Tolong matikan adblock dan script blocker Anda untuk melihat halaman ini.

─̶─Jika ingin meng-COPY tolong sertakan sumber :D─̶─


Penerjemah : AOI


Chapter 1

Anthony Burgess
"A Clockwork Orange"
(Hayakawa Paperback NV)



Aku benar-benar tidak tahu apapun soal buku. Ini adalah sesuatu yang aku sendiri sadari dengan baik. Bukan juga sesuatu yang aku sendiri banggakan. Tapi jujur saja, begitulah kondisiku saat ini.

Cerita ini bermula ketika sebuah fax tiba tepat ketika hari mulai beranjak sore. Si Pemilik Toko, Shinokawa, sedang pergi ke rumah untuk makan siang, dan aku ditinggal sendirian olehnya di toko ini.

Kumanfaatkan datangnya fax itu untuk beristirahat sejenak dari menempelkan harga-harga terbaru bagi buku diskonan yang berada di trolly. Ketika mesin fax tersebut memunculkan pesannya, akupun mendatangi mesin itu.


Aku sedang mencari buku tulisan Kunieda Shirou, satu set koleksi lengkap dari bukunya yang berjudul Ivy Wood Crosspiece, dicetak oleh Tougen Publishing. Nanti akan kutelepon untuk menanyakan kabar buku tersebut.


Sepertinya, itu adalah permintaan tentang koleksi buku dari toko ini. Memang, selama ini kita menerima fax ataupun telepon dari pelanggan yang mencari buku-buku tertentu. Meski akan terasa sangat efisien jika mencarinya lewat katalog buku ataupun website toko ini, banyak pelanggan-pelanggan tua yang tidak menggunakan telepon ataupun komputer.

Kulihat kertas fax itu lagi, lalu kudekatkan wajahku untuk membacanya sekali lagi. Tulisan tangan yang tidak jelas dan tidak teratur ini bukanlah satu-satunya alasan aku kesulitan untuk membaca fax ini.

Tougen adalah nama perusahaan penerbitannya, dan Kunieda Shirou adalah nama penulisnya. Sedang judulnya sendiri, benar-benar misterius bagiku.

“Satu set lengkap...Ivy...Crosspiece...?”

Aku tidak paham. Judulnya terdengar tidak masuk akal, tidak peduli bagaimana caraku mengejanya. Kutatap pintu yang menuju ke arah rumah Si Pemilik Toko. Shinokawa pasti tahu apa maksudnya jika aku bertanya kepadanya.

Telepon toko tiba-tiba berbunyi ketika aku menaruh tanganku di gagang pintu. Sambil memegang kertas fax tersebut, aku mengangkat telepon itu dengan tanganku yang satunya.

“Terima kasih sudah menelepon Toko Buku Antik Biblia, anda sedang berbicara deng–“

“–Soal fax yang kukirimkan beberapa saat lalu.”

Suara dari seorang laki-laki di telepon langsung memotongku. Suaranya yang ramah tersebut memiliki logat Kansai. Dia bilang beberapa saat lalu, tapi ini belum satu menit sejak fax itu tiba.

“Apa kalian memilikinya? Koleksi buku tulisan Kunieda Shirou.”

Dia terus menekanku, seolah-olah sedang terburu-buru untuk mendapatkan jawabannya.

Aku akan sangat senang jika dia memberikan keterangan-keterangan yang lebih detail tentang buku itu, tapi tampaknya dia ini tidak punya rencana lain selain menunggu jawabanku.

“Saya akan memeriksanya dulu. Apa anda tidak keberatan untuk menunggu sebentar?”
Kuhentikan jariku ketika hendak menekan tombol Hold di telepon. Aku memang bilang kalau akan memeriksanya dahulu, tapi bagaimana aku bisa mencarinya jika aku tidak tahu jenis buku apa yang dia inginkan?

“Err...Apakah buku ini...Novel?”

“Tentu sajalah. Masa kau tidak tahu?”

Akupun mulai menelan ludahku, dan rasa gugup ini mulai menyelimuti tubuhku. Aku tidak boleh berbohong kepadanya.

“Saya memang tidak tahu soal itu. Mohon maaf.”

Lalu kudengar suara-suara kecil di ujung telepon. Entah apa dia terkejut mendengar responku, ataukah dia sedang berusaha menahan tawanya.

“Apa cuma ada kamu di toko pada saat ini?”

“Benar sekali.”

“Ah, begitu ya. Kau ini masih amatir ya, benar tidak?”

Dia tiba-tiba menutup teleponnya, membiarkan teleponku menggantung begitu saja. Tanpa kusadari, punggungku mulai berkeringat dingin.


Pelanggan yang benar-benar marah tidak akan mau menerima permintaan maaf. Jangan pernah lupakan itu.


Nasehat dari almarhumah Nenekku muncul secara tiba-tiba di pikiranku. Itu adalah sebuah nasehat dari orang yang menjalankan usaha restoran selama berpuluh-puluh tahun di Ofune, tapi benar-benar menjadi nasehat yang sempurna dalam situasi ini.

Aku telah membuat seorang pelanggan marah. Karyawan toko buku yang macam apa, menanyakan hal-hal semacam itu kepada pelanggannya?

“Apa terjadi sesuatu?”

Seorang wanita berambut hitam dan panjang tibat-tiba muncul di sebelahku, melihat ekspresi wajahku dari balik kacamatanya. Dia adalah Si Pemilik Toko, Shinokawa. Aku tidak sadar kalau dia sudah kembali dari rumah.

“Apa ada telepon dari seseorang?”

“Ya, dia menanyakan tentang koleksi buku kita. Dia mengirim fax terlebih dahulu sebelum menelpon, tapi...”

Memberitahunya mengenai apa yang terjadi benar-benar membuat hatiku menjadi berat, tapi aku memberinya kertas fax tersebut. Ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi antusias.

“Oh, ini buku ini sebenarnya memiliki judul asli ‘Jembatan Ivy di Kiso’. Dicetak oleh Tougen Publishing.”

