Tolong matikan adblock dan script blocker Anda untuk melihat halaman ini.

─̶─Jika ingin meng-COPY tolong sertakan sumber :D─̶─


Penerjemah : AOI


Chapter 2

Fukuda Sadaichi
Kumpulan kalimat-kalimat bijaksana tentang seorang karyawan
(
June Paperback)






Agar mobilnya bisa memiliki posisi sejajar dengan toko, aku harus berputar di jalan sekitar. Dengan hati-hati, aku berbelok di tikungan, dan terus menuju jalan yang mengarah ke Stasiun. Di depan tanda yang bertuliskan “Membeli buku-buku tua, menyediakan jasa penilaian”, aku melihat seorang wanita yang berambut panjang. Paduan pakaian musim gugur antara syal dan jaket bulu, menghiasi gaun yang menutupi tubuhnya, dan ditutup tas kanvas buatan tangan yang menggantung di bahunya.

Kuparkir mobil ini tepat di depannya, dan kujulurkan tanganku untuk membuka pintu penumpangnya.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.”

Ketika aku mengatakannya, dia yang sedang berusaha untuk masuk ke dalam mobil, tertegun sejenak. Dengan gugup, dia melipat kruknya, memakai sabuk pengaman, dan memegangi tas yang berada di pangkuannya.

“Sudah siap untuk pergi?” kunaikkan nada suaraku, tampaknya rasa gugupku ini semakin sulit untuk kukontrol.

“Ya...Ayo kita pergi.”

Kuturunkan rem tangan mobil ini dan dengan perlahan mulai menjalankan mobilnya.

Ketika hendak melewati gerbang dari Kuil Engaku, kami disuguhi pemandangan musim gugur. Banyak sekali kerumunan para turis paruh baya di jalanan, membuat macet mobil-mobil yang hendak melintas─̶─ ini adalah pemandangan yang lumrah ketika tiba musim liburan di Kamakura.

“Ini kunjungan kita yang pertama, benar tidak?” kata Shinokawa.

“Apa maksudmu?”

“Pergi bersama seperti ini.”

Akupun terdiam untuk sejenak. Dia memang benar. Kita sangat jarang pergi keluar dari toko berduaan seperti ini.

Meski begitu, itu tidak membuat diriku tersipu malu ketika membayangkan itu.

“Mungkin ke depannya nanti kau akan pergi sendirian. Tapi tidak dalam waktu dekat, tapi tolong belajar dan memperhatikan tentang apa saja yang harus kaulakukan.”

“Oke.” akupun mengangguk.

Meski tampilan kami seperti ini, sebenarnya ini bukanlah kencan atau sejenisnya. Kami sebenarnya sedang berada di mobil box yang sehari-harinya mengisi tempat parkir di Toko Buku Antik Biblia. Kursi bagian belakangnya sengaja dilipat agar bisa membawa barang-barang bawaan kami yang sangat besar.

“Tujuan kita adalah Onarimachi, benar tidak?”

“Benar. Rumahnya cukup besar. Dan kudengar mereka punya perpustakaan pribadi.

Onarimachi adalah nama kompleks pemukiman yang dekat dengan Stasiun Kamakura. Kami menuju kesana dalam rangka perjalanan bisnis untuk membeli buku dan ini merupakan salah wujud dari program “Mendatangi penjual” yang kita adakan.

Setelah melewati persimpangan rel kereta api, aku mulai mempercepat laju kendaraannya karena sudah mulai masuk ke area jalan raya. Ketika mulai masuk area tanjakan bukit, mobil kami berada di belakang sebuah bus yang berwarna orange.

“Apa kau pernah datang ke rumah ini sebelumnya?”

Akupun tertegun untuk sejenak.

“Well...Karena dulunya kami pernah sekelas, jadi...”

Ini bukanlah sebuah kebohongan. Aku mendapatkan request dari teman sekelasku ketika SMA yang ingin menjual beberapa buku koleksi pribadinya ke kita. Karena itulah, kita sekarang menuju ke rumahnya.

Masalahnya, situasinya jauh lebih kompleks dari itu, dan itu membuat kami berdua menjadi gugup.

Semua ini bermula pada dua hari yang lalu.

Ada tempat perbelanjaan kecil di dekat Stasiun Ofune yang berdiri sejak lama. Area perbelanjaan ini berada di ujung jalan, dan toko-tokonya dipenuhi oleh para pembeli di sore ini. Barang-barang mereka sampai tumpah-ruah di jalanan, membuat macet dan mustahil para pejalan kaki disini bisa keluar tanpa menyentuh apapun.

Banyak sekali toko yang menjual makanan segar dan kebutuhan sehari-hari, tapi ketika kau semakin jauh dari Stasiun, maka pemandangan bar-bar yang menjual minuman beralkohol menjadi sebuah hal yang lumrah disini. Ketika hari beranjak petang, lampu-lampu di area ini mulai menyala sebagai pertanda bisnis dimulai, satu persatu. Para karyawan pulang dari tempat kerja dan orang-orang dari area sekitar mulai berkumpul disini.

Ini semua bermulai ketika aku sedang minum-minum di salah satu bar itu. Snack-snack seafood yang murah mulai membanjiri meja kami. Hari itu, aku sedang mengobrol dengan teman semasa SMA-ku.

“Apa kau masih kerja disana? Itu loh, Toko Buku Bekas yang itu?”

Sawamoto, temanku kali ini, mengatakan itu ketika birnya tiba, dan membuka percakapan kami saat itu. Hanya sedikit orang yang bisa sekelas denganku selama tiga tahun berturut-turut di SMA, dan pria di depanku ini adalah salah satunya.

“Karena ada sesuatu, aku berhenti kerja disana. Tapi banyak hal terjadi setelahnya dan akupun kembali lagi bekerja disana.”

“Hm? Dulu waktu terakhir kita bertemu, katamu kau cuma punya satu harapan, dan itupun interview dengan perusahaan makanan yang berada di Saitama.”

Akupun menggelengkan kepalaku. Diapun tersenyum untuk mencairkan suasananya, mungkin dia menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

“Well, aku senang ternyata masih ada teman yang bisa kuajak untuk minum-minum. Tidak banyak orang yang mau diajak minum-minum selain dirimu.”

Dengan santainya, Sawamoto meminum bir di gelasnya.

Selain kuat minum-minum, gaya berpakaiannya yangterlihat seperti turis ini benar-benar membuatku kesal. Sawamoto ini berasal dari keluarga nelayan. Dia dulunya kapten dari Klub Kendo, memberikan kesan sebagai kakak yang bisa diandalkan bagi junior-juniornya di SMA.

Dia dulunya gagal dalam Kejuaraan Nasional, tapi lulus dalam ujian masuk universitas. Setelah lulus, dia memutuskan untuk bekerja di perusahaan elektronik milik asing.

“Kalau kau ada di toko itu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau tidak salah, ada masalah disana, benar tidak? Kudengar pemiliknya diserang oleh stalker.”

Mataku-pun terbuka lebar-lebar.

“Kau ternyata tahu banyak juga.”

Tepatnya, si Stalker ini tidak mengejar Shinokawa Shioriko. Yang dia kejar adalah buku dari Dazai Osamu yang dimiliki olehnya. Si Stalker, Tanaka Toshio, ditangkap, dan karena insiden itu, namanya diberitakan oleh media-media.

Harusnya tidak ada yang tahu keterlibatan Shioriko dan Tokonya dalam insiden itu.

“Itu kan kejadian yang terjadi di kota kelahiranku. Bukankah normal kalau aku setidaknya tahu soal gosip itu?” Sawamoto mengatakan itu dengan keras.

“Jadi, apa yang terjadi dengan pelakunya?”

“Pengadilannya masih berjalan, tapi tampaknya dia sendiri sedang ada di penjara saat ini.”

Kira-kira dia akan dikenai hukuman selama berapa tahun? Tentunya, kasus semacam itu tidak akan membuatnya terkena hukuman mati atau seumur hidup, dan itu artinya aku tidak bisa menyepelekan fakta kalau Tanaka akan berusaha mendekati Shinokawa lagi.

“Jadi benar ya kau berpacaran dengan pemilik tokonya? Pastinya dia cukup cantik ya?”

Akupun tertegun sejenak dan menaruh gelasku. Apa hal semacam itu juga termasuk yang dibicarakan dalam gosip itu? Tidak, sepertinya itu gara-gara jaringan informasi dari Sawamoto yang sangat luas.

“Aku sebenarnya tidak sedang berpacaran dengannya, aku hanya bekerja di tokonya.”

“Itu aneh loh...Yang kudengar itu, katanya kau itu menembaknya setelah berhasil menangkap si pelaku...”

“Itu gosip ngawur, aku tidak menembaknya, hanya saja buku...”

“Buku...?”

“Ah sudahlah.”

Sebenarnya itu adalah cerita tentang bagaimana dia memberikan bukunya kepadaku sebagai upaya agar hubungan kita kembali seperti dulu, tapi kurasa menjelaskan hal-hal semacam itu kepadanya adalah hal yang sulit.

“Tapi kau jelas ada disana bukan sekedar untuk kerja paruh waktu, benar tidak? Pasti ada apa-apanya.”

“...Wah, aku juga ingin tahu seperti apa 'apa-apanya' yang kau maksud itu.”

Dia adalah gadis yang sangat jarang berbicara selain tentang buku. Aku sendiri tidak tahu sedekat apa kami berdua, dan tidak tahu bagaimana aku bisa mengenalnya lebih jauh lagi. Aku belum pernah bertemu gadis yang seperti dirinya. Sawamoto lalu menyatukan kedua alisnya. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganjalnya.

“Ada apa?”

“Sebulan lalu, aku mengobrol tentangmu dengan seseorang. Aku bilang kalau kau sekarang kerja di Toko Buku Bekas, dan aku juga bilang kalau kau sudah punya pacar.”

“Memangnya kau mengobrol dengan siapa waktu itu?”

Si Kousaka.”

Ketika tanganku sedang berusaha mengambil kacang, mendengar nama itu disebut, tiba-tiba tanganku terhenti.

Kousaka Akiho. Selain Sawamoto, gadis itu adalah satu-satunya orang yang pernah tiga tahun berturut-turut sekelas denganku di SMA.

“Kau masih kontak dengannya setelah lulus SMA?”

“Kadang aku menelpon dan mengiriminya SMS.”

Banyak sekali pertanyaan yang mulai muncul di kepalaku. Ketika aku hendak membuka mulutku, seorang pelayan mulai mengisi ulang bir di mejaku dan membawakan ikan mackarel goreng ke meja kami. Sawamoto lalu mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya seperti memikirkan sesuatu.

“Benar juga. Aku kemarin menerima email darinya. Katanya, ada kerabatnya yang baru saja meninggal, jadi dia pulang ke kota ini.”

Sawamoto lalu memakan ikan goreng itu dan meminum birnya.

“Dia bilang mungkin akan mampir kesini ketika aku memberitahunya kalau aku akan minum-minum denganmu hari ini.”

“Ehh...”

Sumpitku hampir jatuh. Wajahku pasti menunjukkan raut wajah yang tidak menyenangkan.

“Apa ada sesuatu?”

“Bukannya ada sesuatu, tapi...”

Hatiku tidak siap untuk ini. Sudah tiga tahun, tidak, mungkin empat tahun sejak pertemuan terakhir kami. Tapi aku merasa sudah 10 tahun terlewati.

Well, tapi itu tidak berarti dia 100% akan datang. Mungkin saja dia masih sibuk dengan pemakaman kerabatnya...Ketika aku berusaha meyakinkan diriku tentang itu, terjadilah─̶─

“Kalau tidak ada sesuatu, lalu ada apa?”

Tiba-tiba aku memalingkan wajahku ke asal suara itu, dan disana ada seorang wanita kurus yang sedang berdiri. Dress biru dan mantel beige yang dipakainya memang mengesankan kalau dia sedang ada urusan formal dengan sanak keluarganya disini. Rambutnya yang sebahu tampak berkibar, dan dia memakai make-up yang tipis.

“Daisuke, sudah lama sekali.”

Kousaka Akiho tersenyum lebar sambil menunjukkan deretan giginya. Caranya tersenyum yang seperti itu, benar-benar tidak berubah sejak dulu.


***


Sakamoto dan diriku dulunya saling kenal gara-gara posisi nama kami sering berdekatan ketika melihat daftar siswa dalam satu kelas. Itu pula yang membuat kami seringkali duduk berdekatan. Kalau Kousaka Akiho, bisa jadi kursinya dekat denganku, tapi aku tidak begitu ingat soal itu. Dia tiba-tiba bergabung ke diskusi kami tanpa aku sadari.

Dia memiliki bibir berwarna pucat yang terkesan sensual, sehingga dia terlihat menarik. Dia juga, memiliki nada suara yang bisa menghidupkan suasana. Sikapnya lembut, tapi tegas, dan kadang dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Dia terlihat lebih dewasa dari gadis-gadis seumurannya.

Berbeda dengan Sawamoto yang sibuk dengan aktivitas Klub Kendonya, Akiho dan diriku tidak ikut Klub. Meski kita sering mampir ke restoran keluarga yang berada di depan Stasiun Ofune dimana dia biasa bekerja, kami sebenarnya benar-benar mengenal dekat ketika Liburan Musim Panas kelas dua SMA. Kami sering bertemu di perpustakaan dan menyelesaikan PR kita disana.

Gara-gara Sawamoto yang mulai berpacaran dengan juniornya di Klub Kendo, kami akhirnya sering menghabiskan waktu kami bersama-sama. Kami tidak punya hal-hal yang kami sukai bersama, dan karena kami bukan tipe orang yang suka mengobrol, kami hanya mengisi pembicaraan kami dengan apa yang terjadi di sekolah selama ini. Ketika memasuki musim gugur, kita seperti dua orang yang sulit untuk dipisahkan. Bahkan, gosip tentang kami yang berpacaran sudah menyebar jauh hari sebelum kami mengungkapkan perasaan kami masing-masing. Sebelum musim dingin tiba, gosip itu mulai sampai ke telinga kami. Tidak seperti diriku yang merasa malu-malu dengan gosip itu, Akiho tetap terlihat tenang.

Dia benar-benar orang yang sulit diduga. Lalu suatu hari, ketika kami sedang berjalan pulang dari sekolah, tiba-tiba dia berkata.

“Setelah ujian selesai, mau tidak kalau kita mulai berpacaran saja?”

Waktu itu, kupikir aku sangat terkejut dan tidak bisa mengatakan apapun, akhirnya aku bisa mengatakan sesuatu, dan itu kukatakan dengan terbata-bata. Itu adalah pertamakalinya kami mengatakan perasaan kami.

Seperti yang kauduga dari pasangan yang sedang belajar untuk ujian, kamipun bersikap seperti itu. Kadang kami jalan-jalan sepulang les dan mampir ke pabrik kosong sambil bergandengan tangan. Tangan dari Akiho lebih kecil dariku, meski begitu aku merasa kalau tangannya lebih hangat dari yang kuduga.

Musim semi tahun berikutnya, aku akhirnya diterima masuk jurusan ekonomi dari Universitas yang tidak terkenal. Sedang Akiho sendiri diterima masuk jurusan literatur di Universitas Negeri. Tapi, dia malah berakhir di jurusan seni fotografi di Universitas Swasta. Sikapnya yang mengumumkan diri kalau dia harus menjadi fotografer bagaimanapun caranya, membuat diriku dan orang-orang sekitarnya terkejut.

Memang, kadang dia membawa kamera SLR ketika kami berkencan, dan dia bekerja paruh waktu hanya untuk mengganti lensa kameranya. Meski begitu, aku yakin kalau itu hanyalah sekedar hobinya saja.

Kupikir, itu adalah awal mulanya aku mulai merasakan keretakan dalam hubungan kami. Mengapa Akiho tidak pernah memberitahuku hal ini? Apa aku ini tidak benar-benar memahami dirinya? Meski begitu, aku senang karena kita akhirnya terbebas dari ujian, dan perasaan tidak nyaman itu tiba-tiba hilang begitu saja.

Kousaka Akiho tidak begitu suka membicarakan keluarganya. Kedua orangtuanya bercerai dan dia tinggal bersama ayahnya. Dia tidak begitu menyukai ayahnya. Hanya itulah yang kutahu tentangnya, dan itupun aku mendengarnya secara sepotong-sepotong─̶─ semacam informasi yang tidak begitu jelas.

Dia memiliki jam malam yang ketat, dan sangat mengganggu. Bahkan ketika dia bersekolah di Tokyo, dia harus pulang ke Kamakura sebelum jam 8 malam, tidak peduli apapun itu. Kampusnya sendiri ada di daerah Nerima, Tokyp dan butuh tiga jam baginya untuk bolak-balik. Dia tidak punya waktu luang sama sekali selama kuliah.

Meski dia tidak menyukainya, Akiho masih mematuhinya. Meski begitu, dia pernah pulang terlambat ketika kami pergi berkencan di Motomachi, Yokohama. Kita pergi melihat gereja tua di bukit, dan akhirnya tersesat untuk pulang. Meski sudah terburu-buru untuk naik Kereta Negishi, waktu sudah menunjukkan lewat dari jam 8 malam sesampainya di Kamakura.
 
Aku tidak menuruti permintaannya yang memintaku untuk cukup mengantarnya sampai Stasiun, tapi aku memutuskan untuk menemaninya sampai ke rumah. Dia tinggal di kompleks pemukiman yang berada di Onarimachi, dan akupun terkejut melihat sebuah mansion yang dia sebut rumah. Gerbang yang luar biasa besar dan kebun besar bergaya Jepang membuatku terkagum-kagum. Tapi yang membuatku terkejut sebenarnya adalah keluarga yang menunggunya disana.

