidak merasakan rangsangan apapun.

Hanya untuk memastikan aku melakukan tes tempel dan memastikan bahwa tidak ada masalah. Haruskah aku memberikannya pada Liz?

Aku berpikir dan bergerak untuk membuat produk kosmetik berikutnya.

Dua minggu setelah memberikan produk kosmetik ke Liz.

Liz dengan penuh semangat menungguku datang ke perpustakaan.

“Sei! Produk kosmetik itu luar biasa!”

Adalah hal pertama yang dia katakan. Dia menahan suaranya karena kami berada di perpustakaan tapi aku mendekatinya karena dia tidak bisa menahan kegembiraannya.

Omong-omong, sepertinya Liz pergi menemui wanita muda itu pada hari aku menyerahkan produk kosmetiknya.

Lalu dia memberitahunya tentang perawatan jerawat yang didengarnya dariku, memberinya produk itu dan kembali ke rumah.

Wanita muda itu sudah menyerah pada perawatan dan awalnya dia tidak tertarik. Tapi kemudian sepertinya dia benar-benar mencoba perawatan dan produknya dengan benar.

Sehari setelah dia mencobanya, efeknya muncul dan kudengar ada kegemparan di rumahnya.

Dia datang ke Akademi seminggu setelah Liz memberinya produk itu. Sebelum dan sesudah dirinya sangat dramatis sehingga para wanita muda lainnya juga membuat keributan saat melihatnya.

“Lalu terjadi sesuatu yang merepotkan lagi.”

“Sesuatu yang merepotkan?”

Dia bilang itu merepotkan tapi Liz terlihat lebih tenang dari sebelumnya.

Aku memiringkan kepalaku dan dia memberitahuku alasannya.

Aku menyesal setelah mendengarkannya.

Itu memang merepotkan.

“Ada banyak gadis yang menginginkan produk kosmetik yang kuberikan padanya.”

Wanita muda yang jerawatnya benar-benar lenyap, hanya meninggalkan kulit halus, menyulut semangat kecantikan para wanita muda lainnya.

Mereka tahu kalau Liz lah yang memberikannya kepadanya saat mereka membicarakan tentang dimana kosmetik itu didapat dan kemudian semua orang bergegas ke Liz.

Karena produk itu dibuat oleh seorang individu, kudengar Liz menyembunyikan siapa pemasoknya. Tapi mereka terus mengganggunya sehingga menjadi merepotkan.

“Tetap saja aku tidak bisa menyiapkan sebanyak itu.”

“Ya.”

Tentu jumlahnya merepotkan tapi juga tidak mungkin bagiku untuk terus membuat produk kosmetik untuk diberikan.

Kukatakan pada Liz bahwa aku ingin beberapa saat untuk berpikir dan kembali ke laboratorium.

Namun aku tidak bisa membuat rencana sendiri.

Pada saat seperti ini hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan orang lain.

Ya, aku bergantung pada Direktur saat aku dalam masalah.

“Begitulah. Jadi apakah ada pendekatan bagus yang bisa kita gunakan?”

“Kamu sangat mendadak lagi.”

Direktur yang tersenyum pahit saat memikirkan sebuah rencana, adalah orang yang baik, bukan?

Kemudian sebagai hasil pemikiran bersama, kami memutuskan untuk menyerahkan resep produk kosmetik ke sebuah toko yang Direktur kenal dan meminta mereka menjual produk itu di toko.

Produk yang dibuat di toko tidak sama dengan milikku tapi sepertinya masih efektif.

Liz mengatakan kepada orang-orang bahwa itu akan dijual di toko. Para wanita muda yang mengetahui tentang hasil produk kosmetik-ku memberi tahu keluarga mereka dan produknya sangat populer sehingga terjual habis pada hari pertama penjualan.

Tentu saja Direktur menandatangani sebuah kontrak yang menyatakan bahwa persentase proses akan masuk ke lembaga penelitian. Jadi tak perlu dikatakan lagi bahwa anggaran lembaga penelitian melimpah sekali lagi.

──Act 4 END──


Prev | ToC | Next