“I-Ivy...?”

“Itu adalah nama jembatan gantung di Kiso. Ceritanya sendiri memang sangat menarik. Itu adalah novel legenda yang terbit di jaman Taisho, bercerita tentang dua orang bersaudara yang melakukan perjalanan untuk membalas dendam kepada Tuan Tanah di Kiso yang telah membunuh kedua orangtua mereka. Aku pernah membacanya ketika muda dulu...Ngomong-ngomong, karakter utamanya...”

“Tu-Tunggu dulu.”

Akupun menyadarkan diriku sebelum tersedot oleh ceritanya itu. Jujur saja, aku benar-benar ingin mendengar cerita itu, tapi memberitahunya tentang apa yang terjadi barusan adalah hal prioritas untuk saat ini.

“Sebenarnya, pesanannya itu sudah dia batalkan. Itu karena salahku, aku melakukan sesuatu yang salah ketika berbicara dengan pelanggan.”

Akupun menjelaskannya secara singkat, dan tidak mencari-cari alasan pembenaran. Dia mendengarkan hingga akhir, dan menganggukkan kepalanya, lalu dia dia bersandar di kruk yang ada di tangan kanannya. Lalu, dia menatap kembali kertas fax yang berada di tangannya.

“Dan nomor pengirim di fax itu juga tidak ditampilkan...”

Dia mengatakan itu dengan ekspresi agak menyesal. Sederhananya, kita tidak bisa menelpon orang itu kembali hanya untuk sekedar meminta maaf. Kejadian ini memang sungguh disayangkan, karena kita memang memiliki buku itu disini.

“Maafkan aku.”

Kurendahkan kepalaku untuk meminta maaf.

Rasa penyesalanku ini pasti terlihat jelas di wajahku, karena dia tiba-tiba menepuk kedua tangannya dan berusaha untuk memberiku semangat.

“Ti-Tidak apa-apa...Begini, kau kan baru bekerja disini, jadi tidak masalah jika kau tidak tahu tentang semuanya. Kau mungkin merasa tidak berguna untuk saat ini, tapi pengalaman-pengalaman itu akan membuatmu lebih baik ke depannya.”

“....”

Aku tahu, aku ini benar-benar tidak berguna. Mendengar itu secara langsung malah membuatku bertambah depresi saja.

Aku – amatir yang tidak berguna, Daisuke Goura – mulai bekerja disini ketika Shinokawa sedang dirawat di rumah sakit karena cedera kaki. Aku, berkenalan dengannya karena meminta bantuannya untuk memberikan penilaian tentang Koleksi Lengkap Souseki yang diwariskan oleh Nenekku.

Selain pengetahuannya tentang buku-buku, Shinokawa juga punya kemampuan spesial. Dia bisa memecahkan misteri-misteri yang berada di sekeliling buku-buku itu, hanya dengan petunjuk yang sedikit dan cerita-cerita orang yang dia dengar. Rahasia dibalik Koleksi Lengkap Souseki yang diwariskan Nenekku itu bisa dia ungkap begitu saja.

Shinokawa adalah orang yang memintaku untuk bekerja di toko. Waktu itu aku masih pengangguran, dengan kelebihan fisik sebagai satu-satunya keunggulanku. Meski aku tidak bisa membaca buku, aku masih memiliki minat kepada buku. Aku tidak punya alasan untuk menolak tawaran dari seorang wanita cantik yang suka membicarakan tentang buku.

Dan begitulah, akhirnya aku menjadi karyawan di Toko Buku Antik Biblia, dan bisa melihat kemampuan Shinokawa yang luar biasa dalam memecahkan berbagai misteri dibalik buku-buku tua tersebut. Tapi, insiden yang diakibatkan oleh buku bajakan dari karya Osamu Dazai, Belakangan Ini, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini.

Shinokawa akhirnya bisa lolos dari maniak buku tua, baik hidupnya dan buku tersebut bisa terselamatkan. Tapi, metode yang dia gunakan itu mengorbankan kepercayaan diantara kami berdua. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa kuterima begitu saja.

Setelah dia keluar dari rumah sakit, dia mendatangi diriku dimana aku sendiri waktu itu sedang mencari lowongan pekerjaan. Dia memberiku edisi perdana dari Belakangan Ini yang di anggap sebagai sesuatu yang paling berharga darinya, untuk memperbaiki hubungan kita.

Aku tidak menerima buku itu, malah aku hanya memintanya untuk menceritakan dengan detail cerita dari buku Belakangan Ini tersebut. Begitulah, akhirnya kami berdamai. Setelah dia selesai menceritakan itu, ditemani oleh cahaya matahari senja,dia tiba-tiba memasang wajah yang serius dan membetulkan posisi duduknya.


“Aku...Um...Kalau...Kau...”

Dia mengatakan sesuatu yang aneh.

Aku mempersiapkan diriku dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“...Kembali lagi...Ke toko...”

Sepertinya, dia memintaku untuk bekerja kembali di toko. Wajahnya memerah dan ekspresi manisnya ini memang benar-benar membuatku terpesona.

“...Ka-Karena...”

Mendengarkannya berbicara memang membuat hatiku tergerak. Membuatku untuk mempertimbangkan kembali tawarannya, tapi ada hal lain yang membuat situasiku saat ini menjadi sulit.

Aku merasa kalau interview yang kulakukan tempo hari akan memberiku kabar yang baik, sehingga aku sangat kesulitan untuk menerima tawarannya. Juga, mungkin dia juga merasa kesulitan untuk memintaku meninggalkan semua ‘pencarian lowongan pekerjaan’ ini ketika aku berbincang dengannya saat ini, masih memakai setelan jas untuk interview.

Pada akhirnya, aku putuskan untuk memberikan jawabannya di lain kesempatan.

“Bolehkah jika aku memberikan jawabanku dalam beberapa hari lagi?”

“Ah, ba-baiklah.”