Seorang pria tua pendek yang berdiri di atas jalan setapak, sambil menyilangkan lengannya. Rambut pendeknya yang berwarna abu-abu tampak sangat necis, sedang baju tradisional Jepang yang berwarna gelap itu tampak bagus dipakai olehnya. Dia ini, sepertinya ayah dari Akiho, kepala keluarga di rumah ini. Tatapannya terlihat sangat dingin.

“Senang bertemu dengan anda. Nama saya Goura Daisuke.”

Tentunya, aku tidak datang kesini untuk sekedar mampir dan menyapa. Kubungkukkan tubuh dan kepalaku dengan sangat rendah.

“Saya tadi tersesat dalam perjalanan pulang bersama Akiho. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Tidak ada respon apapun.

Secara perlahan, aku tegakkan kepalaku. Orang tua ini tiba-tiba menggerak-gerakkan dagunya ke arah rumah kepada Akiho. Dia lalu pergi ke arah rumah dan Akiho terburu-buru untuk mengikutinya dari belakang. Aku ditinggalkan begitu saja di gerbang. Aku yakin, kalau malam itu adalah titik balik hubungan kami berdua.

Tepat sebelum musim hujan tiba, Kousaka Akiho pindah dan hidup sendiri, di suatu tempat yang dekat dengan Tokyo. Fakta kalau dia kini bebas melakukan apapun membuatku senang. Sekarang, tidak ada seorangpun yang bisa menggagalkan kemesraan kita berdua.

Meski begitu, setelah dia pindah, kami malah jarang bertemu.

Dia ternyata harus bekerja paruh waktu di beberapa tempat untuk membayar sewa tempat tinggalnya. Di saat yang bersamaan, aku juga masuk ke Klub Judo di Universitas dan menghabiskan mayoritas waktuku untuk fokus mendapatkan sabuk.

Karena kami mulai sulit untuk bertemu, jarak antara pertemuan selanjutnya mulai terasa semakin lama. Setiap kali kita bertemu, dia tampak seperti orang yang kelelahan dan senyumnya mulai jarang terlihat.

Jika seandainya dia mau bercerita tentang apa yang membuatnya lelah dan apa saja yang membuatnya tidak bahagia, mungkin kita bisa mengatasinya. Tapi, dia tidak mau menunjukkan kepada orang lain seberapa lemah dirinya. Setiap kali kita pergi berkencan, aku tidak pernah melihatnya meminta saran kepadaku. Akupun juga merasa kalau aku tidak bisa melakukan apapun untuk bisa memahaminya. Seandainya saja kita berdua adalah dua orang anak kecil, mungkin semuanya akan terasa mudah, tapi, dengan situasi sekarang ini, aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menjembatani situasi ini.

Musim panas yang aneh dan tidak bisa melakukan apapun akhirnya telah terlewati, dan SMS yang kuterima darinya mulai berkurang ketika musim dingin tiba. Meski dia tidak mengatakan apapun, aku sendiri yakin kalau hubungan kami berdua sudah berakhir Meski begitu, aku merasa takut melihat diriku yang selama ini berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja. Bagi pasangan yang berpacaran sejak SMA dan akhirnya terpisah oleh tempat kuliah yang berbeda─̶─ munculnya jarak dan berakhir dengan putus merupakan cerita yang cukup umum.

Meski begitu, aku tetap ingin tahu dimana tempat sebenarnya kaki kami berdua berpijak. Pertemuan terakhir kami terjadi di malam sebelum natal, di taman umum dekat Stasiun Ikebukuro. Dia terlihat lebih kurus dan sangat letih. Mungkin untuk jaga-jaga ada momen yang bagus untuk diabadikan sebagai foto, dia membawa kamera SLR yang dia gantung di lehernya.

“Kita sudah berteman sejak kelas satu SMA, tapi kalau terus begini, hubungan kita bisa berakhir.”

Setelah mempertimbangkan ini dan itunya, aku akhirnya mengatakan apa yang kurasakan selama ini. Aku tidak tahu harus melakukan apalagi.

“Kalau kau merasa tidak bisa berkencan lagi denganku, maka katakan dengan jelas kalau kau ingin putus.”

Tempat ini sangat dingin dan salju tampaknya akan turun sebentar lagi. Matahari sudah tenggelam dan tidak ada seorangpun lagi selain kami di taman ini. Embusan napas kami terlihat berwarna putih karena cuaca dingin ini.

“Yah, seperti katamu tadi.”

Setelah diam sejenak, dia akhirnya mengatakan sesuatu. Nada suara yang sama ketika pertemuan pertama kami dulu, akhirnya terdengar lagi.

“Mungkin memang lebih baik jika kita tetap berteman saja seperti dulu.”

Kata-kata tersebut adalah akhir dari hubungan kami.

Dia bilang kita hanya akan menjadi teman saja, tapi kami tidak pernah saling berhubungan lagi setelah itu. Aku sendiri baru sadar setelah itu kalau kami selama ini tidak pernah mengucapkan “Aku mencintaimu” selama kami berpacaran.

“...Dulu aku belum terbiasa hidup sendiri, dan bekerja paruh waktu benar-benar melelahkan, tahu tidak,”

Akiha mengatakan itu sambil meminum lemon di gelasnya. Dia sudah meminum setengah dari isi gelasnya.

“Tentunya, aku tidak begitu saja bolos kerja dan kuliah...Situasi menjadi buruk, bahkan aku sudah tidak punya waktu lagi untuk orang lain.”

“Ah, kupikir aku paham maksudmu. Situasinya berubah dan kau kewalahan, sejenis itu ya.” Sawamoto berusaha menebak makna kata-katanya barusan.

“Meski begitu, aku terus berpikir kalau aku harusnya bisa memperlakukan Daisuke lebih baik. Kalau pada akhirnya situasinya berubah dan aku tidak bisa menatap matanya lagi karena apa yang sudah terjadi...”

“Bukankah kita semua ada disini, benar tidak?”

Kugunakan jari telunjukku untuk menunjuk ke wajah kami bertiga sambil meminum gelas bir keduaku. Untunglah, kita bisa bereuni selama sepuluh menit. Aku tidak berharap kalau kita akan membicarakan hal-hal yang serius disini.

“Ah, begitu ya...Maaf soal itu.”

“Tidak perlu minta maaf lah.”

Bukannya aku marah tentang hal itu. Bahkan aku sendiri paham kalau itu adalah situasi yang sudah tidak bisa tertolong lagi.

Kami berdua saling menatap untuk sejenak dan Akiho langsung memasang senyum yang lebar. Kira-kira apa dia memang selalu seperti ini? Di masa lalu dia terlihat seperti tenang dan terkontrol, tapi saat ini dia terlihat terbuka.

“Jadi Kousaka, katanya kau sekarang sudah bekerja? Memangnya kau kerja dimana?”

Sawamoto langsung mengganti topiknya. Dia menanyakan itu dengan cepat, seperti orang yang bisa membaca suasananya dengan baik.

“Di studio fotografi, daerah Sangenjaya. Seniorku menceritakan hal-hal bagus tentangku kepada pemiliknya dan sekarang aku bekerja disana sebagai asisten.” kata Akiho.

“Dan, well, sebenarnya gajinya tidak begitu bagus, tapi setidaknya sekarang aku bisa mengambil foto dengan serius. Aku akan memberi kalian alamat websitenya nanti, aku juga mengupload karya-karyaku di internet...”

Dia kemudian mulai antusias bercerita tentang pekerjaannya. Dia bercerita kalau baru saja mengunjungi sebuah apartemen tua yang dibangun di era Showa, dia hendak mengambil gambar pemukiman-pemukiman di sekitarnya juga. Tampaknya, dia benar-benar berusaha keras agar menjadi fotografer profesional.

Kalau dibandingkan dengan dirinya di masa lalu, dia yang saat ini tampak lebih banyak berbicara dan juga lebih baik dalam berinteraksi dengan orang-orang. Aku bisa tahu kalau lingkungan kerjanya saat ini dipenuhi oleh orang-orang yang berdedikasi. Sambil mendengarkan ceritanya, secara tidak sadar aku mulai penasaran dengan cerita asmaranya. Ini sangat mengejutkan diriku karena aku secara tidak sadar tertarik dengan hal itu. Dengan siapa dia sekarang, padahal itu tidak ada hubungannya lagi denganku.

“Jadi, pacarnya Daisuke ini adalah wanita yang lebih tua dan pemilik Toko Buku Antik di Kita-Kamakura?”

Seperti mengetahui kalau aku sedari tadi hanya terdiam, Akiho mengganti topiknya.

“Soal itu...Sepertinya mereka belum berpacaran.”

Orang yang mengatakan itu tidak lain adalah Sawamoto.

“Huh? Kupikir malah itu benar adanya karena infonya dari mulutmu langsung.”

“Dia tuh cuma kerja paruh waktu di tokonya, tidak kurang tidak lebih. Itu semacam situasi yang kompleks.”

“Ah, begitu ya. Well, kenapa kita tidak mampir ke tokonya dan berusaha jodohkan mereka?”

Mereka berdua yang tersenyum jahil, sedang berusaha menjadikanku bahan becandaan mereka.

“Kalian berdua ini kepo.” kataku.

Eh eh, kita ini mampir kesana bukan jahilin, tapi benar-benar ada urusan loh.”

“Bukankah lebih enak kalau mendiskusikannya disini? Kau juga bisa meminta saran dari kami.”

“Benar, benar. Kami akan memberikanmu saran kapanpun kau butuh.”

Sawamoto dan rekannya malah semakin antusias. Sepertinya, mereka berencana untuk membullyku sampai akhir acara. Belum lagi efek dari alkohol yang mulai terasa, suasananya menjadi sangat cair. Ini mengingatkanku dengan berbagai obrolan kami ketika kami masih SMA dulu.

Ketika aku melihat ke arah wajah Akiho yang tenang itu, topik kini beralih kepada dirinya.

“Apa tidak masalah mabuk-mabukan disini bersama kita? Bukannya kau katanya ada kerabat yang meninggal?”

“Hari ini pemakamannya dan, well...Sepertinya semuanya akan baik-baik saja jika aku tidak ada disana, jadi aku pergi keluar ketika acara makan malam bersama.”

Biasanya, tidak ada yang baik-baik saja jika ada seseorang yang pergi meninggalkan acara makan malam bersama. Mungkin, di masa lalu, dia tidak begitu akrab dengan kerabatnya.

“Meski begitu, kami belum mendengarnya darimu. Memangnya, siapa yang meninggal?” tanya Sawamoto. Dia mulai meminum bir dari gelas ketiganya.

“Ayahku.” Akiho menjawabnya dengan santai.

Suasana yang santai dan cair tiba-tiba menghilang. Ini adalah pertamakalinya aku mendengar kalau ayahnya ternyata selama ini ada di Kamakura. Sawamoto dan diriku tiba-tiba menurunkan gelas kami secara perlahan dan mulai menunjukkan simpati kami. Akiho lalu menggelengkan kepalanya dan melambai-lambaika tangannya.

“Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Maaf ya, aku sudah membuat kalian susah. Aku tahu kalau kesehatannya belakangan ini memburuk, dan aku sendiri tidak punya waktu untuk bersama dengannya.” Dia mulai menceritakan kepada kami tentang keluarganya.

Ini mengingatkanku dengan suatu malam ketika aku menemani Akiho pulang ke rumahnya setelah lewat batas jam malam. Yang ada disana waktu itu adalah seorang pria tua yang berdiri di gerbang. Dugaanku, ayahnya sengaja berdiri disitu menunggunya. Dia menunggu putrinya hingga pulang.

“Aku sebenarnya datang kesini untuk berbicara ke Daisuke tentang sesuatu.”

Akiho lalu melihat ke arahku, tiba-tiba ekspresinya berubah serius.

“Huh?” detak jantungku mulai bertambah kencang. Memangnya apa yang hendak dia katakan?

“Aku berusaha menghubungimu lagi, tapi nomor HP dan emailmu ternyata sudah berubah.”

“Ah.”

Dulu, setelah lulus kuliah dan mencari kerja, aku berganti HP dan nomor. Aku sendiri sudah tidak punya nomor Akiho. Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya setelah putus, jadi aku hapus nomornya.

“Memangnya kau mau membicarakan apa?”

Kuputuskan untuk waspada kali ini. Seorang gadis yang putus denganku empat tahun lalu dan sekarang mencoba menghubungiku─̶─ pasti bukan untuk membicarakan hal yang normal. Kecuali kalau ini membahas sekte keagamaan atau hendak mengajakku untuk ikut MLM.

Juga ada satu kemungkinan lagi.

Apa yang akan kulakukan jika dia mengatakan sesuatu seperti, “Bagaimana kalau kita coba lagi hubungan kita yang dulu?”


Tentunya, aku sudah punya Shinokawa Tunggu dulu, aku SUDAH PUNYA Shinokawa?


Bukannya kita resmi berpacaran sih. Seperti kata Sawamoto tadi, ini adalah situasi yang kompleks.

“Ini soal pekerjaanmu,” kata Akiho.

“Huh? Pekerjaanku?”

“Benar, ini soal toko tempatmu bekerja. Aku punya beberapa buku tua yang ingin kujual.”

Seluruh tekanan tiba-tiba hilang dari bahuku. Aku ternyata terlalu melebih-lebihkannya. Kuturunkan kewaspadaanku dan sekarang aku sendiri yang merasa malu. Aku selalu berpikir berlebihan tentang sesuatunya.

“Buku-buku peninggalan almarhum ayahku, aku ingin menjualnya. Ke Toko Buku Antik Biblia.”


***


Shinokawa dan diriku melewati sebuah SD di Onarimachi. Gerbang SD itu sangat megah, seakan-akan merasa sedang menonton sinetron tentang jaman dulu dimana Jepang masih berupa kerajaan. Menurut warga setempat,dulu disini ada kompleks villa yang sering dikunjungi oleh keluarga kerajaan.

Rumah Akiho sendiri berada di dekat SD ini. Sebuah rumah bergaya Jepang yang mencolok, dengan atap berwarna abu-abu. Tidak ada yang berubah sejak terakhir kalinya diriku kesini. Kuparkir mobilku di salah satu sudut di dekat pintu masuk gerbang utama. Shinokawasendiri berjalan menggunakan tongkat sebagai alat bantunya, dan derap langkahnya terlihat tidak stabil ketika keluar dari mobil. Sepertinya, berjalan di jalan setapak yang terbuat dari batu akan memberinya masalah yang serius.

“Apa kau tidak apa-apa?”

“A-Aku tidak apa-apa.”

Secara perlahan, aku berjalan di samping Shinokawa. Rencananya, aku akan jaga-jaga di dekatnya seandainya saja dia jatuh.

Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku melihat kebun dengan rusa-rusa yang berlarian dan dihiasi lampion batu ini. Seperti kesan pertamaku ketika datang kesini, siapapun yang tinggal disini pasti keluarga yang sangat kaya. Kalau kau cermati danau yang ada disini, maka kau akan bisa melihat kumpulan ikan mas yang berenang di air.

“Kira-kira, mengapa ya pemiliknya memilih untuk menjual ke toko kita?”

Shinokawa menggumamkan itu sambil melihat ke arah kedua kakinya.

“Apa maksudmu?”

“Banyak sekali Toko Buku Bekas di sekitar sini. Kenapa dia memilih toko kita?”

“Katanya, itu wasiat dari almarhumah pemilik buku itu sebelumnya. Apa dulunya si pemilik sebelumnya pernah menjual buku-buku ke kita?”

Ayah Akiho ini pemilik sebuah franchise restoran di propinsi ini, tapi dia jatuh sakit dan hanya berada di rumahnya dalam beberapa tahun belakangan. Menurut gosipnya, dia adalah orang yang cerewet dan suka memberikan instruksi detail tentang menangani perpustakaan pribadinya.

Proses penanganan warisan dan aset pasti akan diurus dengan cepat setelah proses pemakaman selesai dan kini semuanya sudah selesai. Properti-properti ayahnya pasti akan dibuatkan daftar berikut harga-harganya. Barang-barang yang tidak memiliki nilai yang jelas akan dikesampingkan dulu untuk sementara. Dugaanku, mereka merasa kalau mengurusi properti yang berada di perpustakaan adalah sebuah masalah yang kompleks.

Aku tidak mendapatkan info-info detail tentang judul koleksi buku apa yang hendak dia jual. Akiho hanya menyebutkan kalau ada beberapa novel sejarah, dan selain itu dia tidak tahu jenis-jenis buku yang lainnya. Dia juga bilang kalau dia tidak punya kerabat yang tahu banyak tentang buku.

“Aku sendiri tidak yakin kalau aku pernah bertemu dengan almarhumah, tapi ada kemungkinan kalau beliau itu adalah pelanggan toko ketika Ayahku masih mengurusi toko.”

Kami berdua berhenti di depan pintu masuk.

Tidak ada tanda-tanda adanya penghuni di dalam gedung─̶─ tidak, aku mendengar suara alunan piano yang lemah dan berasal dari dalam gedung.


Apa Akiho yang memainkannya?


Aku tidak pernah dengar kalau dia mengambil les piano, tapi itu tidak mengejutkanku kalau dia punya sisi lain yang tidak kuketahui setelah lama tidak bertemu. Ini adalah alunan lagu yang indah dengan tempo yang lambat.

Shinokawa yang berdiri di depan pintu geser, menekan tombol bel rumah. Musik dari piano tiba-tiba berhenti dan mulai terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu.

Sesosok orang mulai terlihat dari balik kaca pintu. Pintu geser terbuka dan orang yang berdiri disana adalah...

...Bukanlah Akiho.

“Buset?!”

Seorang wanita berusia 40-an dengan rambut yang sedikit beruban, memakai kimono datar berwarna coklat dengan ikat pinggang berwarna abu-abu, berdiri disana dan menatap ke arah kami. Ekspresi wajahnya sangat tajam dan tatapannya benar-benar tegas.