Percakapan kami berakhir disana. Setelah melihatnya pulanng ke Kita-Kamakura menggunakan taksi, tawarannya barusan mulai menghantui pikiranku. Apakah aku akan terus melanjutkan pencarianku akan pekerjaan yang layak untukku? Ataukah aku terima saja tawarannya untuk bekerja paruh waktu dimana bossku adalah pemilik toko buku antik yang cantik dan eksentrik?

Ternyata, jawabannya tersaji dengan mudahnya. Beberapa hari kemudian, ada pemberitahuan dari Perusahaan Makanan yang kudatangi untuk interview itu, dan memberitahuku kalau aku tidak diterima oleh mereka. Mereka menyebut kalau harga-harga sekarang sedang membumbung tinggi, kondisi keuangan yang sedang ketat, dan juga banyaknya pelamar untuk posisi yang bisa dihitung jari, adalah alasan mengapa mereka tidak bisa menerimaku. Ada juga tambahan kalau mereka berharap masa depanku kelak akan lebik baik dari sekarang ini.

Akupun mencoba mencari-cari informasi mengenai perusahaan itu di intenet dan menemukan fakta kalau banyak sekali pelamar pekerjaan ke perusahaan mereka yang merasa yakin setelah interview dengan mereka, akan merasa kalau mereka akan menerimanya. Aku ternyata salah satu dari orang-orang ini.

Shinokawa lalu menelponku ketika aku masih dihinggapi depresi karena tidak mendapatkan pekerjaan itu. Dia tidak punya satupun alasan untuk menelponku, tapi dia benar-benar berusaha menepati janjinya untuk tetap menghubungiku. Kuberitahu kepadanya tentang apa yang terjadi dengan interview yang tempo hari, setelah itu aku bertanya kepadanya apakah tawaran pekerjaan untuk bekerja di tokonya tempo hari masih terbuka atau tidak.

“Te-Tentu saja masih! Aku berharap bisa bekerja bersama denganmu lagi.”

Dia terlihat terkejut dan terasa antusias ketika mengatakannya.


Dan akhirnya, aku kembali lagi ke tempat dimana diriku seharusnya berada.


***


“..Berikutnya, bisakah kau taruh buku-buku ini di sana? Di deretan nomor dua rak buku itu.”

Suaranya terdengar olehku.

“Ah, oke.”

Kuambil tumpukan buku yang berada di kasir itu dan membawanya ke rak yang dia tunjuk, rak yang berada dekat pintu masuk. Rak buku ini adalah rak buku untuk buku tentang sejarah Jepang, dan banyak sekali tempat kosong di rak ini. Kutaruh buku-buku yang bersampul gelap ini di raknya.

Shinokawa setiap harinya membuatku sibuk dengan mengatur ulang posisi buku di toko setelah aku bekerja kembali di toko. Biasanya, toko buku akan mengisi kekosongan di rak dengan buku-buku yang belum pernah dipajang sama sekali. Meski toko kami ini memiliki banyak sekali pelanggan tetap, tidak akan ada yang mau datang ke toko jika susunan buku di raknya hanya itu-itu saja.

Mungkin semua buku yang ada di rak ini adalah buku-buku tua, tapi bukan berarti kita bisa terus-terusan menaruh buku yang sama di etalase toko. Kalau dipikir-pikir lagi, ini cukup masuk akal.

Para pelanggan yang datang ke toko dan membawa bukunya mulai ramai setelah Shinokawa kembali dari rumah sakit. Untuk sementara ini, kami hanya bisa membeli buku jika si pelanggan membawa bukunya ke toko, tapi kami memiliki rencana untuk mengaktifkan lagi program “mendatangi pelanggan” untuk membeli buku mereka langsung di rumah si pemilik buku tersebut.

Shinokawa sendiri, sedang berada di depan komputernya untuk mengatur pemesanan lewat website sambil memberikan instruksi kepadaku. Belakangan ini, dia mengupdate katalog buku dengan koleksi-koleksi baru toko kami.

Suasana toko ini sangat berbeda ketika aku bekerja sendirian. Ini karena kemunculan si pemilik toko.

Tapi, masih ada saja masalah yang tidak hilang-hilang dengan kehadirannya disini.

“Shinokawa, aku harus menaruh buku ini dimana?”

Kubalikkan badanku ke arahnya dan memegang buku karya Nawa Yumio yang berjudul Ensiklopedia Jutte, Teknik Untuk Menangkap. Dia sendiri tersembunyi dibalik tumpukan buku yang ada di kasir, jadi yang terlihat darinya hanyalah sedikit bagian dari tubuhnya saja.

“Tolong taruh di tingkat ketiga rak yang sebelah sana, di samping buku Sistem Sosial di Edo.”

Shinokawa menjawabku dan kembali lagi fokus dengan pekerjaannya. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun dari buku yang dibacanya.

Biasanya, kebiasannya itu tidak menghambatnya untuk melakukan pelayanan kepada pelanggan, meskipun dia kadang agak ketus ketika menanyakan nomor KTP pelanggan dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang harusnya dilakukan karyawan toko buku. Tapi kalau berbicara soal buku, dia tiba-tiba berubah menjadi seorang penceramah.

Perubahan sikapnya itulah yang biasanya membuat para pelanggan kaget, dan mereka sering mencari-cari alasan untuk secepatnya pergi dari toko.

Setiap kali ini terjadi, dia langsung kembali membaca bukunya, dan memasang ekspresi kelelahan. Meski dia tidak mau mengakui itu, skillnya dalam menghadapi pelanggan ternyata tidak bagus-bagus amat. Sebenarnya, akar masalahnya bukan di skillnya, tapi di sifatnya – dia memang tidak benar-benar cocok untuk hal itu.

Aku biasanya melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak sekali pengetahuan, misalnya mencatat pembayaran dari pelanggan. Untuk sementara, bagi seorang amatir, inilah yang bisa kulakukan.

“Sudah hampir masuk jam tutup toko, benar tidak?”

Shinokawa mengatakan itu dari balik tumpukan buku di kasir. Dia menatap ke arah jendela dan melihat sinar matahari senja yang memantul di aspal jalanan. Tanpa sadar, ternyata hari sudah menjelang petang.

“Kebetulan, aku juga selesai dengan yang disini. Mau kuhitungkan data-data yang masuk hari ini?”

“Ya, kalau boleh.”

Ketika aku berjalan menuju kasir, sesuatu menarik perhatian kedua mataku. Itu adalah bagian rak untuk novel jaman dulu dan novel detektif, dan Jembatan Ivy di Kiso berada tepat di sebelah Koleksi Karya Edogawa Ranpo.

Seperti seolah-olah diluar kuasaku, aku mengambil buku itu dari raknya dan membuka halaman pertama. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri, tapi itu karena kondisi spesialku, bukan karena isi buku tersebut. Dengan cepat, mataku mulai membaca beberapa kalimat. Sepertinya, suasana novel ini terjadi ketika jaman peperangan dulu.

Ada dua pria sedang menggosipkan tentang seorang PSK yang paling cantik.


“Mustahil, bagaimana jika ada roh jahat yang merasuki wanita itu…?”

“Roh jahat? Apa maksudmu dengan kerasukan?”

“Kau tidak tahu?”

“Ini hanya gossip yang kudengar saja, katanya si Niodori itu dikelilingi oleh semacam kutukan.”

“Huh, ini pertamakalinya aku mendengar soal itu.”

“Katanya, dia itu pergi dari dunia ini ke dunia arwah setiap malam tiba. Dengan kata lain, dia seperti mati. Dan tidak lama kemudian, dia hidup lagi!”


Sepertinya, Niodori adalah nama si PSK itu. Apa maksud mereka ketika mereka mengatakan kalau wanita ini hidup lagi setelah mati? Meski aku sendiri penasaran dan ingin membacanya sedikit, tapi aku masih punya pekerjaan disini, jadi aku menaruh buku itu kembali.

Kata Shinokawa, dia membaca buku itu semasa muda dulu. Tapi, kupikir buku ini dibaca oleh kalangan orang dewasa. Juga, banyak sekali huruf-huruf kanji yang kompleks. Kira-kira, apa dia tahu buku ini menceritakan apa?

“Pasti kau akan berpikir kalau wanita ini ternyata sudah membaca buku-buku sulit sejak muda, huh?”

Shinokawa tiba-tiba menegakkan kepalanya dari buku yang dia baca. Kutunjukkan kepadanya sampul dari Jambatan Ivy di Kiso. Dia lalu tersenyum malu-malu dan kembali menatap buku yang dia baca.

“…Aku waktu itu bisa belajar kanji dengan cepat.”

Aku hanya bisa mendengar suaranya saja.

“Aku suka membaca manga dan buku anak-anak, aku juga tertarik dengan buku bacaan orang dewasa. Dan…Aku biasanya memakai uang saku bulananku untuk ke Toko Buku Shimano dengan sepedaku, dan menatap keseluruhan rak buku disana; satu persatu. Kubeli Jembatan Ivy di Kiso itu sekitar waktu itu karena mereka menerbitkan ulang buku itu dengan edisi yang bersampul tipis.”

“Shimano katamu; Apakah itu artinya kau dulu sampai pergi sejauh itu ke Ofune?”

Ada Toko Buku Shimano di area perbelanjaan yang terletak di Stasiun Ofune, dimana aku dibesarkan waktu kecil dulu. Mungkin, kita dulu pernah bertemu secara sekilas ketika kita masih kecil.

“Tidak juga. Aku pergi ke kedua toko itu, toko yang cabang Ofune dan cabang Kita-Kamakura, karena kedua toko itu menjual buku-buku dari penerbitan yang berbeda.”

“Huh?”

Kita-Kamakura, tempat dimana aku berada saat ini, berada diantara Stasiun Ofune dan Kamakura. Meski kau ini orang dewasa, pulang-pergi antara dua stasiun itu adalah hal yang sulit. Belum lagi jalannya yang menanjak. Aku mencoba membayangkan adegan Shinokawa yang masih SD naik sepeda menuju salah satu toko buku tersebut, tapi aku sangat sulit untuk membayangkannya.

Kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak tahu banyak tentangnya.

Dia lahir dan dibesarkan di daerah sekitar sini, mewarisi Toko Buku Antik yang ditinggalkan oleh Ayahnya setahun lalu, dan dia sangat menyukai buku– dan selanjutnya, aku tidak tahu apapun tentangnya.

“Shinokawa, apa saja yang kau…” kataku, tapi kata-kataku tadi dipotong.

Pintu kaca toko ini terbuka, dan seorang gadis berambut pendek yang tinggi masuk ke toko. Dia memasang ekspresi yang kaku. Blus lengan pendek dan rok abu-abu yang dia pakai itu, melambangkan sebuah SMA yang berada di tengah perjalanan menuju gunung di dekat sini. Itu adalah SMA dimana aku bersekolah dulu.

“Yo.”

“Halo.”

Nao Kosuga sedikit menundukkan kepalanya dan melihat-lihat ke sekeliling toko. Sikap dan ekspresi wajahnya ini memang mengesankan kalau dia ini adalah gadis tomboy.

“Apa yang punya toko ini ada disini?”

“Eh? Err…”

“Bukan begitu, tidak apa-apa kalau orangnya tidak ada…Salahku juga karena tidak menelpon dan bertanya dahulu.”

Sepertinya, dia langsung menyimpulkannya begitu hanya dengan melihat situasi toko ini, sedang Shinokawa sendiri ‘tersembunyi’ dibalik tumpukan buku di kasir.

Aku terus menatap ke arah tumpukan buku dimana ada Shinokawa di belakangnya dengan penuh tanda Tanya.

Aku baru menyadarinya, tapi gadis ini benar-benar jarang tinggal lama-lama di toko ketika Shinokawa ada disini. Dia ini sebenarnya seorang pencuri dalam kasus yang melibatkan kami di masa lalu, tapi pada akhirnya, dia meminta maaf ke sang korban dan sang korban sendiri memaafkannya, dimana itu sama saja dengan mengatakan kalau kasusnya sudah selesai. Orang yang menyelesaikan kasus itu adalah Shinokawa.