“Boleh tahu ada keperluan apa?”

Dia menanyakan itu dengan tegas. Sulit rasanya membayangkan kalau wanita ini adalah orang yang baru saja memainkan musik yang indah barusan. Kau bahkan tidak bisa menduganya hanya dari melihat tampilannya saja.

Shinokawa mengambil satu langkah ke depan dan menundukkan kepalanya. Setelah itu, dia mengatakan sesuatu dengan wajah yang memerah.

“Terima kasih sudah menyambut kami dengan ramah. Kami berdua berasal dari Toko Buku Antik Biblia, kami datang kesini untuk membeli buku-buku si pemilik rumah.”

Aku sendiri ragu menyebut sikap wanita ini sebagai sikap yang ramah, tapi kurasa tidak masalah kalau hanya sekedar basa-basi.

“Ah, jadi kalian ya orang yang diminta Akiho untuk datang.”

Meski sekilas, aku melihat sebuah perasaan tidak nyaman ketika wanita ini menyebut nama Akiho. Aku tidak tahu mereka berdua punya hubungan yang semacam apa, tapi sepertinya mereka berdua tidak memiliki hubungan yang akrab.

“Silakan masuk, lewat sini.”

Dia mempersilakan kami untuk masuk ke dalam rumah. Dengan dibantu tongkat, Shinokawa secara perlahan melepas sepatunya dan menaruhnya di dekat pintu.

“Pasti susah ya kalau punya kaki yang bermasalah.”

Dia mengatakan itu dengan santainya seperti sedang meminta Shinokawa untuk cepat-cepat.

Shinokawa dan diriku sekarang berada di dalam rumah dan wanita berkimono ini mulai memandu kami di lorong.

“Buku-buku tersebut ada di perpustakaan yang ada di depan.” Dia mengatakan itu tanpa menoleh ke arah kami berdua.

“Uh...Umm jika diperbolehkan, kami ingin menyalakan dupa untuk mendoakan almarhumah...Apa tidak apa-apa?”

Wanita yang memakai kimono ini tiba-tiba menoleh ke arah kami dan menatap kami dari balik bahunya. Ekspresinya benar-benar tidak bisa dibaca, sangat sulit menerka apa yang sedang dipikirkannya.

“Terima kasih atas kebaikan dan simpati anda. Saya akan menunjukkan tempatnya.”

Dia kemudian membuka pintu geser yang berada di sampingnya dan masuk ke dalamnya. Ruangan ini bergaya Jepang. Ada sebuah jendela besar mengarah ke kebun. Kami bisa melihat kolam ikan dan batu-batu hias dari tempat kami berdiri.

Ruangan tokonoma ini memiliki sebuah altar besar. Ada sebuah tempat berdoa yang memiliki abu dari almarhumah, biasanya ditaruh disana selama periode tujuh minggu sejak meninggalnya beliau. [note: tokonoma adalah ruangan utama dalam rumah tradisional Jepang, biasanya dipakai untuk ruang tamu. Anda bisa mengenalinya dengan mudah, biasanya ada ruangan kecil untuk menaruh guci, hiasan bunga buatan tangan, benda-benda pusaka, ataupun altar untuk berdoa.]

Karena banyaknya bunga-bunga yang berada di altar, foto dan tempat abu almarhumah sangat sulit untuk dilihat. Dulu, setelah nenekku meninggal, altar yang serupa juga dibuat di rumahku, jadi aku tidak begitu terkejut dengan pemandangan ini. Hanya saja, tampilan altar untuk orang kaya dan orang seadanya seperti keluarga kami memang terlihat jelas.

Kami berdua duduk di depan altar untuk membakar dupa. Karena Shinokawa statusnya adalah pemilik toko, maka Shinokawa mendapat giliran pertama. Ketika tiba giliranku, kurendahkan kepalaku di depan altar dan melihat ke arah foto almarhumah. Ini mungkin pertamakalinya aku berani melihat langsung wajah ayah Akiho.

“Buset?!”

Secara spontan, aku mengatakan itu. Orang yang ada di foto adalah seorang pria beruban yang memakai baju tradisional Jepang. Tulang pipinya memang agak mirip dengan wanita yang berkimono tadi, tapi bentuk matanya yang sipit itu memang mirip Akiho. Ekspresi wajahnya jauh terlihat ramah daripada terakhir kali aku melihatnya. Ini adalah orang yang berdiri di halaman rumah ketika aku menemani Akiho pulang malam itu.

“Goura-san.”

Shinokawa memanggilku dengan lemah. Kesadaranku-pun kembali. Kuselesaikan proses mendoakan ini, berdiri, dan meninggalkan area altar. Jadi pria tua yang kutemui tempo hari itu benar-benar ayah Akiho. Dia mungkin berusia 60, tidak, mungkin 70 tahun ketika aku pertamakali bertemu dengannya.

“Apa ada sesuatu dengan ayahku...?”

Suara dari wanita berkimono yang sedang berdiri di sampingku terdengar olehku. Akupun mengatakan sesuatu.

“Ah, tidak ada apa-apa. Maaf.”

Kami kemudian meninggalkan ruangan bergaya Jepang itu dan berjalan menuju perpustakaan. Suara hentakan tongkat dari Shinokawa menggema di lorong. Aku sendiri yang berjalan di belakang kedua wanita di depanku, mulai memikirkan situasi dari keluarga Akiho.

Wanita yang memakai kimono ini baru saja memanggil almarhumah dengan sebutan ayah. Dia tidak cukup tua untuk bisa disebut Ibu dari Akiho, dan itu menyisakan satu kemungkinan,yaitu dia ini mungkin adalah kakaknya. Tentunya, mereka punya Ibu yang berbeda, dan itu membuat status mereka seperti setengah saudara.

Aku kini mengerti mengapa Akiho tidak begitu akrab dengan kerabatnya, dan mengapa dia pergi begitu saja pada acara makan malam setelah pemakaman. Dia pernah bilang kalau orangtuanya sudah tidak lagi bersama, tapi dia tidak pernah bilang apakah mereka bercerai atau bagaimana. Bagaimana jika...

“Untung saja saya ingat, ada sesuatu yang saya ingin kalian waspadai.”

Wanita yang berkimono itu berhenti tepat di depan sebuah pintu yang berada di ujung lorong dan membalikkan tubuhnya. Sepertinya, perpustakaan berada di balik pintu tersebut.

“Saya dulu pernah mendengar ayah berbicara kepada kenalannya di telepon. Sepertinya ada sebuah buku yang berharga ratusan ribu Yen diantara koleksi yang berada di perpustakaan. Kami sendiri tidak tahu buku yang mana, tapi kalau kalian menemukan bukunya, tolong berikan penilaian kalian tentang buku itu.”

Dia mengatakan itu sambil menatap tajam ke arah kami berdua. Sangat jelas kalau dia hendak mengatakan kepada kami kalau dia tidak akan memaafkan kami jika kami menyebut harga buku itu kurang dari harga pasarannya.

Caranya mengatakan itu benar-benar terasa tidak menyenangkan. Terutama bagi seseorang yang mengetahui informasi itu dari menguping secara diam-diam percakapan telepon ayahnya.

“Tentu saja, kami akan berhati-hati untuk masalah itu.”

Shinokawa mengatakan itu dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. Seperti biasanya, dia mengatakan itu dengan perlahan, tapi entah mengapa dia tampak sangat antusias hari ini.

“Oh, aku sangat menghargai itu.”

Merasa puas akan jawabannya, kakak Akiho membukakan pintunya. Ruangan ini sangat luas dan bergaya barat, dengan lantai yang terbuat dari kayu. Suasana ruangannya terasa remang-remang, dengan pencahayaan dari matahari yang sangat minim. Untuk melindungi koleksi buku mereka agar tidak rusak oleh cahaya matahari, banyak orang yang membuat posisi perpustakaan mereka menghadap ke arah utara.

Tiga sisi dinding ruangan ini memiliki rak-rak buku. Juga ada beberapa kardus yang ditumpuk di atas lantai. Akiho sendiri sedang ada di ruangan ini, mengambil beberapa buku dari kardus tersebut ketika kami berjalan masuk ke ruangan. Rambutnya diikat agar memudahkannya beraktivitas dan dia memakai sweater bergaris dikombinasikan dengan jeans. Ini jauh lebih cocok dengan dirinya daripadadress yang dia pakai tempo hari.

“Ah, Daisuke, kau sudah datang ya.”

Dia lalu berdiri dan menatap ke arah Shinokawa.


Entah mengapa, aku merasa kalau aku harusnya segera kabur dan meninggalkan tempat ini.


“Terima kasih telah memanggil kami. Nama saya─̶─

“Shinokawa Shioriko, benar tidak?” kata Akiho, seperti hendak mengkonfirmasi.

“Be-Benar.”

“Aku Kousaka Akiho. Dulunya, aku teman sekelas dari Daisuke.” Akiho mengatakannya sambil menatap ke arahnya.

Shinokawa hanya terdiam, hanya menatap ke arah lantai ruangan ini. Dia tampak mulai kurang nyaman dengan situasi ini. Sedang Akiho sendiri hanya tersenyum.

“Ternyata dia manis juga. Cocok denganmu, Daisuke.”

Kenapa dia membuatku berada dalam posisi ini? Aku harus bereaksi seperti apa?

“Ruangan ini sangat berdebu. Akiho, setidaknya buka jendelanya.”

Wanita yang memakai kimono itu tampak kurang senang dan berbicara.

Di ruangan ini ada beberapa tumpukan besar dari kardus-kardus yang ditumpuk begitu saja di lantai. Debu-debu itu pasti berasal dari kardus-kardus ini.

“Ini kan cuma masalah jendela saja, kenapa tidak kau buka saja sendiri?”

Akiho tersenyum dan merespon kakaknya tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.

“Kau ini selalu komplain tapi tidak pernah melakukan sesuatunya.” tambah Akiho.

Aku merasa kalau suhu dalam ruangan ini tiba-tiba berubah menjadi dingin. Ini membuaku memikirkan permainan pianonya barusan. Kakaknya sedang menikmati permainan pianonya, sedang Akiho sendiri disini bergumul dengan debu.

“Sungguh absurd. Kaulah yang disuruh ayah untuk menangani koleksi buku-bukunya. Kau juga yang memberitahu ayah soal Toko Buku itu, apa kau lupa?” wanita yang berpakaian kimono itu tampak tidak terpancing emosinya dan menjawabnya dengan santai.

“Kau ini benar-benar suka menguping pembicaraan orang. Kebiasaan yang buruk sekali.” Senyum Akiho tiba-tiba menghilang. Dia tidak mau kalah ke kakaknya dalam hal ini.

“Aku hanya kebetulan saja punya pendengaran yang bagus. Kau dan ayah selalu berbicara dengan keras dan berakhir dengan perdebatan setiap kali bertemu.”

Tiba-tiba, kakaknya menyadari kalau ada orang luar yang berada di ruangan ini. Dia lalu menatap ke arah kami dan memasang ekspresi meminta maaf.

“Maaf karena kami sudah menunjukkan sesuatu yang tidak pantas kepada kalian, kuharap kejadian tadi tidak membuat kalian merasa kurang nyaman.”


Mustahil lah!


“Ngomong-ngomong, kuserahkan ini kepadamu. Tolong beritahu aku harga buku yang itu setelah mereka menemukan dan menilainya. Jangan lupa, jangan sampai salah harga.”

“Aku tahu itu, Mitsuyo.”

Kakak dari Akiho, Mitsuyo, tersenyum sinis sambil berjalan meninggalkan ruangan ini. Akiho sendiri, meresponnya dengan sinis. Ekspresi keduanya memang mirip satu sama lain.

Sambutan luar biasa dari tuan rumah sudah berakhir, dan kami bertiga ditinggalkan begitu saja di ruangan ini. Akiho lalu menatap kami berdua dan menundukkan kepalanya.

“Kalian harusnya tidak perlu disuguhi adegan tadi. Maaf ya.”

“Tidak, tidak, tidak apa-apa.”

Meski mengatakan itu, Shinokawa masih belum bisa menyembunyikan keterkejutannya. Kami ini datang kesini hanya berniat untuk membeli buku. Jadi dia tidak menduga kalau akan disuguhi argumen panas antara anggota keluarga.

“Apa setiap harinya seperti itu jika bersama kakakmu?”

“Sudah sedari dulu selalu seperti ini. Eh, tahu tidak, aku ini sebenarnya anak diluar nikah dari ayahku.”

Kamipun terdiam. Terdengarlah suara alunan piano, berasal dari rumah ini yang berada entah dimana. Mitsuyo kini melanjutkan konsernya dengan lagu yang berbeda.

“Ini pertamakalinya aku tahu soal ini.”

“Huh? Benarkah?”

Cara dia mengatakannya tadi benar-benar sesuatu yang baru bagiku. Akiho yang kukenal di masa lalu, tidak akan mau menceritakan itu dengan santainya. Dia tidak akan memberitahuku soal ini bahkan ketika kami sedang berpacaran dulu.

“Meski begitu, tapi dia itu mendingan jika dibandingkan anggota keluarga yang lain. Dia itu tidak menggosipkan orang, dan selalu mengatakan blak-blakan di depan orangnya langsung. Misalnya, membicarakan masalah uang.”

Ada sesuatu yang terpikirkan olehku. Karena ayah Akiho meninggal, pasti akan ada masalah dengan warisannya. Kalau dia tidak akrab dengan kerabatnya, mustahil masalah warisan ini akan berakhir dengan damai. Kakak Akiho pasti akan meminta semuanya untuk dinilai dengan teliti karena perpustakaan termasuk bagian dari hal yang akan diwariskan.

“Karena itulah, bisakah aku meminta kalian untuk menilai buku-buku ini?” Akiho menanyakan itu ke Shinokawa.

“Te-Tentu saja.”

“Sebelum itu, apa kalian butuh-butuh sesuatu untuk memperlancar pekerjaan kalian disini?”

“Ti-Tidak, sebenarnya tidak ada.”

Shinokawa, yang sedari tadi mencari-cari sesuatu dalam tasnya, tiba-tiba terdiam. Sepertinya dia kesulitan untuk menemukan sesuatu. Setelah mencari-cari di tasnya, dia mengatakan sesuatu dengan nada yang kecewa.

“Maafkan aku...Umm...Kalau tidak keberatan, aku umm...Lupa untuk membawa buku untuk mencatat.”


Apa lupa buku catatan semacam itu bisa membuatnya terlihat sesedih itu?


Akiho lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Oke. Aku akan cari dulu ya.”

Dia lalu berjalan pergi menuju lorong. Setelah sampai di pintu keluar, Akiho menatapku sejenak.

“Selamat bekerja ya, Daisuke-kun.”

Setelah itu, Akiho menutup pintunya. Suaranya, yang baru saja memanggilku, masih menggema di ruangan ini.

“Daisuke-kun.”

“Eh? Ada apa?”

“...Itu kan cara dia memanggilmu, benar tidak? Goura-san.” Shinokawa langsung mengatakannya.

Sejenak, kupikir tadi Shinokawa sedang memanggil nama depanku.

“Ah, dia itu...”

Akiho memang satu-satunya orang yang terbiasa memanggilku dengan nama itu ketika kami masih di bangku sekolah. Lebih tepatnya, dia mulai memanggilku dengan nama itu setelah kami resmi berpacaran.

“Oh, begitu ya. Apa itu hanya karena kau pernah sekelas dengannya di SMA?” tanya Shinokawa, terus memintaku untuk memberinya informasi.

Dia menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dari balik lensa kacamatanya.

Kuputuskan untuk memberitahunya saja. Siapapun pasti tahu ada apa diantara kami berdua jika mengamati dengan seksama. Aku bukannya tidak mau membicarakan itu, tapi ini juga bukanlah sebuah rahasia yang harus ditutup-tutupi.

“Sebenarnya, aku pernah berpacaran dengannya. Kami berpacaran hingga tahun pertama kuliah.”

Setelah mengatakannya, kedua matanya terbuka lebar. Wajahnya lalu tampak memerah.

“Ehh? Jadi begitu ya?”

Suaranya tampak terputus-putus. Mau dilihat dari manapun, dia jelas-jelas terkejut. Dia ternyata tidak sadar dengan hubungan kami selama ini. Ketika dia membahas tentang buku, dia tidak akan mencermati semua detail kecilnya.

“Ma-Maaf ya...Aku bukannya ingin tahu atau semacamnya...”

“Tidak apa-apa, aku memang memutuskan untuk memberitahumu.”

Aku merasa tidak enak mengatakan ini dengan jujur, tapi ada sesuatu yang terasa aneh─̶─ mengapa dia baru bertanya sekarang?

“Memangnya, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu?”

“Bukan begitu, hanya saja aku selalu masuk ke sekolah dimana semua siswanya adalah para gadis...Dan aku selalu membayangkan apakah orang-orang yang masuk sekolah multi-gender selalu memanggil sesamanya yang berlawanan gender dengan nama depannya. Tapi kurasa itu tidaklah wajar.”

Shinokawa menundukkan wajahnya untuk menutupi rasa malunya.

“Bisa memanggil nama depan dari seorang pria terdengar hal yang menyenangkan. Tapi aku sendiri tidak pernah punya kesempatan untuk melakukannya...”

Apa yang diamaksud dengan tidak punya kesempatan? Apakah ini artinya dia tidak pernah sekalipun memanggil nama depan dari seorang pria?

“Shinokawa-san, apa kau pernah berpacaran?”

Entah mengapa, aku merasa kalau ini momen yang tepat untuk menanyakan itu. Jika bisa, aku ingin menanyakannya dengan kata-kata yang lebih halus lagi.

“Maksudmu...aku?” Shinokawa menunjuk ke dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.