Siswi SMA ini tidak bisa melupakan keterkejutannya ketika Shinokawa mengungkap kalau dialah pelakunya. Setelah itu, dia seperti merasa aneh jika bertemu Shinokawa lagi, mungkin karena dia merasa kalau Shinokawa bisa membaca pikirannya. Shinokawa sendiri juga tahu, kalau siswi SMA ini berusaha untuk menghindarinya.


Mungkin sebenarnya, dia sengaja menyembunyikan dirinya dibalik tumpukan buku-buku itu karena tidak ingin membuat situasinya bertambah aneh.


“Sebenarnya begini, aku kesini mau mendiskusikan sesuatu denganmu, Goura.”

Dia lalu mendekatkan tubuhnya kepadaku seperti kata-katanya yang akan dia katakan selanjutnya itu tidak ingin didengar oleh orang lain.

“Diskusi, denganku?”

“Ya, tidak masalah kan?”

Entah kenapa dia bertanya seperti itu kepadaku, tapi ini adalah keinginan pelanggan.

“Apa kau pernah baca A Clockwork Orange?”

“Tidak, belum pernah.”

Aku pernah mendengar judulnya, tapi aku sendiri tidak tahu itu tentang apa. Kupikir, itu adalah judul dari film yang sudah tua. Ternyata, ada juga buku yang judulnya seperti itu.

Tampaknya, jawabanku bukan jawaban yang dia ingin dengar.

“Kupikir kau sudah membacanya. Bukannya kau ini kerja di Toko Buku Antik?”

Kalau dia mengatakan itu, sepertinya dia tidak tahu mengenai situasi diriku yang tidak bisa membaca buku. Dia pasti datang kesini karena berpikir kalau aku bisa dia ajak untuk berdiskusi soal buku. Tapi jika dia benar-benar ingin berdiskusi mengenai buku, maka orang yang paling cocok untuk itu sedang bersembunyi di ruangan ini.

“Ya maaf saja,” kataku datar.

“Jangan khawatir. Ngomong-ngomong, ini hanya suatu hal yang terlintas di pikiranku, tapi bisakah kalau kuminta kau untuk membacanya nanti?”

“Sesuatu yang terlintas di pikiranmu?”

“Coba baca ini sebentar.”

Dia lalu mengambil lipatan kertas dari tas sekolah yang bergantung di bahunya dan menyerahkannya kepadaku. Aku membuka lipatan kertas itu dan membacanya.

Kalimat pertama tertulis, “Aku membaca karya Anthony Burgess, ‘A Clockwork Orange’…” tertulis dalam sebuah tulisan tangan. Ini seperti sebuah kertas laporan. Kalimat selanjutnya tertulis “Kelas 2-1, Kosuga Yui” dimana itu menandakan siapa penulis laporan ini.

“Adikku yang menulis ini. Dia masih kelas 2 SMP, tapi dia itu anak yang pintar.”

“Jadi kau punya adik?”

Ini pertamakalinya aku mendengar hal ini. Entah mengapa, dia selama ini memberikan kesan kalau dia adalah anak tunggal dalam keluarganya.

“Aku ini tiga bersaudara di keluarga, kakakku itu sedikit lebih tua usianya darimu.”

Ekspresinya tampak ceria ketika membicarakan saudaranya. Dia jelas-jelas punya hubungan yang baik dengan mereka.

“Adikku menulis laporan ini sebagai PR liburan musim panasnya…Tapi berakhir menjadi sumber perdebatan di rumah…”


***


Akupun mulai membaca.


Clockwork Orange, karya Anthony Burgess.

Kelas 2-1, Kosuga Yui.

Setelah selesai membaca buku ini, aku mendengarkan simfoni kesembilan dari Beethoven. Aku mendengarkannya karena simfoni ini sering disebutkan dalam buku itu. Lagunya lebih panjang dari dugaanku, tapi chorus terakhir sangat indah dan membuat hatiku tergetar.

Kubeli buku ini dari sebuah toko buku online tanpa tahu seperti apa ceritanya. Awalnya kupikir ini tentang mesin-mesin dan buah-buahan, tapi aku sangat terkejut karena tidak satupun hal-hal tersebut muncul di cerita.

Aku yakin kalau banyak sekali orang yang jijik dan menyerah untuk membaca buku ini. Alex, sang karakter utamanya, cara bicaranya sangat aneh dan terus-terusan melakukan hal yang buruk. Dia menghajar orang asing di jalanan, menerobos masuk rumah dan mencuri uang disana, dan juga menyerang para gadis. Dia tidak menyesali sedikitpun tindakannya itu dan menghabiskan waktu luangnya dengan mengobrolkan musik bersama temannya.

Alex akhirnya ditangkap oleh polisi, dimasukkan ke penjara dan dipaksa untuk berubah karena dia tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan. Dia lalu dipaksa mengkonsumsi obat-obatan dan melihat image kematian dan kebrutalan yang menjadi bagian dari sesuatu yang disebut “Teknik Ludovico”.Perawatan semacam ini membuatnya tidak bisa lagi melakukan tindakan kekerasan.

Meski pada akhirnya dia menjadi orang baik, Alex masih belum menemukan kebahagiannya. Ketika ia diserang oleh teman-teman yang pernah dikenalnya dulu, dia tidak bisa melawan balik. Alex berteriak kesakitan dan merasa dirinya seperti sebuah jarum jam saja. Seperti sebuah jarum jam, dia tidak bisa mengontrol keinginannya sendiri. Seorang pendeta yang menangani para tahanan di penjara pernah berkata, kalau menjadi orang yang baik kadangkala merupakan sebuah pengalaman buruk yang sangat tidak menyenangkan. Bacaan ini memberiku kesan kalau si penulis berusaha mengatakan kalau merampas kemampuan seseorang untuk berbuat jahat tidak serta merta membuat orang itu menjadi orang yang baik. Meski ketika kau tidak melakukan satupun hal yang buruk, kau masih saja memiliki keinginan untuk melakukannya. Juga, melakukan hal-hal buruk itu sendiri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manusia itu sendiri, karena semua orang memiliki bagian-bagian yang gelap di hati mereka.