Itu adalah bahasa tubuh yang menandakan kalau dia tidak begitu mengerti akan pertanyaan dariku. Akupun mengangguk, dan rambutnye bergoyang seperti putaran angin ketika dia menggelangkan kepalanya.

“Mustahil itu!...Aku!?...Itu sangat absurd...”

Dia sebenarnya tidak perlu menjawabnya sejauh itu sampai mengatakan absurd, tapi ini meyakinkanku kalau dia belum pernah berpacaran dengan siapapun. Akupun merasa lega. Memangnya, dia suka pria yang seperti apa? Apa saat ini dia punya orang yang dia sukai? Aku ingin untuk menanyakan itu kepadanya, tapi...

“Achoo!”

Suara bersin dari Shinokawa terdengar, membuatku kehilangan momen itu. Kalau dipikir-pikir, Akiho tidak membuka jendelanya sama sekali. Aku bahkan bisa melihat debu-debu yang beterbangan di ruangan ini.

“Bagaimana kalau kubuka jendela ruangan ini?”
 
“Ah, tidak usah, tidak apa-apa.” dia mengibas-ngibaskan tangannya.

“Ya sudah, bagaimana kalau kita mulai saja pekerjaan kita?”

           
***


Kuambil semua buku-buku tersebut dari kardusnya dan menumpuknya di lantai, seperti yang dia instruksikan. Setelah itu, aku menata buku-buku tersebut, membuat punggung bukunya menghadap ke arah yang sama sehingga mempermudah untuk menilainya.

Kulihat sejenak ke arah tumpukan buku-buku yang ada di perpustakaan. Yang menarik perhatianku adalah jumlah buku-buku yang ditulis Fujisawa Yuuhei, Shiba Ryoutarou, dan Ikenami Shoutarou. Semuanya merupakan novel-novel sejarah, dan sejenis itu. Tidak lupa juga, ada beberapa buku tentang bisnis, ekonomi, dan manajemen kerja. Selain kategori itu, kurasa tidak ada buku yang jenisnya diluar itu.

Shinokawa sendiri sedang berdiri di depan rak buku dan memeriksa punggung buku dari atas ke bawah. Dia juga menarik keluar buku-buku yang ada di rak dan menambah tinggi tumpukan buku yang berada di lantai. Dia bertumpu hanya menggunakan satu kaki, meski begitu, dia tampaknya sudah terbiasa dengan posisi yang seperti itu.

“Bagaimana caramu memilah-milah buku-buku disini?” tanyaku.

Dia lalu menjawabku tanpa menghentikan pekerjaannya.

“Aku membuat kategori untuk buku-buku tersebut. Yaitu buku yang perlu dinilai secara individual, buku yang bisa dinilai dalam jumlah banyak, dan buku yang tidak bisa dinilai sama sekali. Ketika aku punya banyak sekali buku untuk dinilai, aku mulai memisah-misah buku-buku itu dalam kategori itu. Aku sendiri yakin kalau masih banyak cara lain yang sama atau lebih baik dari itu, tapi...Oh?”

Shinokawa tiba-tiba mengambil sebuah buku dan menatapku. Judul bukunya “Swine and Roses” dan dibalut sampul berwarna kuning. Buku tersebut ditulis oleh Shiba Ryoutarou.

“Buku ini bisa dikatakan langka.”

Aku tahu siapa Shiba Ryoutarou. Sinetron karyanya, Awan di Atas Bukit, sering tayang di TV. Meski begitu, ini pertamakalinya aku mendengar Swines and Roses.

“Memangnya, itu buku apa?”

“Ini adalah novel misteri.”

“Misteri? Bukan buku-buku tentang cerita sejarah?”

“Dia menulis ini atas permintaan dari penerbit, waktu itu tema-tema misteri sedang sangat populer. Pacar dari karakter utama wanitanya tewas dengan kondisi yang mencurigakan, jadi dia bekerjasama dengan seorang reporter yang dia kenal untuk memecahkan misterinya...Coba lihat ini.”

Shinokawa lalu membuka beberapa halaman buku itu dan menunjuk ke sesuatu di halaman itu. Secara perlahan, aku mulaimelihat apa yang sedang dia tunjuk itu, tampaknya ini semacam afterwords darisi penulisnya.


...aku tidak punya alasan tertentu mengapa menulis ini. Novel misteri tampak populer belakangan ini dan aku diminta untuk menulisnya juga. Aku sendiri tidak punya ketertarikan, bakat, apalagi pengetahuan tentang novel misteri. Aku hanya diminta untuk menulisnya saja, dan setelah perjuangan panjang yang kulalui, akhirnya aku menyelesaikannya. Tentunya, ini adalah satu-satunya buku yang kutulis dengan genre misteri, dan aku tidak berminat untuk menulis genre serupa di masa depan.


“Bukankah ini luar biasa?”

Dia menulis dua kali kalau dia diminta oleh penerbit untuk menulis novel misteri. Kurasa, dia benar-benar merasa sangat lega sudah menyelesaikan novel ini.

“Tapi, ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih keren lagi!” Shinokawa berbisik kepadaku seperti sedang berbagi rahasia.


Jujur saja, aku tidak suka dengan detektif yang muncul di novel misteri. Kenapa mereka sampai repot-repot sejauh itu untuk membongkar rahasia orang lain? Aku tidak paham apa yang membuat mereka betah dengan aktivitas yang semacam itu. Cara mereka memecahkan misterinya bisa dibilang aneh, sehingga kadang-kadang si detektifnya sendiri yang menjadi tema novelnya, atau bisa jugadisebut sebagai 'memahami sisi psikologis dari sebuah kasus'.


Matakupun terbuka lebar. Aku sendiri tidak pernah mendengar ada seorang penulis novel benar-benar anti dengan sebuah genre dan menulisnya secara blak-blakan di afterwordsnya. Bagaimana dengan komentar orang-orang yang sudah membaca buku ini?

“Kalau soal isinya sendiri, apa buku ini benar-benar menarik?”

“Bagaimana ya...Bukunya sendiri memang terkesan dark, tapi tidak berarti kalau buku ini buruk. Kupikir, cara penulis menggambarkan karakternya benar-benar sangat pas...”

Dia lalu menutup Swine and Roses dengan perlahan.

“Buku ini bahkan tidak pernah dijual dalam edisi “Satu paket koleksi lengkap karya Shiba Ryoutarou”. Beberapa bukunya yang lain juga ada yang bernasib sama. Sejak saat itu, buku-buku yang seperti itu menjadi buruan kolektor buku.”

“Jadi, mungkinkah ini buku yang katanya bernilai ratusan ribu yen?”

“Tidak...Tidak semua kolektor buku tertarik dengan buku ini dan sampul aslinya juga sudah tidak ada, kurasa ini harganya sekitar...”

Beberapa kertas tiba-tiba jatuh. Kuambil kertas-kertas tersebut dan melihatnya. Ini semacam kertas tanda pengiriman. Yang tertulis disana adalah nama sebuah toko buku bekas dan alamat yang terstempel disana. Alamatnya ada di Tokyo, juga tertulis harga bukunya adalah 40,000yen. Memang, ini bisa dikatakan sebagai buku mahal, tapi tidak seharga ratusan ribu Yen.

“Aku yakin kalau pemilik perpustakaan ini memesan buku ini lewat e-mail.”

Shinokawa mengambil buku Swine and Roses itu dan menambahkannya dalam tumpukan buku yang ada di lantai. Sepertinya, tumpukan buku yang ini adalah buku-buku yang perlu dinilai secara individu.

“Apa menurutmu di ruangan ini banyak terdapat buku-buku yang mahal?” tanyaku.

“Bagaimana ya...Apa disini banyak atau tidak...Itu tergantung siapa pembelinya dan juga kondisi bukunya. Menurutku, disini banyak sekali koleksi buku-buku yang cukup langka.”

Dia menunjuk beberapa tumpukan buku-buku itu. Disana ada buku-buku tentang manajemen bisnis, buku-buku instruksi bahasa Inggris, dan beberapa majalah ekonomi.

“Aku tidak bisa menetapkan nilai dari buku-buku ini, tapi tidak banyak orang yang mau mengoleksi buku-buku seperti ini. Namun aku menduga kalau dia tidak berniat untuk membaca ulang buku-buku ini...Mungkin dia ragu untuk membuang buku-buku koleksinya. Mungkin saja dia itu tipe orang yang sangat menghargai apa yang dia miliki...”

“Memangnya kau bisa menebak sifat seseorang dari koleksi bukunya?”

“Kupikir, buku-buku koleksi seseorang itu mencerminkan karakter pemiliknya. Selain alasan hobi, ada orang-orang yang bisa menebak pekerjaan seseorang dan usianya hanya dengan melihat koleksi buku-bukunya.”

Karena dia menyebutkan “ada orang-orang”, kurasa dia tidak termasuk di dalamnya. Artinya, ada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang buku yang luar biasa sedang berada di luar sana.

“Coba kau kesini dan lihat ini.” dia menunjuk ke salah satu rak buku yang belum dia sentuh sama sekali.

Ada beberapa seri buku yang ditata rapi di rak tersebut. Ada Istri Seorang Dokter dan Homura karya Ariyoshi Sawako, dan juga ada Tonkou, Ubin Dari Atap Tempyo, dan Ruten.

“Baik Ariyoshi Sawako dan Inoue Yasushi sudah menghasilkan banyak sekali novel yang setting ceritanya di jaman modern, tapi tidak ada satupun novel-novel tersebut disini. Sepertinya, pemiliknya ini tidak tertarik dengan buku-buku yang bukan tentang jaman dulu ataupun berhubungan dengan sejarah.”

Loh, tapi bagaimana dengan Swine and Roses?”

“I-Itu adalah sebuah pengecualian. Pasti ada sesuatu yang spesial sehingga dia membeli buku itu.”

Dia lalu mengambil Ruten dari ujung koleksi yang ada di rak. Sepertinya, kualitas kertas bukunya terlihat buruk sekali, mengambilnya keluar hanya membuatnya kondisinya bertambah buruk saja. Halamannya terlihat lembab dan kusut disana-sini.

Ada sebuah tag harga diantara sampul buku dan halaman terakhirnya. Harga buku itu adalah 50,000Yen. Itu dibeli dari toko yang sama dengan Swine and Roses.

“Buku ini juga bisa dibilang langka, tapi aku tidak bisa memberi harga yang lebih tinggi dari tag harganya. Mungkin bisa lebih jika kondisi bukunya lebih baik.”

Kulihat buku Swine and Roses yang dia taruh sebelumnya. Kondisinya juga tidak begitu bagus, dan itu artinya harganya kemungkinan besar dibawah harga sewaktu dibeli dari tokonya.

“Sepertinya, orang ini tidak begitu peduli dengan kondisi bukunya, benar tidak?”

“Bisa juga, dia sudah menetapkan maksimal budget yang mau dia bayar untuk sebuah buku...Jika itu benar, maka tidak akan ada satupun buku yang mencapai ratusan ribu Yen.”

Kalau benar begitu, maka konon katanya ada buku yang seharga ratusan ribu Yen, tidaklah benar. Karena info itu juga didapat dari hasil menguping, mungkin memang benar adanya kalau buku yang semacam itu tidak ada sejak awal.

“Sudah kuduga, ada sesuatu yang aneh,” Shinokawa menggumamkan itu sambil menutup Ruten yang seharga 50,000Yen.

“Ada apa?”

“Orang ini sering sekali membeli buku-buku dari sebuah toko buku bekas di Tokyo. Kenapa dia tidak meminta toko itu untuk membeli buku-buku koleksinya? Kalau si pemilik berkeinginan agar buku-bukunya kelak dirawat dengan baik, bukankah wajar jika dia mempercayakan itu kepada toko yang sudah dia kenal baik? Aku masih tidak mengerti mengapa dia sampai capek-capek memilih toko kita.”

“Bukankah itu karena Akiho sendiri yang memberitahu ayahnya soal toko kita?”

Ini juga sedikit mengganjalku. Mengapa Akiho memberitahu ayahnya soal Biblia? Padahal, dia sendiri belum pernah mengunjungi toko kami sebelumnya.

“Sangat tidak wajar bagi seseorang yang punya koleksi buku-buku langka dan menjual koleksi-koleksi kesayangannya ke toko buku yang tidak pernah dia kenal.”

Kalau kuingat-ingat bagaimana ekspresi ayahnya waktu itu. Dia jelas-jelas bukan tipe orang yang akan memutuskan keputusan penting hanya karena putrinya mengatakan begitu.

“Ada sesuatu dibalik request ini.”

Ketika dia mengatakannya, pintu terbuka.

“Aduh maaf ya, aku malah membuat kalian menunggu.” Akiho masuk ke dalam ruangan.

“Aku tadi sudah mencari kesana-kemari, tapi aku tidak bisa menemukan buku catatan yang bisa kalian pakai...Apa yang ini bisa dipakai?”

Ketika dia mengatakan itu, dia menunjukkan tumpukan pamflet-pamflet yang biasa disertakan dalam promo-promo di koran. Kakekku dulu suka menulis dan corat-coret di bagian belakang pamflet yang semacam ini, tapi yang membuatku terkejut adalah fakta kalau orang yang tinggal di rumah sebesar ini ternyata berhemat untuk hal-hal yang semacam ini.


Mungkin saja dia tipe orang yang sangat menghargai apapun yang sudah dia miliki.


Kata-kata Shinokawa barusan mulai terngiang di kepalaku. Bagaimana jika─̶─

“Apa pamflet-pamflet ini berasal dari ruangan ayahmu?”

“Eh? Ya, kurasa ini kebiasaan ayahku. Dia tipe orang yang memperlakukan barang-barangnya dengan hati-hati. Kau tahu dari mana?”

“Ah...Hanya tebakanku saja.”

Ternyata dia bisa menebak sifat seseorang hanya dari koleksi buku-bukunya.

“Terima kasih banyak ya. Ini saja sudah cukup banyak membantu.”

Shinokawa secara perlahan menerima pamflet-pamflet tersebut untuk dijadikan tempat untuk mencatat.

“Um...Kalau begitu, apa kalian tidak ingin menitipkan mantel kalian kepadaku? Ruangan disini sangat berdebu...Sini Daisuke, biar kusimpan juga mantelmu.”

Ngomong-ngomong, Shinokawa masih memakai mantelnya. Sedang mantelku sendiri, sudah kulempar ke arah lantai beberapa saat yang lalu. Mantelku bukan barang mahal, jadi tidak masalah kalau ada debu disana. Aku tinggal membersihkannya nanti.

“Aku tidak masalah begini...”

“Aku juga tidak masalah dan umm...Terima kasih atas tawarannya.” Kata-kata Shinokawa terdengar lebih halus dari sebelumnya.

“Ayahmu adalah orang yang memilih toko kami, benar begitu?”

“Benar sekali,” jawab Akiho dengan santainya.

“Dia menulis beberapa instruksi tentang bagaimana menangani buku-bukunya disini dan mempercayakannya kepadaku. Jujur saja, akupun terkejut. Bulan lalu, ketika kami membicarakan tentang Toko Buku Antik Biblia, dia bilang kalau belum pernah datang kesana sama sekali.”

“Mengapa tiba-tiba toko kami menjadi topik pembicaraan kalian waktu itu?” tanyaku.

Akiho lalu menggaruk-garuk pelipis matanya dan kesulitan untuk menjawab.

“Ah...Bagaimana ya...”

Dia terus melirik ke arahku. Memangnya ada apa?

Akiho lalu menatap ke arah Shinokawa dan menjawabnya.

“Sekitar sebulan yang lalu, aku kembali ke rumah ini setelah pergi dalam waktu yang cukup lama. Aku tidak berencana untuk tinggal lama disini dan hanya sekedar untuk mampir karena kebetulan berada di dekat sini. Ayahku dan diriku sedang mengobrol di ruang keluarga ketika tiba-tiba dia bertanya Bagaimana kabarnya pria tinggi yang menemanimu pulang tempo hari?”

Cara bicara Akiho yang mencoba meniru logat bicara ayahnya itu benar-benar mirip.

“Eh? Ayahmu ternyata berasal dari daerah Kansai?” mata Shinokawa terbuka lebar.


Memangnya dia dari Kansai atau tidak itu penting?      


Akiho yang kebingungan, terlihat mengangguk.

“Ya. Dia lahir di Osaka, tapi pindah kesini ketika masih muda.”

“Mengapa tiba-tiba dia membicarakan diriku?”

Inilah bagian yang tidak kumengerti. Dia hanya melihat wajahku sekali empat tahun lalu, lalu bagaimana dia masih mengingat diriku dengan detail?

“Aku juga tidak tahu. Mungkin saja dia penasaran apakah putrinya punya pria yang bisa dia nikahi atau tidak. Dia memasang ekspresi kecewa ketika aku memberitahunya kalau kita sudah putus beberapa tahun yang lalu.”

Dengan ekspresi yang kompleks, Akiho menceritakan hubungan kita di masa lalu. Shinokawa sendiri sudah tahu, jadi kurasa ini akan baik-baik saja, ini jauh lebih baik daripada pura-pura untuk menyembunyikannya.

“Jadi kuberitahu saja apa yang terjadi, yaitu kau berpacaran dengan pemilik sebuah Toko Buku Antik di daerah Kita-Kamakura. Dan kau sementara mengurusi kegiatan di toko itu karena pemiliknya sedang dirawat di rumah sakit...”

“Tunggu dulu. Sejak kapan ceritanya berubah menjadi seperti itu?”

Akupun memotongnya. Shinokawa sendiri tampak kebingungan. Aku sebenarnya tidak berpacaran dengannya, aku hanya karyawan tokonya. Juga, dia sudah keluar dari rumah sakit sejak sebulan yang lalu.

“Ya tahulah, aku hanya mendengar cerita itu dari Sawamoto. Tapi tampaknya cerita yang dia berikan memang terlalu bombastis.”