Pada akhirnya, Alex yang sudah didesain sedemikian rupa oleh pihak Rumah Sakit Penjara, kembali melakukan kejahatan. Tidak lupa juga, ada seorang menteri yang hendak memanfaatkan Alex untuk sekedar menaikkan popularitasnya. Tidak ada satupun orang baik yang muncul di novelnya. Satu-satunya hal yang bisa Alex percayai adalah musik kesukaannya.

Ketika Alex mendengarkan simfoni Beethoven no.9 di Rumah Sakit, dia membayangkan kalau dunia ini seperti sedang berteriak kepadanya. Ketika aku mendengarkan lagu tersebut dengan teliti, kupikir aku bisa mendengarkan teriakan dari dunia ini, seperti yang pernah Alex dengar.


“Bagaimana menurutmu?”

Ketika Nao menanyakannya, aku masih menatap ke arah kertas laporan tersebut.

“Ceritanya benar-benar suram.”

Aku benar-benar tertarik di bagian dimana dia mengatakan kalau tidak ada satupun orang baik yang muncul di novelnya. Cerita semacam itu adalah cerita yang menarik. Tokoh utamanya adalah pria yang sangat buruk, tapi bagaimana dengan Si Menteri dan Pendeta?

“Bukan itu yang ingin kutanyakan. Maksudku, bagaimana pendapatmu tentang review ini?”

“Hmm...Well, ini review yang cukup baik untuk level anak kelas 2 SMP.”

Aku benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa karena aku sendiri tidak pernah membaca novelnya secara langsung. Juga, aku tidak tahu harus mana yang harus dikoreksi dari laporan itu.

“Benar kan? Adikku memang luar biasa!”

Mata dari Nao tiba-tiba berkaca-kaca ketika mengatakannya.

“Dia suka membaca buku sejak kecil, dan dia benar-benar pintar dalam membuat review. Yui sering mendapatkan banyak sekali penghargaan sejak SD.”

“Penghargaan?”

“Dalam sebuah perlombaan review level sekolahan. Kakakku dan diriku saja tidak pernah memenangkan hal itu. Jujur saja, kupikir hasil tulisannya itu selalu lebih bagus daripada anak-anak lain yang seumurannya.”

Bukankah alasannya memuji adiknya sendiri karena itu adalah adiknya sendiri? Meski, aku tidak menyangkal kalau kertas laporan ini memang ditulis dengan sangat baik.

“Jadi, masalahnya dimana?”

Kalau melihat situasinya, adik Si Nao ini sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aku sendiri tidak paham apa yang salah dengan ini.

“Bukunya sudah habis terjual di Toko Buku depan Stasiun. Jadi, Yui meminta tolong kepadaku untuk memesannya lewat Toko Buku Online.”

Dia lalu menyebutkan nama Toko Bukunya. Aku belum pernah memesan lewat toko tersebut, tapi kudengar kalau mereka akan langsung mengirimkan bukunya di hari yang sama dengan tanggal pemesanan jika stoknya ada.

“Aku menjadi penasaran, karena menurutnya buku itu sangat bagus, dan dia akan menulis laporan tentang itu. Setelah kirimannya sampai di rumah, aku mencoba untuk membacanya, ternyata banyak sekali adegan kekerasan disana. Maksudku, itu terasa kejam dan menjijikkan. Aku hanya membaca bagian awalnya saja, meski begitu adegan di bagian awalnya itu menurutku terlalu berlebihan.”

Nao mengatakannya sambil menggerutu.

“Tapi Yui membacanya sampai habis, menulis reviewnya di laporan, dan memberikannya ke sekolah. Kurasa, pihak sekolahnya sendiri juga tidak mau ambil pusing dengan review buku yang semacam itu.”

“Memangnya, SMP adikmu dimana?”

“SMP Wanita Seiri. Dia baru pindah kesana tahun ini.”

“Ah.”

Setelah mendengar nama sekolah itu, akupun menjadi paham. SMP Seiri itu adalah Sekolah Katolik, mereka punya sekolah untuk level SMP dan SMA. Sekolah itu terkenal karena ketat. Stasiun terdekat dengan sekolah itu adalah Stasiun Ofune, jadi aku sering melihat siswi dan suster dari sekolah mereka.

“Masalah dimulai ketika Wali Kelas Yui menunjukkan review laporan itu beberapa hari lalu, di rapat antara orangtua siswi dengan para guru di sekolah. Wali Kelasnya bilang, kalau laporannya ditulis dengan sangat baik,”

Dia lalu menambahkan.

“Setelah itu, Wali Kelasnya mengatakan kalau ini juga harus diperhatikan betul karena siswi tersebut sedang berada di usia yang sangat sensitif. Sebenarnya, Wali Kelasnya hanya sekedar memberikan himbauan saja. Tapi orangtuaku terkejut mendengar hal itu. Mereka sangat serius, berpikir kalau Yui sudah terjebak dalam sesuatu yang tidak pantas untuk gadis seumurannya. Padahal, dia adalah gadis yang baik, hormat ke sesamanya, tidak seperti diriku-lah.”

Aku mencoba melihat kertas laporan tersebut lagi. Aku memang merasa kalau ada beberapa titik dimana adiknya itu bersimpati dengan tokoh utamanya.


Melakukan hal-hal buruk merupakan bagian dari manusia. Meski kau tidak melakukan hal-hal buruk itu, kau tetap merasa tertarik untuk melakukannya.


Opininya terhadap buku itu memang sangat sederhana, kurasa kalau ada yang bertanya tentang apa yang perlu dikhawatirkan, jawaban yang seharusnya adalah: orangtuanya.


Hmm.


Kumiringkan kepalaku. Apa maksud orangtuanya dengan khawatir Yui ‘terjebak dalam sesuatu yang tidak pantas’?

“Mungkinkah, kau bercerita kepada orangtuamu soal kasus dengan Buku Monumen Pemetik tempo hari?”

“Hmm? Yeah, aku beritahu mereka.”

Dia menganggukkan kepalanya seperti mengatakan sesuatu yang biasa-biasa saja.

“Aku tidak memberitahu saudara-saudaraku soal kasus itu, tapi aku memberitahu orangtuaku.”

Monumen Pemetik adalah judul buku yang dulu pernah dia curi. Atas permintaan dari si pemilik buku, masalah dianggap selesai secara kekeluargaan. Karena itulah, kupikir dia tidak akan memberitahu orangtuanya soal itu. Ternyata, dia jujur dan menceritakannya, atau lebih tepatnya, dia punya kepribadian yang lurus.

“Orangtuaku mulai menanyai Yui dan diriku untuk menunjukkan kepada mereka setiap buku yang kami beli. Bukankah itu artinya mereka tidak mempercayai anak mereka sendiri? Aku paham mengapa mereka hendak memeriksa barang-barangku, tapi Yui sendiri tidak melakukan hal yang salah. Aku ingin ini semua dihentikan, jadi aku datang kesini untuk meminta saran darimu tentang bagaimana caranya untuk mengubah opini mereka.”

Sekarang aku paham masalahnya. Karena Nao merasa bertanggungjawab. Alasan mengapa orangtuanya bertindak ‘berlebihan’ seperti itu karena kasus pencurian tempo hari.

Akupun melirik ke arah kasir. Tidak ada satupun suara yang muncul dari belakang tumpukan buku disana. Mungkin karena dia sendiri sedang berusaha keras untuk mendengarkan dengan cermat pembicaraan kami disini.

“Boleh tidak kalau aku meminjam laporan adikmu ini untuk sementara waktu?”

“Bisa saja, tapi untuk apa?”

“Aku ingin menunjukkannya ke Shinokawa.”

Nao memasang ekspresi wajah yang kecut yang mengindikasikan kalau dia tidak mau Shinokawa terlibat di dalamnya.

“Dia itu tahu banyak soal buku, dan dia juga paham rasanya menjadi pecinta buku. Karena itulah, aku ingin berdiskusi dengannya. Dia malah lebih cocok untuk masalah ini daripada diriku.”

Aku teringat dengan apa yang Shinokawa katakan kemarin. Tentang bagaimana dia naik sepeda ke Toko Buku setiap bulannya, dan membeli buku-buku jaman Taisho dengan bahagia. Shinokawa yang seperti itu mirip sekali dengan Yui. Tidak ada orang yang lebih baik untuk dimintai tolong dan aku tahu kalau dia akan dengan senang hati membantunya.

“Aku akan mendiskusikan ini dengannya, dan setelah itu kau akan kukabari. Bagaimana?”

Setelah memikirkan itu untuk sejenak, Nao menganggukkan kepalanya.

“Ya sudah kalau begitu.”

Ini sudah waktunya untuk tutup toko, jadi aku mulai menghitung uang yang ada di mesin kasir. Tiupan angin musim gugur berembus dari pintu kaca toko yang terbuka sebagian. Nao Kosuga lupa untuk menutupnya.

Aku mendengar suara halaman buku yang sedang dibalik, tepat dari belakangku. Shinokawa sedang membaca buku laporan tersebut. Ketika hampir tiba waktunya jam tutup toko, dia akhirnya muncul dari gunung buku kasir toko ini.

“Bagaimana pendapatmu?”

Dia tidak menjawabnya. Kuhentikan pekerjaanku dan menoleh ke arahnya. Shinokawa sedang duduk di kursi lipat dan menyandarkan kepalanya ke belakang, di tumpukan buku yang berada di belakangnya.

“Well, ini...Bagaimana ya...”

Shinokawa kemudian membaca lagi laporan itu dari awal. Dia membacanya dengan ekspresi yang kebingungan.

Wajahnya yang tampak frustasi itu sangat menarik, juga, akupun merasa terbuai oleh pemandangan ini. Tidak lama kemudian, dia berbicara, sembari terus membaca laporan itu.

“Buku laporan ini...”

“Ah, tebakanku ternyata benar. Jadi Si Kosuga itu membawanya kesini.”

Suara barusan terdengar kasar. Tanpa kusadari, ada pria botak dan kurus yang sedang menyandarkan sikunya di meja. Pria usia kepala lima ini memakai T-Shirt mencolok dan jaket merah yang lusuh. Tas kotak-kotak yang menggantung di bahunya itu berisikan buku-buku edisi lama.

“Oh, Shida, halo.”

“Jangan santai-santai menyapa Halo kepadaku, dasar goblok! Kau ini sedang mengurus gunung uang disini, jadi perhatikan dengan serius ketika ada pelanggan masuk ke toko. Bagaimana coba, jika aku ini adalah maling?”

Bully darinya langsung terbang ke arahku. Shida, pria gelandangan yang berprofesi sebagai pemburu buku, tinggal di kolong Jembatan Kugenuma. Dia adalah pelanggan tetap toko ini dan pekerjaannya adalah menjual buku-buku tua.

“Su-Sudah lama tidak bertemu.”

Shinokawa tampak terbata-bata menyapanya dan berusaha berdiri untuk menyambutnya, tapi Shida melambaikan tangannya untuk memintanya tetap duduk.

Aduh Mbak, tidak usah repot-repot berdiri. Mbak ternyata masih saja berbicara dengan nada suara lemah dan pelan. Coba Si Mbak sesekali belajar untuk berbicara dengan lantang?”

“Ah...Maaf soal itu...”

Dia menjawabnya dengan malu-malu. Kupikir aku harus membiarkannya tidak terlibat dalam hal ini...Sepertinya, dia mulai berusaha untuk bersembunyi di balik tumpukan buku-buku itu lagi.