“Dia memang goblok.” Akupun merasa kesal dibuatnya.

Dia harusnya konfirmasi dulu ceritanya kepadaku sebelum menyebarkan gosip-gosip yang semacam itu.

“Aku benar-benar minta maaf.” Dia meminta maaf ke Shinokawa.

“Ti-Tidak, akupun harusnya begitu juga...Aku meminta maaf.”

Akiho sendiri merendahkan kepalanya juga ke arahku, tapi kupikir dia tidak perlu meminta maaf.

“Jadi, tentang ayahmu...”

Kamipun kembali ke topiknya. Sepertinya Shinokawa masih penasaran dengan topik utamanya.

“Apa dia mengatakan sesuatu tentang toko kami?”

Setelah diam untuk sejenak, Akiho menggelengkan kepalanya.

“Setelah kuberitahu apa yang kutahu kepadanya, dia mengatakan sesuatu seperti Pasti berat mengatur toko sendirian. Tapi setelah itu dia malah menceramahiku dan berakhir dengan debat.”

“Debat?”

“Selalu saja seperti itu. Ayah tidak menginginkanku hidup susah di kemudian hari. Carilah suami yang mapan dan bangunlah keluargamu, itu yang selalu dia katakan kepadaku.”

Di jaman sekarang, pemikiran semacam itu agak kuno─̶─ tidak, sejak awal, cara berpikir seperti itu kurasa cukup normal di jamannya.

“Kupikir dia seperti terperangkap dengan masa lalunya ketika mengatakan itu. Pada akhirnya, aku mengatakan kalau aku tidak akan berhenti bekerja dan melakukan apapun sesukaku. Itu bukanlah kali pertama aku berdebat dengannya.”

Akiho tersenyum kecut. Alasan mengapa dia hidup sendiri mungkin karena situasi yang seperti itu. Dugaanku, dia dan ayahnya seperti merasa hendak memutus semua hubungan keluarga mereka ketika berdebat panas semacam itu.

“Ayahku melalui banyak sekali perjuangan dan kerja keras ketika masih muda, jadi aku paham apa yang hendak dia katakan. Tapi kalau membahas kisah-kisah pengalamannya itu, well, kurasa akan butuh waktu yang sangat lama.”

“Apa pekerjaan ayahmu selalu berkaitan dengan industri makanan?” tanya Shinokawa.

Kalau dipikir-pikir, aku memang pernah dengar kalau dia adalah pemilik franchise sebuah restoran.

“Tidak, sebelum tinggal disini, pekerjaannya bermacam-macam. Dia pernah sebagai pembuat sepatu di pabrik, pernah sebagai resepsionis sebuah galeri seni ketika sedang berusaha memperoleh gelar pendidikannya, dan bermain piano sebagai pengiring nyanyian di sebuah klub kabaret, ya itu beberapa dari kisahnya.”

Ternyata, dia adalah orang dengan multi-talenta. Kutatap wajah Shinokawa. Pasti dia punya alasan spesifik mengapa dia menanyakan itu. Aku sendiri merasa penasaran dengan ekspresinya yang sedari tadi seperti hendak merenungkan sesuatu.

“Terima kasih ya, dan...Maaf sudah bertanya tentang hal-hal pribadi.”

“Tidak masalah. Banyak sekali kok orang-orang yang datang kesini dan bertanya-tanya tentang kisah-kisah ayahku.”

Meski cuma sekilas, tapi nada suara Akiho tampak kehilangan semangatnya. Untuk mengembalikan moodnya, dia menaruh tangannya di pinggang dan melihat ke sekeliling perpustakaan ini.

“Apa tidak apa-apa jika aku tidak membantu? Aku sendiri tidak tahu apa-apa soal pekerjaan yang kalian lakukan.”

“Tidak masalah. Terima kasih karena sudah membawakan kertas-kertas ini.”

Dengan diam, aku hanya bisa melihat ke arah punggung Akiho yang meninggalkan ruangan ini sambil tersenyum. Jika seandainya saja aku sering-sering bertanya kepadanya mengenai orang tuanya di masa lalu, mungkinkah dia akan bersikap terbuka kepadaku?Jika seandainya kita masih berpacaran, apakah mungkin dia akan memberitahuku soal ayahnya?

Tiba-tiba, terdengar suara desahan. Tapi, itu bukan berasal dariku.

“Ada apa?”

Shinokawa seperti sedang memikirkan sesuatu dengan ekspresi yang super serius.

“...Sepertinya aku melewatkan sesuatu yang sangat penting disini.” dia menaruh jarinya di dagu.

“Aku hampir saja mengetahui jawabannya...Hanya saja ada sesuatu yang kurang.”
            

***


Meski Shinokawa hampir mengetahui “sesuatu yang penting dan terlewatkan” itu, dia memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Buku-buku yang ada di ruangan ini langsung dipisah-pisah menurut kategorinya, buku-buku yang harus dievaluasi secara satu-persatu, dia nilai lalu dia tempelkan sebuah stiker harga di sampulnya. Sedang buka-buku yang tidak bisa dinilai, dikumpulkan dan ditaruh di kotak kardus yang berbeda. Akhirnya, dia menyelesaikan pekerjaan itu. Kurasa ini tidak sampai satu jam sejak dia pertamakali mulai mengerjakannya. Kecepatannya dalam bekerja memang sangat mengesankan. Meski begitu, dia sendiri tampak kecewa setelah menyelesaikannya.

“Kurasa pekerjaan ini jauh lebih berat dari yang kuduga.”

Karena program Membeli Langsung Ke Rumah akan membuat kami harus mengunjungi banyak sekali rumah pelanggan, maka mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan akurat adalah hal yang penting.

Shinokawa lalu memanggil Akiho dan memberikan catatan penilaian buku-buku di perpustakaan ini kepadanya. Kurasa harga-harga buku yang dia tulis disana benar-benar harga terbaik, meski kondisi bukunya sendiri memang tidak dalam keadaan yang baik.

Tapi, jika buku yang konon katanya berharga ratusan ribu Yen ada dalam kategori yang kurang baik, kurasa itu bisa menjadi pekerjaan yang berat untuk menilai harga yang tepat.

Shinokawa secara perlahan menjelaskan harga-harga buku tersebut. Dia sebenarnya tidak punya skill yang bagus dalam berbicara, tapi dia tampaknya sudah terbiasa untuk memberikan penjelasan yang mudah. Akiho-pun mengangguk dan mendengarkannya hingga selesai.

“Jadi, apa yang harus kulakukan dengan buku-buku yang tidak bisa dinilai ini?”

Akiho mengatakan itu dengan ekspresi yang kebingungan sambil menerima uang pembayaran buku-buku tersebut. Masih ada sebuah kardus besar yang berisi buku-buku yang tidak bisa dinilai. Tumpukan teratas kardus tersebut, ada sebuah majalah yang berjudul “Percepatan Ekonomi Jepang Akan Terus Berlanjut Hingga Abad 21”, dan diikuti oleh beberapa tulisan tentang dunia bisnis. Tulisan semacam itu jelas-jelas tidak berguna pada saat ini.

“Apa ayahmu meninggalkan instruksi tentang buku-buku yang tidak bisa dinilai ini?”

“Hmm, apa ya...Kalau tidak salah, dia pernah bilang seperti ini: Buku-buku yang tidak bisa dibeli oleh Toko Buku Antik Biblia, sebaiknya dibuang saja. Kalau dipikir-pikir lagi...Artinya tugasku yang tersisa tinggal membuang ini saja, benar tidak? Sampah-sampah yang bisa didaur ulang hanya bisa diambil besok...Tapi ah sudahlah, aku ada mobil untuk itu.”

“Bukankah lebih mudah biarkan buku-buku itu bermalam disini dan tinggal buang saja besok?”

“Melihat situasi yang berkembang, aku tidak berencana untuk bermalam disini. Ada orang lain yang tidak ingin kutemui dan dia lebih parah dari Mitsuyo, jadi kubawa sekalian dan kubuang waktu berangkat kerja besok.”

“Kenapa tidak meminta bantuan kakakmu untuk membuangkan buku-buku ini?”

“Aku tidak bisa melakukannya.” Akiho menggelengkan kepalanya.

“Aturan di rumah ini, sekali ayah menyuruhmu untuk mengerjakan sesuatu, maka itu akan menjadi tanggung jawabmu hingga selesai.”

“Begitu ya...”

Awalnya, kupikir alasan mengapa dia tidak meminta bantuan kakak-kakaknya bukanlah karena sebuah aturan, tapi karena Akiho sendiri tidak mau melakukannya. Mungkin ada benarnya, kalau ini adalah wasiat dari mendiang ayahnya yang harus dia lakukan.

“Kenapa kau tidak membawa buku-buku ini ke toko buku yang cukup besar dan biarkan mereka melihat buku-buku ini?” tanya Shinokawa.

“Karena cara menilai buku tiap orang berbeda-beda, bisa saja ada buku yang tidak bisa dinilai disini ternyata bisa dinilai, jadi kau bisa mendapatkan uang ekstra dari itu. Lagipula, meski mereka tidak berminat untuk membeli buku-buku itu, kau bisa memberikannya kepada mereka dengan gratis.”

Ruangan ini tiba-tiba mendadak sunyi. Mitsuyo sendiri tiba-tiba menghentikan alunan pianonya tanpa kita sadari. Dia pasti kelelahan bermain piano. Tapi, ini tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi di ruangan ini.

“Baiklah, aku akan melakukan itu.”


.....


Shinokawa dan diriku sedang sibuk mengikat tumpukan buku-buku tersebut. Untuk membuatnya tampak rapi, kami mengikat tiap tumpukan dengan seutas tali vinyl. Punggung buku disusun menghadap ke satu arah.

Aku mempelajari ini semenjak aku mulai bekerja di Toko Biblia, tapi ketika mengantarkan buku-buku tua, akan lebih baik jika menyusun dan mengikatnya daripada dimasukkan dalam kotak kardus. Kalau kau taruh di dalam kotak kardus, kau nantinya harus membuka kotak kardus itu satu persatu untuk mencari judul bukunya. Tapi jika kau hanya mengikatnya, kau tinggal melihat ke arah punggung bukunya dengan mudah.

Hanya buku-buku ukuran besar yang diikat dengan ikatan dua tali yang bersilangan; sedang buku-buku ukuran tankoubon biasanya tidak perlu dibuat ikatan yang bersilangan. Ada sebuah trik tentang bagaimana mengikat buku-buku yang menggunakan ikatan tunggal. Kalau kau mengikatnya terlalu longgar, ikatannya akan mudah lepas. Tapi kalau kau mengikatnya terlalu kencang, akan meninggalkan bekas di kedua sisi buku dimana terdapat tali yang mengikatnya.

“Buku ini cukup mahal, jadi tolong selipkan potongan kertas diantara tali dan buku itu agar bukunya tidak rusak,” kata Shinokawa.

Shinokawa mengatakannya sambil memasang ekspresi yang serius dan terus melanjutkan pekerjaannya. Cukup aneh melihatnya dalam mode serius seperti itu. Biasanya, dia akan tenggelam dalam misteri-misteri yang ada di dalam buku-buku tersebut. Sambil mencari-cari sesuatu yang bisa kugunakan sebagai kertas yang dia maksudkan tadi, kedua mataku melihat ke arah tumpukan pamflet yang kami gunakan sebagai catatan. Ketika kuambil beberapa pamflet tersebut dan mengikatnya bersama buku-buku tersebut, Akiho masuk ke dalam Perpustakaan.

Dia memakai mantel berwarna hijau daun dan sebuah topi rajut. Sepertinya, dia sudah selesai memberikan pembayaran buku-buku ini ke kakaknya, Mitsuyo, dan dia sedang bersiap-siap untuk pergi.

“Maaf ya, saya pergi dulu.”

“Ah, baiklah.”

Shinokawa yang sedari tadi duduk di tangga kayu tiba-tiba berdiri dan menundukkan kepalanya. Secara spontan, akupun melakukan hal yang sama.

“Terima kasih sudah berbaik hati memberikan kami kesempatan untuk membeli buku-buku yang sangat berharga ini.”

“Oh jangan, jangan begitu, sebenarnya akulah yang harus berterima kasih. Kalau begitu, aku pergi dulu dan membawa buku-buku yang tidak bisa dinilai ini.”

Sambil mengatakan itu dengan nada yang ceria, dia mengambil kardus tersebut. Dugaanku, dia akan membawa buku-buku itu ke Toko Buku Bekas yang tidak jauh dari sini.

“Kau akan ke Toko Buku yang mana?”

“Kalau tidak salah, ada Toko di Tebiro, kurasa aku akan kesana.”

Kalau dipikir-pikir, aku memang ingat pernah melihat sebuah papan nama dari franchise Toko Buku di dekat perempatan Tebiro.

“Yakin kuat membawa kotak kardus itu ke mobil?”

“Tidak masalah, aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa bekerja kasar.”

Sambil mengatakannya, dia dengan mudah mengangkat kardus yang berisi buku-buku tersebut.

“Dan Daisuke, lain kali kalau kau dan Sawamoto minum-minum lagi, tolong undang aku juga ya.”

“Baiklah...”

Aku merasa kalau aku harusnya mengatakan sesuatu kepadanya, tapi entah apa itu, kemungkinan itu bukanlah sesuatu yang Akiho ingin dengar.

“Hati-hati di jalan.”

“Terima kasih. Bu Pemilik Toko...Saya permisi dulu ya.”

“Umm...Kousaka-san.”

Shinokawa memanggilnya. Akiho yang sudah berada di luar pintu, membalikkan badannya.

“Apa Shiba Ryoutarou adalah pengarang favorit dari Ayahmu?”

“Yeah, benar.” Akiho tersenyum.

“Dia sering bilang kalau buku-bukunya itu semacam jimat bagi bisnisnya. Dia biasanya membaca buku jika sedang gelisah karena masalah pekerjaan. Yeah, kurasa orang-orang pro di luar sana pernah merasakan hal-hal yang serupa.”

Setelah itu, Akiho pergi, suara langkah kakinya mulai menghilang dari kejauhan. Kututup pintu perpustakaan ini dan menatap ke arah pro yang sebenarnya.

“Kau tahu dari mana?”

Shinokawa kembali duduk di tangga kayu, dan mengambil dua buku dari tumpukan buku-buku lama sambil menunjukkannya kepadaku.

Satu buku berjudul Swine and Roses dan satunya adalah On the Highways. Kedua buku itu ditulis oleh Shiba Ryoutarou.

“Shiba Ryoutarou hanya menulis kisah-kisah modern dan kumpulan essay...Jadi kupikir ayah Akiho ini sebenarnya memang benar-benar menyukainya.”

Dia lalu menaruh dua buku itu kembali dan melanjutkan pekerjaannya mengikat tumpukan buku-buku tersebut. Dia mungkin bertanya mengenai Shiba Ryoutarou karena diduga ada hubungannya dengan misteri mengapa ayahnya memilih toko buku kami.

Tepat ketika aku mulai melanjutkan pekerjaanku.

“...Mungkinkah, mereka berdua itu berasal dari kota yang sama?” Shinokawa menggumamkan itu.

“Hmm? Apa maksudmu?”

“Ayah Kousaka dan Shiba Ryoutarou. Kalau benar mereka berasal dari kota yang sama, maka wajar saja jika dia mengagumi pengarang tersebut.”

Tampaknya, ini akan menjadi diskusi yang panjang. Kuputuskan untuk menghentikan dulu pekerjaanku.

“Memangnya, Shiba Ryoutarou berasal dari Kyoto?”

“Ya. Dia dipromosikan sebagai Wakil Direktur dari Sankei Shimbun di kantor pusat Osaka ketika dia memulai debutnya. Pada tahun 1956, Penyihir dari Persia, sebuah novel yang dia tulis dalam dua malam, dipilih sebagai pemenang penghargaan, kalau tidak salah...”

Pembicaraan kami kemudian mendadak sunyi tepat ketika membahas bagian paling pentingnya. Dia lalu menaruh jarinya di kening, seperti sedang mencari-cari sebuah info dari masa lalu.

“...Pasti ada sesuatu yang terlewatkan olehku. Maaf ya, kita lanjutkan diskusi tadi lain kali.”

“Oh Ok.”

Lagipula, kita ini kesini untuk bekerja. Jadi ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan buku.

Shinokawa dan diriku melanjutkan pekerjaan kami. Tidak lama kemudian, kami memutuskan untuk membagi tugas. Shinokawa mengikat buku-buku itu dan aku yang membawanya ke van.

Setelah beberapa kali bolak-balik, tumpukan buku-buku yang ada di perpustakaan secara perlahan mulai menghilang dari perpustakaan.

Terjadilah hal yang aneh 20 menit kemudian. Ketika aku mengangkat tumpukan buku yang berisikan koleksi lengkap Cerita Ninja karya Yamada Fuutarou, aku melihat sebuah kertas kecil di lantai.

Mungkin, itu adalah salah satu kertas pamflet yang Akiho bawa. Mungkin tidak sengaja jatuh ke lantai. Di pamflet itu, ada text yang terlihat agak buram tertulis disana.


“Aku sedang mencari...Jembatan Ivy di Kiso.”


Akupun menelan air liurku sendiri. Aku pernah melihat ini sebelumnya─̶─ ini adalah permintaan dari pelanggan yang dikirimkan lewat fax bulan lalu. Sederhananya, seseorang sedang mencari koleksi lengkap dari karya Kunieda Shirous yang berjudul Jembatan Ivy di Kiso.

“Coba lihat ini.”

Kuambil kertas tersebut dan menyerahkannya ke Shinokawa. Dia juga langsung mengerti dengan apa yang kumaksud.

“Apa orang yang mencari buku ini mengatakannya dengan logat Kansai?”

Aku mengangguk, tidak salah lagi. Orang yang mengirimkan fax ini waktu itu adalah ayah Akiho.

Dia tahu Toko Buku Biblia dari Akiho, dan pasti mencari tahu nomor kami lewat buku telepon. Setelah itu, dia menggunakan sisa kertas fax yang tidak dipakai itu sebagai kertas corat-coret.

“Meski begitu, ini sangat aneh. Kenapa dia membuat wasiat kalau kita yang akan membeli buku-bukunya?”

Waktu itu, aku sendiri tidak tahu judul buku yang hendak dia cari. Dia tertawa kepadaku dan menyebutku amatir. Kenapa dia mempercayakan perpustakaannya yang sangat berharga ke seorang amatir sepertiku?

“Jangankan kau, akupun heran dengan itu, tapi...”

Shinokawa menunjukkan kepadaku kumpulan buku-buku yang sedang dia pegang.

“Sepertinya, dia punya beberapa koleksi novel romance juga.”

Tumpukan buku itu berisi beberapa buku yang ditulis oleh Kunieda Shirou. Melihat kondisi buku itu yang berdebu, jelas kalau buku-buku itu dibeli dalam waktu yang cukup lama di masa lalu.

Juga, ada buku yang berjudul Iblis dari Yatsugatake dan Shinshu Kokechi Jo, dimana itu adalah judul-judul yang tidak aku mengerti. Di sebelahnya lagi, ada koleksi lengkap dari karya Kunieda Shirou, Jembatan Ivy di Kiso. Mirip dengan koleksi yang kita miliki di toko.

“Huh?”

Aku malah bertambah bingung. Bukankah ini artinya dia mengirimkan request dimana dia sendiri sudah memiliki bukunya? Apa maksud dari tindakannya itu?

“Ah!”

Shinokawa tiba-tiba mengatakan itu dengan nada tinggi, tiba-tiba dia langsung berjalan ke arahku.

“A-Ada apa?”

“Apa kau tahu nomor telepon Kousaka-san? Kalau tidak, kita harus segera bertemu dengannya...!!”

Dia menggeser tangga kayu itu dan menyeret kakinya untuk mendekati diriku. Sepertinya, sedang terjadi sesuatu yang cukup besar.

“Nomor HP Akiho? Yeah, harusnya...”

Aku baru ingat sesuatu setelah mengambil HP-ku dari kantong.

“...Aduh, aku tidak punya nomor HP-nya.”

Ketika kita bertemu di bar, dia hanya memberiku nomor telepon rumah ini. Aku sendiri sudah menghapus nomor HP-nya sejak lama.

“Ada masalah apa?” kakak tertua, Mitsuyo, masuk ke perpustakaan yang pintunya sedari awal memang terbuka.

“Maaf memotong, tadi aku mendengar suara yang cukup keras sehingga aku bergegas kesini.”

Kupikir suaranya tidak cukup keras untuk membuat orang bergegas pergi kesini, tapi bisa saja kata-katanya soal punya pendengaran yang baik memang benar adanya.

“Apa anda punya nomor HP Kousaka-san?”

Shinokawa bertanya kepadanya dengan nada yang jelas, sangat berbeda dengan sebelumnya. Mungkin tidak paham dengan apa yang sedang terjadi, kedua mata Mitsuyo tampak menajam.

“Well...Aku memang punya nomor telepon apartemennya, tapi kalau...”

“Begitu ya...”

Shinokawa langsung memutuskan apa yang akan dia lakukan dengan cepat.

“Maafkan kami, kami harus pergi sebentar. Kami akan kembali lagi kesini untuk mengambil sisa bukunya. Karena itulah, ayo kita pergi, Goura-san.”

Sebelum aku menanyakan tujuan kita selanjutnya, dia sudah mengambil tongkatnya dan berjalan meninggalkan perpustakaan. Akupun mengangguk ke kakak Akiho dan bergegas untuk menyusul Shinokawa.

“Kita akan pergi ke Toko Buku yang ada di Tebiro.” Shinokawa mengatakan itu kepadaku yang sedang mengikutinya dari lorong.

“Kita harus menghentikan Kousaka-san sebelum dia menjual buku-buku itu.”
           

***


“Aku harusnya menyadari itu sejak lama.”

Setelah kita meninggalkan rumah keluarga Kousaka, Shinokawa mengatakan penyesalannya.

“Sebenarnya, request yang masuk ke toko kita bulan lalu itu adalah sebuah tes.”

“Sebuah tes?”

“Itu adalah sebuah tes untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan karyawan Toko Biblia tentang buku-buku tua. Karena kau lulus tes tersebut, dia membuat request agar toko kita membeli koleksi buku-buku perpustakaannya.”

“Huh? Tapi aku sendiri tidak punya pengetahuan yang baik soal buku-buku.”

“Benar. Apa yang ayah Kousaka cari adalah orang yang tidak berpengalaman dengan buku-buku tua. Dia berencana untuk membuatmu datang sendirian agar bisa menyelesaikan semuanya sebelum aku keluar dari Rumah Sakit.”

Kalau diingat kembali, orang yang menelepon itu memang pernah bertanya kepadaku apakah aku satu-satunya orang yang ada di toko saat itu.”

Akiho memberitahu gosip yang tidak bertanggungjawab dari Sawamoto ke ayahnya tanpa mengetahui kalau Shinokawa sudah keluar dari Rumah Sakit. Pertanyaan tersebut kemungkinan besar untuk memeriksa apakah benar hanya diriku yang ada di Toko Buku Biblia waktu itu.

“Tapi mengapa dia harus melakukan itu...?”

“Coba ingat-ingat kembali apa instruksi yang diberikan kepada Akiho. Perintahnya adalah mengundang kita datang ke perpustakaan, lalu kita diperbolehkan membeli buku-buku yang sudah dinilai. Buku-buku yang tidak bisa dinilai, tidak akan kita bawa. Tapi, buku-buku semacam itu pasti harus dibawa keluar dari rumah...Jika instruksinya diikuti dengan benar, menurutmu apa yang akan terjadi?”

Aku berpikir sejenak sambil mengemudikan mobil kami. Mobil van kami sedang naik di tanjakan Bukit Hase dan baru saja keluar dari terowonganyang berhiaskan dedaunan dengan warna-warna musim gugur.

“Akiho pasti harus membawa buku-buku yang tidak bisa kita nilai.”

Dia memang pernah bilang kalau dirinya berniat untuk membawa kardus buku-buku yang tidak bisa dinilai itu ke rumahnya. Kalau tidak karena saran dari Shinokawa, dia pastinya langsung akan melakukan hal itu.

“Akan sangat lumrah jika seorang amatir melakukan kesalahan. Ada peluang yang sangat besar kalau kau akan salah memberi penilaian tentang harganya. Ayah Kousaka berencana untuk memberikan buku-buku tertentu kepada putrinya.”

Dengan kata lain, ini adalah sebuah hadiah yang diberikan dengan cara yang rumit.

“Dengan kata lain, yang hendak diberikan adalah sebuah buku yang harusnya seharga ratusan ribu Yen?”

“Benar...Meski sulit untuk menjamin kalau buku itu saat ini akan seharga ratusan ribu Yen. Mungkin jika kondisi bukunya lebih baik, harganya bisa lebih dari ratusan ribu Yen.”

“Kalau begitu, bukankah lebih baik jika memberikannya secara langsung daripada menyiapkan metode yang rumit seperti ini.? Ditambah lagi, bukankah mereka berdua bertemu secara langsung bulan lalu?”

“Mungkin ada kemungkinan kalau ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka? Jika itu terjadi dan Akiho menerima buku langka dari ayahnya, maka saudaranya yang lain akan...”

“Ah...”

Ini mengingatkanku kembali dengan wanita yang berkimono tadi─̶─ kakak Akiho yang mengatakan kalau dia punya pendengaran yang baik. Alasan Akiho tidak memiliki hubungan yang baik dengan kerabatnya dan menjadi target kebencian mereka kemungkinan besar karena masalah uang dan harta gono-gini.

“Mungkin ada alasan lainnya juga...Tapi entah apa itu, sepertinya sesuatu yang aku lewatkan. Sepertinya, aku menaruh buku yang diduga langka itu di bagian buku-buku yang tidak bisa dinilai. Aku memang melihatnya untuk sejenak, tapi aku sendiri tidak bisa mengingatnya dengan baik...Kurasa ini akan memakan waktu yang lama.”

Dia lalu terlihat seperti berusaha menekan kedua bibirnya. Ini adalah pertamakalinya aku melihat dirinya memasang ekspresi frustasi. Ternyata, dia juga bisa begitu ya.

Mobil van kami kini melewati jembatan Monorail. Kami hampir tiba di tujuan kami, tapi jika Akiho sudah menjual buku-buku itu, akan sangat sulit untuk mendapatkannya kembali. Bisa mendapatkannya kembali atau tidak, kurasa ini sudah kupasrahkan kepada keberuntungan kami.

“...Tapi ayah Akiho sendiri yang membuat buku itu seperti sesuatu yang sulit untuk ditemukan, benar tidak?”

Aku mengatakan itu tanpa mengalihkan pandanganku dari jalanan. Aku teringat dengan nenekku, Goura Kinuko, yang memiliki sebuah rahasia yang tidak bisa dia ceritakan ke siapapun dan rahasia itu berada dalam buku Karya Lengkap Souseki.

“Shinokawa, ini bukan tentang masalah dirimu yang tidak mampu untuk memecahkannya. Sejak awal, ini tentang rahasia seseorang─̶─ orang ini sejak awal memang mendesain peristiwa ini agar tidak bisa diungkap dengan mudah.”

Kesunyian melanda mobil kami. Aku merasa ada seseorang sedang menatapku dari samping dan akupun menoleh ke arahnya. Kedua matanya terbuka lebar dan dia seperti hendak meneteskan air matanya. Shinokawa menatap ke arahku. Sepertinya, dia tergerak oleh kata-kataku. Sebenarnya, aku tidak punya niatan apapun ketika mengatakan kata-kata itu.

Tatapannya yang seperti itu, yang membuatku merasa tidak tenang, dan situasi ini benar-benar memalukan. Akupun lalu pura-pura batuk.

“Jadi, buku yang semacam apa yang sedang kita kejar ini?”

Papan nama Toko Buku mulai terlihat. Akupun melambatkan laju mobil van kami.

“Sebenarnya, dalam kotak-kotak buku itu...”

Ketika Shinokawa hendak berbicara, ada sebuah pemandangan di toko tersebut yang menarik perhatianku. Ada seorang wanita yang memakai mantel hijau natural dan terlihat sangat familiar baru keluar dari toko. Sepertinya, dia baru saja membeli sebuah minuman. Setelah menutup botol minumannya, dia mulai berjalan ke arah mobilnya.

Kebetulan, tidak ada mobil di belakang kami, dan mobil yang ada di jalur seberang masih terlihat berada di kejauhan. Kunyalakan lampu tanda berbelok dan parkir di dekat toko tersebut. Kumatikan mesinnya dan langsung keluar dari mobil.

Akiho tampak hendak memasukkan kunci mobilnya yang berwarna merah ke pintu mobilnya.

“Akiho!”

Aku berteriak sekeras yang kubisa.

Kedua matanya tampak terbuka lebar.

“Daisuke...Dan Ibu Pemilik Toko. Ada apa?”

“Apa habis dari toko buku itu?”

“Huh? Yeah, aku baru saja dari sana. Aku sendiri hendak kembali ke Tokyo.”

Meski kami sudah berusaha secepat mungkin, tampaknya kami sudahterlambat. Dengan lemah, aku menaruh tanganku di atas mobilnya. Seandainya saja kita kami datang lima menit lebih awal─̶─

“Hmm?”

Aku melihat jendela penumpang mobilnya. Ada sebuah kotak kardus terbuka yang cukup besar disana. Didalamnya, terdapat tumpukan buku-buku tua yang sudah dikemas.

“Kenapa buku-buku itu masih disana?”

“Oh, itu,” Akiho lalu menaikkan bahunya.

“Aku tadi sempat membawa kardus itu ke dalam Toko Buku, tapi aku berubah pikiran. Mengesampingkan hal-hal lainnya,buku-buku ini tetaplah kenang-kenangan dari ayahku...Kurasa tidak masalah jika aku menyimpan buku-buku ini di ruangan rumahku untuk sementara.

Secara spontan, akupun bernapas lega. Mungkin saja ayah Akiho sudah menduga kalau putrinya akan melakukan ini. Putrinya tidak akan tega membuang buku-buku itu dengan mudahnya setelah diwariskan kepadanya.

“Maaf, apakah tidak apa-apa jika aku melihat sekali lagi buku-buku yang ada di kardus itu?”

Shinokawa yang baru saja keluar dari van, berbicara.

“Sebenarnya aku sendiri tidak keberatan...Tapi memangnya apa ada sesuatu?” tanya Akiho.

Shinokawa lalu menaruh kardus itu di atas aspal tempat parkir, dan diapun duduk di kursi penumpang. Sambil memeriksa satu-persatu buku yang ada disana, aku menjelaskan situasinya ke Akiho. Aku memberitahunya kalau ada buku yang berharga disana dan buku itu harusnya diberikan kepadanya. Kami datang kesini untuk mencegahnya menjual buku-buku itu ke toko.

“...Tapi rasanya sulit dipercaya kalau ayahku akan melakukan sejauh ini hanya untuk memastikan kalau aku mendapatkan buku mahal tersebut.” Akiho lalu memasang ekspresi penasaran di wajahnya.

“Katamu, dia tidak mengatakan apapun kepadamu ketika kau berbicara kepadanya bulan lalu...Jika seandainya itu benar, bukankah setidaknya dia memberimu petunjuk tentang apa yang sedang dia rencanakan?”

Mungkin ini aneh. Kalau ayahnya ingin memberitahuku, dia harusnya bisa memberitahuku petunjuknya. Bisa jadi ini memang sifatnya yang suka memberikan sesuatu dengan cara-cara yang seperti ini.

“Kurasa, ada orang-orang yang tidak suka memberitahu apa yang sedang mereka pikirkan, kurasa begitu.”

Akiho memasang ekspresi suram.

“Kurasa, akupun termasuk dalam kategori orang itu.”

“Oh bukan maksudku hendak mengatakan itu, maafkan aku.”

“Itu bukan sesuatu dimana kau harus meminta maaf.”

“...Umm, ini dia.”

Mendengar suara Shinokawa, kami lalu berkumpul di sekitar kotak kardus tersebut. Dia menunjuk ke arah sebuah buku yang cukup tipis. Buku itu sendiri kondisinya seperti sudah sering dibaca dan terlihat tua. Sampulnya yang berwarna orange dan hitam tampak memudar, dan setiap sudut bukunya tampak berbagai kerusakan.

Judulnya adalah kumpulan kalimat-kalimat bijaksana tentang seorang karyawan. Disitu tertulis “Analect Humor” dan penulisnya adalah Fukuda Sadaichi─̶─ nama yang belum pernah kudengar sebelumnya.

“Apa benar-benar buku yang ini?” entah mengapa aku tampak kecewa.

Kalau dari judul yang tertulis di sampulnya, ini adalah buku bacaan untuk para karyawan. Kau tidak akan mengira kalau buku ini adalah buku yang mahal.

“Ya, tidak salah lagi. Ini adalah buku yang ayah Kousaka hendak beri kepadanya.” Shinokawa mengatakannya dengan nada yang meyakinkan.

Karena Akiho tidak berusaha untuk mengambil buku itu, maka aku berinisiatif untuk mengambil buku tersebut dari Shinokawa dan melihatnya. Seperti yang tertulis di judulnya, sepertinya ini adalah kumpulan kata-kata bijak yang ditulis seperti sebuah essay.

Ada beberapa kata-kata bijak yang berasal dari Tokugawa Ieyasu sebelum meninggal. Ada juga yang berasal dari Goethe, dan juga beberapa kata-kata bijak dari Barat. Jujur saja, aku merasa kalau caranya menggabungkan kalimat-kalimat ini terlihat kurang baik.

Kubuka halaman awal buku ini, dan melihat apa yang tertulis disana.


Meski aku menyebut ini sebagai Analect untuk Karyawan, aku berani mengatakan kalau orang-orang di era Showa akan melihat ini sebagai tantangan kepada Confucius. Perbedaan antara Confucius dan karyawan rendahan ini seperti bintang di langit dengan cacing tanah yang berada di bumi.


Meski dia sedang menulis bukunya sendiri, sepertinya dia menganggap dirinya sendiri serendah itu. Mungkin, si penulis buku ini adalah benar-benar karyawan biasa.

“Kenapa buku ini bisa disebut sebagai buku langka?” aku masih belum paham mengapa buku ini bisa semahal itu.

“Fukuda Sadaichi sebenarnya adalah nama asli dari Shiba Ryoutarou.”

“Eh?”

Shinokawa lalu melanjutkan kata-katanya tanpa mempedulikan kami yang sedang terkejut.

“Ini terbitan tahun 1955, setahun sebelum dia menjalani debut sebagai penulis novel. Sebelum itu, dia bekerja di sebuah perusahaan penerbitan koran sebagai seorang karyawan. Seperti Swine and Roses, buku ini tidak pernah dikategorikan sebagai Karya Lengkap dari Shiba Ryoutarou.

Tiba-tiba aku melihat buku yang tipis ini dengan sudut pandang yang berbeda.

Orang yang menyebut dirinya sebagai karyawan rendahan ini, menjadi seorang penulis terkenal yang karyanya dibaca oleh banyak orang, bahkan setelah kematiannya. Waktu itu, bahkan Shiba Ryoutarou sendiri tidak bisa membayangkan kalau dia akan bisa sesukses ini.

“Mungkin si penulis tidak menganggap ini sebagai hasil karya yang memuaskan. Meski begitu, buku ini dibaca oleh banyak orang. Ada beberapa kali cetak ulang setelah buku ini terbit, dan pernah dicetak ulang dua kali dengan judul yang berbeda.”

Shinokawa dengan lancar mulai menjelaskan apa yang dia tahu tentang buku ini. Sepertinya, dia kembali ke dirinya yang dulu.

“Shiba Ryoutarou sendiri tidak benar-benar menulis pengalaman hidupnya dalam karya-karyanya. Pengecualian ada di buku ini, ada sekitar 20 cerita tentang kehidupannya yang dia tulis dalam gaya essay. Dalam masa-masa awal setelah usainya perang, Fukuda Sadaichi yangselesai menjalankan wajib militernya mulai bekerja di perusahaan penerbitan koran dan banyak mengalami kesulitan. Itu adalah sesuatu dimana hanya pembaca yang pernah menjadi saksi hidup di jaman itu saja yang bisa merasakan apa yang terjadi. Ayah dari Kousaka sendiri adalah satu dari sekian orang-orang tersebut.”

Akiho lalu mengambil buku Kumpulan kalimat-kalimat bijaksana itu dan melihatnya dari dekat.

“Kau pasti dengan mudah tahu kalau ayah menyukai buku ini hanya dengan melihatnya sekilas.”

Akiho menggumamkan itu sambil mengingat sesuatu.

“Ketika aku meninggalkan rumah di Kamakura beberapa tahun lalu, aku jarang sekali berbicara dengan ayahku. Dia kadang hanya terus melihat ke arah buku-buku bacaannya, tapi seperti biasanya, dia tidak pernah mengatakan apapun...Tapi mengapa dia memberikan buku ini kepadaku...?”

Shinokawa merespon pernyataannya dengan membuka halaman buku tersebut. Di akhir halaman buku, ada tulisan yang ditulis tangan oleh Fukuda Sadaichi.

“Ini buku yang ditandatangani langsung oleh penulisnya...?” gumamku.

Fakta kalau buku ini ditandatangani langsung oleh penulisnya saja sudah menjelaskan harga buku ini. Yang kita bicarakan ini adalah 200ribu atau 300ribu Yen, tapi tampaknya harganya masih di atas itu.

“Aku sendiri tidak bisa menjamin apakah ini tulisan aslinya atau tidak. Ini adalah pengalaman pertamaku untuk melihat tulisan tangan yang memasang nama asli pengarangnya. Andaikan itu asli, dan itu ditandatangani setelah dia menjadi penulis, aku penasaran mengapa dia tidak menulis nama penanya. Mungkin tandatangan itu terjadi sebelum dia punya nama pena─̶─ atau setidaknya sebelum dia menggunakan nama pena itu dalam karya-karyanya.”

Akupun berpikir sejenak. Kalau begitu...

“Kalau begitu, bukankah ini artinya ayah Akiho kenal Shiba Ryoutarou sebelum dia menjalani debutnya?”

“Itu juga yang menjadi kesimpulanku. Katamu, ayahmu dulu pernah bekerja sebagai resepsionis di sebuah galeri seni?”

Akiho menjawab pertanyaan Shinokawa barusan dengan anggukan.

“Shiba Ryoutarou...Fukuda Sadaichi kalau tidak salah adalah seorang reporter yang bekerja di bagian kebudayaan di koran Sankei Shimbun. Bukankah wajar bagi dia untuk sering keluar masuk museum dan galeri seni untuk menulis artikel tentang tren di dunia seni? Ada kemungkinan mereka berkenalan disana.”

Aku terdiam seperti orang bodoh saja. Aku merasa pecahan-pecahan cerita itu kini menjadi satu dengan cara-cara yang tidak bisa kubayangkan.

Shinokawa lalu menyentuh buku Kumpulan kalimat-kalimat bijaksana yang ada di tangan Akiho.

“Ayahmu dulu pernah bilang kalau buku-buku karya Shiba Ryoutarou itu seperti semacam jimat, benar tidak? Shiba Ryoutarou adalah seseorang yang awalnya menjadi karyawan rendahan dan akhirnya menjadi penulis terkenal. Bagi ayahmu yang dulunya bekerja dengan keras, masuk akal jika ini dianggap sebagai semacam jimat. Dia ingin buku ini menjadi jimat untukmu juga, kupikir seperti itu.”

“...Padahal dia selalu menentang keinginanku untuk bekerja...” Akiho mengatakannya dengan nada yang terkejut.

“Bukankah itu alasan yang sangat masuk akal jika ayahmu berpikir kalau dirimu sangat membutuhkan jimat ini?”

Shinokawa lalu mengeluarkan secarik kertas yang terlipat, dan menaruhnya di tangan Akiho.

“Kertas ini jatuh dari kotak kardus itu. Kupikir itu berasal dari buku ini.”

Hanya secarik kertas kecil.

Sambil memegangi buku itu, Akiho secara perlahan membuka kertas tersebut.


Untuk Akiho

-Ayah


Kertas ini hanya memiliki kata-kata tersebut; tidak ada hal lain yang tertulis disana.

“...Hanya itu saja?”

Aku membisikkan itu ke Shinokawa dan diapun mengangguk. Tulisan itu bahkan jauh lebih kusam dari kertas bekas fax yang pernah dikirimkan ke toko kami, dan tulisannya terkesan lemah. Dia pasti sudah tidak punya tenaga lagi yang tersisa untuk menulis lebih jauh.

Akiho lalu melipat kertas itu dan menaruhnya diantara halaman buku itu.

“Aku ini...Tidak pernah bisa akrab dengan ayahku.”

Akiho menggumamkan itu sambil melihat ke arah langit yang tak berawan.

“Aku ini arogan, dingin, dan sulit untuk didekati. Bahkan ketika kita punya momen untuk saling melihat satu sama lain...Aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Dia selalu mengatakan hal yang sama kepada saudaraku yang lain, dan obrolan kami akan selalu berakhir dengan debat. Aku yakin kalau ayahku itu juga tidak tahu bagaimana caranya untuk akrab denganku. Kita seperti benar-benar menggambarkan diri kita masing-masing.

Akiho lalu tersenyum dan menatap Shinokawa.

“Apa kau tahu alasan yang sebenarnya dari ayahku yang mau membuat rencana yang seperti ini hanya untuk memberikan buku ini kepadaku?”

“Aku tidak tahu.” Setelah berpikir sejenak, Shinokawa menggelengkan kepalanya.

“Apa yang ingin dia sampaikan kepadaku, apakah tidak masalah memberikan buku ini kepadaku? Dia sendiri tidak pernah menunjukkan perasaannya yang sebenarnya kepadaku...Misalnya surat yang seperti ini...”

Tiba-tiba, wajah Akiho mulai bermandikan air mata.

Ini adalah momen dimana aku pertamakalinya melihat dirinya menangis.


***


Shinokawa duduk di kursi belakang penumpang van. Dia duduk seakan-akan berusaha untuk tidak melihat dan mendengarkan percakapan kami, mungkin dia merasa tidak enak untuk mendengar percakapan kami.

“Ternyata selain manis, dia gadis yang baik ya,” kata Akiho.

Hanya Akiho dan diriku yang sekarang berada di lapangan parkir ini. Akiho tadi meminta ijin untuk bicara empat mata denganku, jadi Shinokawa kembali ke mobil van sendirian dan menunggu diriku disana.

“Meski dia sendiri sudah memperoleh ijin untuk datang ke rumah dan membeli buku-buku di perpustakaan, dia tidak pernah meminta kepadaku untuk menjual buku ini kepadanya, meskipun dia tahu kalau ini adalah buku langka.”

Akiho mengatakan itu sambil memegang buku Kumpulan Kalimat-Kalimat Bijaksana yang dipercayakan oleh ayahnya. Akupun hanya bisa menggaruk-garuk kepalaku.

“Dia pasti punya alasan tertentu untuk melakukannya,mengesampingkan apa yang sudah dilakukannya.”

“Kau memang menyukai gadis-gadis yang seperti itu.”

“Apa maksudmu?”

Aku merasa kalau yang baru saja Akiho bicarakan adalah dirinya.

“Apa kau ingat sewaktu kita berdua baru saja menjadi dekat? Waktu musim panas kelas 2 SMA?”

“Eh? Yeah.”

Secara perlahan, meski kebingungan, akupun mengangguk. Kira-kira kenapa dia membicarakan hal itu secara tiba-tiba?

“Kita sepakat untuk mengerjakan PR liburan musim panas kita bersama-sama, dan kita selalu bertemu di perpustakaan. Sawamoto sendiri sibuk dengan kegiatan Klubnya dan berkencan dengan pacarnya, jadi dia tidak bisa datang dan bergabung. Akhirnya, yang ada disana hanya kita berdua...”

Akiho lalu melanjutkan.

“Sebenarnya, ini sesuatu yang tidak kau ketahui. Pertemuan-pertemuan itu memang sengaja didesain seperti itu.”

“Huh?”

“Aku memang merencanakan jadwal pertemuan kita di hari dimana Sawamoto tidak bisa datang. Jadi, kita berdua yang menghabiskan waktu bersama-sama sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan. Kupikir, Sawamoto sendiri pasti sedikit banyak sudah menduga hal itu.”

Akiho terus melanjutkan kata-katanya, sedang air matanya mulai mengering di wajahnya.

“Aku menyukaimu semenjak kelas 1 SMA. Jantungku berdetak kencang hanya karena bahu kita saling bersentuhan ketika kau melewatiku ataupun duduk di dekatmu ketika pergantian posisi kursi di kelas. Kuharap kau menyadari perasaanku itu suatu hari nanti...Meski kau akhirnya tidak pernah menyadarinya.”

“Be-Begitu ya...” akupun hanya bisa terbata-bata ketika mengatakannya.

Aku jelas-jelas tidak menyadari itu. Haruskah aku berterimakasih kepadanya karena sudah memikirkanku sebegitu jauhnya? Ataukah aku harus meminta maaf karena tidak menyadari perasaannya? Jadi, aku harus bagaimana?

“Tapi setelah kejadian itu, aku berhenti untuk bersikap pasif. Jika aku tidak menjadi aktif, maka aku tidak akan pernah memiliki peluang itu. Kau pasti akan menjadi pacar dari gadis lain.”

“Kejadian? Yang mana?”

Seperti para remaja laki-laki di SMA pada umumnya, aku tidak punya banyak kisah romantis yang bisa kuceritakan. Kupikir, aku tidak dekat dengan gadis lain selain Akiho.

“Daisuke, apa kau ingat ketika bukumu ketinggalan di sekolah dan kau akhirnya harus kembali ke sekolah pada hari Minggu untuk mengambilnya kembali? Itu sebelum musim panas kita di kelas 2 SMA. Apa kau ingat apa yang terjadi ketika kau pulang sehabis mengambil buku itu?”

“...Ah.”

Aku akhirnya paham apa yang dia bicarakan. Itu adalah momen dimana aku melihat Shinokawa di depan Toko Buku Biblia. Aku yakin waktu itu aku hanya bertemu dengannya tapi tidak mengobrol dengan dirinya. Kalau tidak salah, aku pernah memberitahu Sawamoto dan yang lainnya tentang itu di sekolah pada esok harinya. Yang Akiho bicarakan mungkin adalah kejadian itu.

“Sawamoto dan yang lainnya malah memaksamu untuk mengajak gadis yang kau temui itu untuk mengobrol. Kau waktu itu memang seperti tidak berani untuk melakukannya, tapi diriku serasa ingin pingsan dibuatnya...Itu seperti semacam pertanda buruk. Seperti, aku pasti akan kehilanganmu jika akhirnya kau benar-benar akrab dengan gadis itu. Akhirnya, aku bisa menjadi temanmu dan berhasil menutup jarak diantara kita sehingga muncul gosip-gosip tersebut...Semuanya itu sudah aku rencanakan.”

“Uhh...”

Aku sendiri merasa terkejut, tapi di saat yang bersamaan, semua yang dia katakan benar-benar terhubung dan masuk akal. Jadi itulah alasannya mengapa Akiho terlihat sangat tenang meski gosip-gosip itu sudah beredar kemana-mana.

“Yang kuharapkan menjadi kenyataan dan kita berdua mulai berpacaran, tapi aku akhirnya menyadari sesuatu. Aku tidak bisa menceritakan tentang situasi diriku kepadamu, tentang kedua orangtuaku, tentang hubunganku yang tidak akrab dengan orangtuaku. Aku tidak bisa menceritakan masalah-masalahku ke orang lain...Persis seperti masalah ayahku.”

Akiho tampak tertawa kecil untuk menghilangkan kesan depresinya. Cara tertawanya memang mirip ayahnya, tepatnya ketika almarhumah tertawa kepadaku di telepon pada bulan lalu.

“Pada akhirnya, itu juga menyeretmu ke dalamnya, dan akhirnya kita berpisah...Kupikir kita tidak akan pernah melihat lagi satu sama lain. Itu saja sudah membuatku ingin menjauh saja darimu. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Karena itulah, ketika aku mendengar dari Sawamoto kalau kau mendekati Shinokawa, aku merasa lega. Aku merasa waktu berhenti begitu saja dan egoku mulai tumbuh lagi.”

Di saat yang bersamaan, kedua mataku bertemu dengan tatapan Shinokawa, yang ternyata dia sedang melihatku dari jauh. Mungkin, dia khawatir dengan waktunya. Memang, beberapa buku masih tertinggal di Rumah Keluarga Kousaka, dan kita tidak bisa meninggalkan itu terlalu lama disana.

“Yang ingin kukatakan, yaitu kuharap kau bisa menemukan kebahagiaanmu. Akan bagus sekali jika kau bisa menjadikan hubungan kita yang pernah terjadi di masa lalu sebagai salah satu batu pijakan dalam perjalanan hidupmu...Karena aku benar-benar berharap kau bisa membina hubungan yang lebih baik dengan wanita yang kau cintai. Itu saja yang ingin kukatakan, kalau begitu aku pergi dulu ya!”

Setelah mengatakan semuanya, Akiho lalu berjalan menuju mobilnya.

Punggungnya seperti hendak mengatakan kalau dia akan menolak segala hal yang kukatakan kepadanya. Karena tidak ada satupun yang bisa kulakukan, akupun kembali ke van.

Ada sesuatu yang cukup menggangu di dadaku. Akupun tidak tahu harus mengatakan apa, tapi aku merasa kalau aku sudah punya kata-kata yang tepat untuk mengatakannya.

“Akiho!”

Akiho, yang hendak masuk ke mobilnya, menoleh ke arahku.

“Waktu itu, aku tidak paham apa yang sedang kau pikirkan...Tapi meski aku tidak memahaminya, aku masih bersedia untuk bersamamu.”

Kunaikkan nada suaraku untuk mengucapkan kata-kata terakhirku.

“Tapi waktu itu, aku benar-benar masih menyukaimu.”

Akiho hanya berdiri seperti orang bodoh. Tentu saja, aku sendiri tidak paham apa yang baru saja kukatakan itu. Akhirnya, dia tersenyum.

“Sampai jumpa, Daisuke.” dia membalasku dengan penuh semangat.

“Ah, sampai jumpa.”

Setelah berpamitan, kami kembali ke mobil kami masing-masing. Meski begitu, dia mengatakan 'sampai jumpa', aku merasa kalau ini bukanlah pertemuan terakhir kami.

Setelah melihat Akiho pergi meninggalkan tempat parkir, akupun kembali ke diriku yang biasanya. Shinokawa sendiri, hanya diam sambil membuka mulutnya. Wajahnya tampak memerah, dan sepertinya akan mendidih dalam waktu dekat. Kalau kupikir lagi, ternyata aku mengatakan 'menyukaimu' setelah membuka pintu mobil.

“Maaf ya...Aku tidak sengaja mendengarnya.”

“Ah, tidak apa-apa. Aku baru saja mengatakan hal-hal yang aneh ke Akiho meski kita sudah tidak lagi bersama...”

Sepertinya, jika aku berusaha menjelaskan lebih jauh, maka aku akan menggali kuburku sendiri. Kami akhirnya kembali ke Rumah Keluarga Kousaka dengan suasana mobil yang suram.

Setelah itu, kami hanya berbicara jika ada sesuatu yang benar-benar penting. Memindahkan buku-buku itu ke van tanpa mengatakan apapun. Satu-satunya momen dimana aku berhenti bekerja adalah ketika kakak Akiho memanggilku ke lorong.

“Aku tidak tahu kemana saja dirimu tadi, tapi tolong cepat bawa semuanya keluar.”

“Maaf yang tadi.”

Kurendahkan kepalaku sambil membawa tiga tumpukan buku. Setelah itu, aku melihat dirinya sedang memegang amplop uang di tangannya. Di salah satu sudut amplop itu, aku melihat nama Kousaka Akiho tertulis disana.

“Aku harus mengirimkan ini ke Kantor Pos hari ini. Jadi tolong bereskan dengan cepat.”

“Ah, baiklah.”

Kira-kira kenapa ya dia mengirimkan uang ke Akiho? Terlebih lagi, kenapa harus hari ini? Aku sebenarnya tidak boleh menanyakan itu karena aku sendiri adalah orang luar, tapi aku masih penasaran dibuatnya.

“Apa kau penasaran tentang ini?”

Mungkin, tatapanku itu memberikan tanda yang sangat jelas kepadanya tentang apa yang ada di pikiranku. Dia lalu menunjukkan amplop itu kepadaku.

“Ini adalah uang dari buku-buku yang terjual hari ini. Aku akan mengirimkannya ke Akiho. Aku berusaha memberikannya kepadanya waktu dia masih disini, tapi dia sangat keras kepala dan menolaknya. Benar-benar deh, dia itu selalu memberiku masalah.”

Dia lalu memasang ekspresi kesal. Ini adalah pertamakalinya bagiku melihat orang yang kesal tapi masih terlihat elegan.

“Jadi kau hendak memberinya uang penjualan buku-buku?”

“Aku sebenarnya malas untuk mengurusi uang yang jumlahnya kecil seperti ini...Meski begitu, ada saja kerabat kami yang menganggap uang ini terlalu banyak untuk diberikan ke Akiho.'

Aku langsung mengubah pendapatku tentang kakak Akiho, Mitsuyo. Awalnya, kupikir dia dan Akiho tidak akrab. Namun, ternyata tidak sesederhana itu. Seperti sifat ayahnya, dia mungkin tidak mengungkapkan perasaannya dengan baik ke saudarinya karena memang sifat bawaannya begitu.

“Goura Daisuke, tolong yakinkan Akiho ya, sehingga dia tidak menolak uang ini. Mencoba mengiriminya lagi akan menjadi masalah yang merepotkan untukku.”

Aku langsung memiringkan kepalaku. Kata-kata Mitsuyo seperti orang yang menganggap kalau Akiho dan diriku punya hubungan yang dekat. Memangnya Akiho pernah memberitahu kakaknya tentang kami berdua?

“Apa kau dulunya pernah kenal aku?”

“Huh? Tentu sajalah.”

Dia lalu mengernyitkan dahinya seperti keheranan dengan sikapku.

“Bukannya kau dulu menemani Akiho pulang ke rumah dan dengan keras memperkenalkan dirimu dengan mengatakan 'Nama Saya Goura Daisuke'.”

Lalu, dia menambahkan satu hal lagi.

“Dan juga, aku punya pendengaran yang baik.”

Kupikir, suaraku tidak akan mencapai penghuni di dalam rumah, dan itu artinya posisi Mitsuyo waktu itu mungkin berada di sekitar beranda yang menghadap ke kebun. Apakah dia khawatir dengan ayahnya yang berdiri lama di jalan setapak yang terbuat dari batu? Ataukah dia sedang menunggu adik tirinya yang mungkin terlihat seperti putrinya yang masih muda?

Pastinya, hanya Mitsuyo yang tahu kebenarannya.
            

***


 Setelah berbelok di perempatan depan Tsurugaoka Hachimangu dan menuju jalan propinsi yang menanjak, van mulai melambat karena berat dari tumpukan buku yang ada di belakang.

Kami sudah menyelesaikan pekerjaan kami dan sekarang sedang menuju Toko Biblia. Terlihat pucuk pohon Gingko Biloba yang mulai bersinar karena disinari cahaya matahari musim gugur.

“Kurasa kita bisa sudahi kegiatan kita hari ini setelah sampai di Toko...Kita bisa menyusun buku-buku ini besok saja.”

Shinokawa mengatakan itu dengan pelan sehingga aku hampir saja tidak bisa mendengarnya. Ini adalah satu-satunya hal yang dia katakan setelah kita pamit pulang ke Toko. Aku sendiri masih dalam proses menenagkan diri, tapi tampaknya dia sendiri tidak dalam proses yang sama denganku. Seperti biasanya, wajahnya tampak memerah meski tidak berbicara banyak.

“Daisuke...Pastikan kau istirahat yang cukup setelah kita kembali─̶─ besok kita pasti akan sibuk sekali.”

“Ya, pastilah...Huh?”

Akupun menoleh ke arahnya setelah menjawab itu.

Daisuke?

Kulihat ke arah kursi penumpang dan dia sedang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Ma-Maaf. Kousaka-san selalu memanggilmu dengan nama itu, jadi secara spontan aku...Seperti secara spontan begitu saja mengatakannya.”

“Aku tidak keberatan jika kau memanggilku Daisuke.”

Dipanggil dengan nama itu saja sudah membuatku bahagia. Aku merasa kalau kita sudah semakin dekat.

“Baiklah kalau begitu, aku akan melakukannya.” dia langsung setuju begitu saja.

“Daisuke...Daisuke...”

Dia mengulang-ulang kata-kata itu seperti berusaha mengingatnya dengan baik dalam pikirannya.

Kalau dipikir lagi, apakah ini yang dia maksud kalau dirinya ingin memanggil seorang pria dengan nama depannya?

“Kalau begitu, bolehkah kau kupanggil dengan nama Shioriko?”

Aku sebenarnya ingin mengatakannya dengan nada yang lebih santai, tapi ternyata tidak seperti yang kuharapkan. Pada akhirnya, tidak ada jawaban yang kudengar. Yang menjadi masalah dalam situasi ini adalah dia tidak mengatakan apapun─̶─ bahkan menolak-pun tidak.

Van kini berjalan di bawah tebing yang dibeton untuk menghindari longsor, lalu kita berjalan menuruni turunan bukit. Diriku yang sedari tadi penasaran, mencoba melihat ke arahnya. Kedua alisnya tampak hendak menyatu dan kedua matanya tampak tertutup. Daripada disebut sedang marah, sepertinya dia sedang kesakitan. Terlebih lagi, tarikan napasnya tampak tersengal-sengal.

“Shioriko?”

Kami berhenti di perempatan jalan yang berada di depan Kuil Tenchou.

“...Ya.”

Dia lalu sedikit membuka matanya yang berada di belakang lensa kacamata dan meresponnya dengan suara yang lemah.

Sikapnya yang seperti itu, membuatku memahami sesuatu. Akupun menaruh tanganku di keningnya. Kini aku sangat yakin, dia sedang demam.

“Tanganmu yang dingin itu...Terasa nyaman...”

Dia kemudian menunjukkan senyumnya yang lemah itu di wajahnya.

Aku sudah menduga kalau ada sesuatu yang aneh dengan Shioriko. Warna kulitnya terasa agak aneh dan dia tidak melepas mantelnya sama sekali, bahkan ketika kita sedang berada di dalam ruangan. Dia juga membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya ketika memecahkan misteri tentang buku. Dimana, misteri itu ternyata tidak begitu rumit. Ini pasti karena dia memaksakan dirinya meski dia sendiri tidak dalam kondisi yang baik.

“...Aduh sial.”

Aku harusnya menyadari ini lebih cepat.

Ketika lampunya berubah menjadi hijau, aku langsung menekan pedal gasnya.


(Entah kenapa aku tiba-tiba menyebut nama depan Shinokawa dalam situasi yang membingungkan ini, jadi untuk ke depannya aku akan memanggilnya Shioriko.)


Pintu masuk utama ke rumahnya berada di sisi yang berkebalikan dari pintu masuk toko.

Kuparkir mobilnya di tempat parkir dan akupun berjalan memutar menuju kursi penumpang. Shioriko melepas sabuk pengamannya dengan jari-jarinya yang tampak bergetar dan berusaha memakai tongkatnya untuk keluar dari mobil. Aku sendiri melihat adegan itu dengan bermandikan keringat, terlebih lagi ketika ujung tongkatnya mulai menyentuh lantai dan dia mulai goyah.

“Ah.”

Aku secara spontan menangkapnya sebelum dia jatuh menghantam lantai. Aroma tubuhnya yang lemah itu membuatku sedikit pangling.

“Ti-Tidak apa-apa...Aku bisa berdiri sendiri...”

Aku mendengar suaranya yang lemah. Meski begitu, tidak peduli seberapa lama aku menunggu, Shioriko tidak bisa berdiri. Dia benar-benar kehabisan tenaga.

Sepertinya hanya ada satu hal yang bisa kulakukan saat ini.

“Tolong bertahan sebentar.”

 Kutaruh lenganku di lutut dan punggungnya, lalu kuangkat dirinya. Akupun berlari dengan cepat sambil memegangnya seperti itu.

“Apa...Terasa berat...”

Dia menggunakan lengannya sendiri untuk menyelimuti tubuhnya.

“Tidak sama sekali...Tidak apa-apa.”

Jujur saja, aku tidak tahu apakah dia berat atau ringan karena situasi panik ini. Kubuka pintu rumahnya dengan kunci yang kuambil dari mantelnya dan yang kulihat hanyalah rumah yang sunyi. Sepertinya, adik dari Shioriko yang tinggal bersama dengannya, belum pulang dari sekolah.

Shioriko lalu berusaha menggerakkan kakinya untuk menjatuhkan sepatunya. Akupun membuang sepatuku juga dengan menggunakan kibasan kakiku. Kamarnya berada di lantai dua. Aku lalu melewati lorong yang berderit itu dan melihat pijakan tangganya dengan hati-hati. Akan sangat buruk sekali jika aku terpeleset dan kami berdua jatuh dari tangga.

“Kalau boleh, bisakah kau memegangiku dengan erat?”

Suaraku keluar dengan nada yang sangat panik.

Aku berpikir apakah menunggunya dahulu atau tidak, tapi dia langsung menurut dan melingkarkan lengannya di punggungku. Dadanya seperti menekanku dengan tekanan yang diluar dugaanku, meski begitu aku tetap fokus untuk menaiki tangga ke lantai dua. Aku masih bisa merasakan panas di tubuhnya dan desahan napasnya. Kuputuskan untuk mengerahkan segenap konsentrasiku untuk menaiki tangga ini.

Kubawa Shioriko ke kamarnya di lantai dua dengan hati-hati agar tidak menabrak tumpukan buku disana. Kubaringkan dia di kasur yang berada di dekat jendela dan akupun mendengar desahan napasnya yang bernada lega.

Mantel Shioriko yang terbuat dari bulu itu memiliki kancing yang terpasang hingga atas. Akan lebih baik jika dia melepas mantel itu. Dengan sedikit ragu, akupun membuka kancing-kancing mantel itu. Meski aku tahu kalau ini adalah situasi darurat, jujur saja aku tidak ingin seorangpun tiba-tiba muncul di ruangan ini dan melihatku melakukan ini

“Apa yang kau lakukan?”

Aku mendengar suara yang berasal dari belakangku. Dengan perlahan, aku menoleh ke arah tersebut dan mendapati seorang gadis dengan rambut ponitail dan memakai blazer berwarna biru gelap sedang menyilangkan lengannya di lorong. Dia adalah adik Shioriko, Shinokawa Ayaka.

“Ah, begini...Kami baru pulang dari kunjungan ke rumah pelanggan, tapi dia sepertinya sedang demam.”

Sebelum aku menyelesaikan penjelasanku, Ayaka langsung bergegas ke kasur, dia dengan lincahnya menghindari tumpukan buku yang berada di ruangan ini.

“Ah─̶─ Sudah kuduga! Tunggu sebentar, aku akan segera kembali!”

Entah mengapa, aku selamat dari situasi salah paham. Ayaka lalu berlari keluar dari ruangan dan kembali dari lantai satu dengan membawa bantal es, handuk, dan baskom air. Setelah itu, dia mengambil piyama dan pakaian dalam dari lemari dan melemparnya ke arah kasur satu persatu. Untuk berjaga-jaga, aku sengaja untuk tidak melihat ke arah pakaian dalam itu.

Kan sudah kubilang kalau kegiatanmu untuk membeli buku di rumah pelanggan itu agak...Ini, buka mulutmu, Shioriko.”

Ayaka lalu menaruh termometer di mulut kakaknya sambil memasang ekspresi kesal. Aku baru saja menyadari, sepertinya adiknya ini adalah orang yang bertanggungjawab terhadap rumah dan penghuninya. Dia ternyata sangat terlatih dalam hal ini.

“Apa kondisinya sangat buruk?”

“Mm, sebenarnya ini hanya demam biasa, tapi menjadi seburuk ini karena dia harus mengajarimu melakukan pekerjaan dan menyiapkan berbagai hal. Tadi malam dia terbangun hanya untuk menulis berbagai catatan persiapan. Seperti bagaimana menyapa pelanggan dan bagaimana menyiapkan daftar pembeliannya, ya semacam itulah.”

“Eh...”

Dengan kata lain, dia memaksakan dirinya demi diriku. Satu-satunya alasan mengapa dia tampak bisa berkomunikasi bersama pelanggan dengan baik adalah agar aku bisa belajar darinya.

Jadi semua ini untuk itu, huh.

Akupun merasa malu pada diriku sendiri.

Aku tidak menyadari apapun hari ini. Satupun hal tentang Shioriko dan juga Akiho.

“Well, setidaknya dia terlihat seperti sedang menjalani hari yang menyenangkan hari ini. Ya begitulah Shioriko.”

Ayaka mengatakan itu sambil melepas mantel Shioriko dari lengannya.

“Menyenangkan?”

“Yeah. Segala persiapan yang dia lakukan itu mirip sewaktu dirinya masih SD dan hendak mengikuti darmawisata.”

Karena Shioriko hendak mengganti pakaiannya ke piyama, jadi kuputuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Buku-buku yang bertumpuk di lorong tampak disinari oleh seberkas cahaya yang muncul dari celah-celah atap. Banyak sekali buku-buku yang berbeda ketika aku pertamakali ada di ruangan ini. Mungkin lebih tepatnya, jumlah buku-bukunya tampak lebih banyak dari sebelumnya. Jika terus seperti ini, buku-buku ini pada akhirnya akan bertumpuk di tangga karena kehabisan ruang.

Kulihat dari jendela yang berada di samping, hari mulai beranjak gelap. Ini benar-benar sebuah hari yang panjang. Untungnya, demam dari Shioriko tidaklah benar-benar serius. Aku sendiri masih merasa khawatir dengannya, meski aku sebenarnya sudah diminta oleh Shioriko untuk pulang dan istirahat sebelumnya.

Kedua mataku akhirnya tertuju ke tumpukan buku-buku yang berada di dekat dinding. Ada sebuah buku yang punggung bukunya menghadap ke arahku dan aku ingat kalau aku pernah melihat itu sebelumnya─̶─ Cra Cra Diary karya Sakaguchi Michiyo.

“Ini apa sih?”

Aku pernah melihat buku ini ditaruh di trolly diskonan. Sebenarnya, ini adalah salah satu buku koleksi Shioriko, tapi koleksi buku ini akhirnya diputuskan untuk dijual saja karena Shioriko sendiri merasa tidak bisa menyukai buku ini.

Akupun mengambil buku itu secara spontan dan berusaha memastikannya. Ini benar-benar buku yang kumaksud tadi. Artinya, dia masih memiliki buku ini meski dia sendiri tidak menyukainya.

Akupun memiringkan kepalaku dan menaruh kembali buku tersebut. Kebetulan, aku melihat bagian dari lukisan yang berada di belakang tumpukan buku-buku itu. Itu adalah seekor burung yang berwarna putih dan berdiri di atas tumpukan buku-buku. Aku juga ingat kalau dulu pernah melihat lukisan ini.

Aku ingat kalau dulu aku pernah diberitahu kalau Cra Cra artinya adalah merpati. Aku tidak sadar kalau burung yang ada di lukisan ini adalah burung yang sama, entah mengapa aku selalu penasaran dengan lukisan ini sejak pertamakali melihatnya. Memangnya, bagian bawah lukisan ini seperti apa sih?

Kujulurkan tanganku dan meraih ujung kanvas lukisan itu. Yang sedang berkeliaran di kepalaku saat ini, adalah tulisan dari Shiba Ryoutarou yang kubaca hari ini.


...Jujur saja, aku tidak suka dengan detektif yang muncul di novel misteri. Kenapa mereka sampai repot-repot sejauh itu untuk membongkar rahasia orang lain? Aku tidak paham apa yang membuat mereka betah dengan aktivitas yang semacam itu.


Keraguanku itu hanya bertahan untuk sebentar saja. Aku benar-benar bukanlah seorang detektif dan aku tidak tahu apakah lukisan ini adalah rahasia dari seseorang atau tidak. Yang kutahu, benda ini ditaruh disini pasti tanpa alasan tertentu; melihatnya sejenak pasti bukanlah sebuah masalah. Kuambil lukisan itu keluar dari tumpukan buku-buku yang ada di dekat dinding. Dilukis di sebuah kanvas, disana ada seorang wanita muda sedang duduk di kursi. Ada tumpukan buku-buku yang menghiasi latar belakang wanita itu, sementara burung putih tersebut sedang bertengger di atas kursi.

Wanita muda itu memiliki rambut hitam panjang dan memakai blus putih dengan kombinasi rok panjang. Dia sedang melihat ke arah buku yang berada di depannya dan disana ada sebuah kacamata yang berada di pangkuannya.

“Apa ini Shioriko?”

Wanita yang ada di lukisan ini mirip dengannya.

Aku tidak tahu siapa yang melukis ini, tapi siapapun orangnya, pastilah sangat ah─̶─


Tunggu dulu.


Ada keanehan disini. Warna lukisan ini tampak sedikit memudar dan kanvasnya sendiri terlihat sangat berdebu.


Dengan kata lain, ini bukanlah hasil lukisan yang dilukis beberapa tahun belakangan.


Kulihat secara seksama di salah satu sudut lukisan itu, tapi aku tidak bisa menemukan judul ataupun nama pelukisnya. Kubalik lukisan itu untuk melihat apa yang ada di balik lukisan tersebut. Ada beberapa angka yang tertulis dengan pensil disana.



1980.6.24



“Eh...?”

Aku kehilangan kata-kata. Ini hampir 30 tahun lalu...Mustahil sekali. Kulihat dengan cermat wanita yang ada di lukisan tersebut. Dilihat berkali-kalipun, wanita di lukisan ini pasti Shioriko, bukan wanita yang lain. Tapi, Shioriko sendiri mustahil dilahirkan 30 tahun lalu.


─̶─Ini artinya, wanita dalam lukisan ini pasti bukanlah Shioriko.


Akupun masih berdiri dengan dipenuhi rasa keterkejutanku sambil menaruh tanganku di kanvas lukisan.

Suara-suara ciutan burung-burung yang biasa kudengar di sore hari mulai tidak terdengar dari kejauhan.

─̶─Chapter 2 END─̶─


Prev | ToC | Next