“Jadi, ada perlu apa hari ini?” tanyaku.

“Oh, aku cuma kebetulan mampir saja. Kudengar, tempat ini baru saja buka dan berbisnis seperti biasanya, jadi aku mampir untuk sekedar menyapa dan bersantai disini. Jadi, itukah buku laporan yang ditulis oleh adiknya Si Nao?”

Dia menunjuk ke arah kertas yang Shinokawa pegang itu dengan dagunya.

“Kau tahu dari mana?”

“Dia sebelumnya datang ke tempatku dan menunjukkannya kepadaku. Dia bilang ‘Bagaimana aku bisa meyakinkan kedua orangtuaku? Bisakah kau membantuku?’ ya begitulah.”

Dia ternyata sangat pandai dalam meniru suara gadis itu. Shida ini adalah pemilik dari buku Monumen Pemetik yang dicuri oleh Nao Kosuga. Sebuah hubungan yang aneh tercipta antara korban dan pencurinya setelah kasus itu selesai. Mereka bertemu sekali dalam seminggu di area dekat sungai untuk bertukar buku dan membicarakan kesan-kesan mereka. Nao dekat dengannya dan memanggilnya Sensei. Shida juga ramah kepadanya.

“Jadi, apa yang kau katakan kepadanya?”

Sebagai seorang pemburu buku, Shida juga memiliki pengetahuan yang luas tentang buku. Tidak ada salahnya bertanya kepada Sensei yang dia percayai selama ini. Tapi, fakta kalau dia langsung datang kemari setelah berbicara dengannya, itu artinya...

“Kuberitahu dia kalau wajar-wajar saja orangtua khawatir kepada anaknya. Kosuga lalu tampak kecewa. Jujur saja, aku sendiri sulit untuk menyukai buku yang ada di review itu.”

Ternyata dugaanku benar. Dia datang kesini karena tidak bisa mendapatkan satupun saran dari Shida.

“Dulu aku pernah membacanya, dan aku tidak mau membacanya lagi. Hei, Goura, apa kau pernah membaca Clockwork Orange sebelumnya?”

Kugelengkan kepalaku. Cara dari Shida ketika mengatakannya kepadaku, membuatku terkejut.

“Ya seperti yang tertulis di reviewnya. Tokoh utamanya melakukan apapun yang dia mau. Dia memakai Narkoba, mencuri, menyerang perempuan, apapun yang dia rasa mampu untuk lakukan. Tapi aku tidak mau berpendapat kalau si penulisnya berusaha mempengaruhi pembacanya untuk melakukan hal-hal itu, meski disana dia menciptakan sebuah dunia dimana terjadi banyak sekali mimpi buruk dan tidak ada satupun harapan di dalamnya. Itu seperti sebuah paradox.”

“Well, manusia memang bisa saja tertarik dengan hal-hal tersebut, jadi kupikir akan ada beberapa orang yang bersimpati dengan cerita yang seperti ini. Masalahnya, bukanlah bagaimana cara berpikir dari gadis tersebut. Masalahnya adalah, apa yang dia tulis di reviewnya, dan kemudian terjadilah hal-hal serupa di sekolah. Kalau dia sudah seperti itu ketika SMP, lalu kalau sudah besar dia akan menjadi apa? Bukanlah hal aneh kalau orang-orang di sekitarnya menjadi khawatir. Kedua orangtuanya mungkin berpikiran seperti itu. Benar tidak pendapatku barusan?’

“Ah, kau mungkin ada benarnya.”

Karena usia orangtuanya kurang lebih sama dengan Shida, maka dia bisa melihat masalah ini dari sudut pandang orangtuanya. Tapi, benarkah itu alasan yang normal untuk memeriksa setiap buku yang dia baca? Sebagai siswi SMP, dia sedang berada di masa-masa dimana dia tidak ingin ada orang lain ikut campur dalam kehidupannya. Ini bisa menjadi semakin kompleks.

“Ngomong-ngomong, akan lebih jika kau tidak ikut campur dalam masalah ini. Setiap keluarga memiliki caranya sendiri untuk membesarkan anak-anak mereka...Ah, ternyata sudah hampir waktunya.”

Shida mengatakan itu sambil melihat ke arah jam dinding.

“Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Aku tidak ingin berlama-lama disini ketika kalian hendak tutup toko.”

Dia lalu membalikkan badannya dan pergi, seperti kurang puas akan sesuatunya.

Kesunyian kembali melanda Toko Buku Antik Biblia. Kupalingkan kepalaku ke arah Shinokawa. Dia hanya melihat buku laporan yang berada di pangkuannya tanpa bergerak sedikitpun. Sepertinya dia sedang berpikir serius tentang sesuatu. Aku sendiri juga heran dengan dirinya yang hanya terdiam seperti ini. Nao pergi ke Shida terlebih dahulu untuk meminta bantuan, tapi Shida tidak bisa melihat masalah ini dari sudut pandang yang sama dengan Nao. Akupun merasa aneh melihat Shinokawa tidak mengatakan apapun meskipun ini adalah diskusi tentang buku.

“Apa ada sesuatu?”

Dia lalu menegakkan kepalanya dan menggelengkannya.

“Bu-Bukan begitu...Hanya saja...Well...Tunggu sebentar.”

Kesunyian yang aneh melanda tempat ini.Percakapan yang barusan masih teringat jelas di pikiranku.

“Aku ingat tadi, kalau kau ingin mengatakan sesuatu sebelum Shida memotongmu. Memangnya ada apa?”

Aku baru ingat tentang hal itu, sikapnya mulai aneh semenjak dia membaca buku laporan itu. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia tampak sedikit ragu sebelum menjawabnya. Tidak lama kemudian, dia seperti sudah menemukan apa yang hendak dia katakan, dan membuka mulutnya.

“Ada sesuatu yang sangat salah di buku laporan ini.”

“Salah? Mengapa begitu?”

“Tentang yang tertulis disini...”

Dia lalu menambahkan kembali kata-katanya secara perlahan.


“Orang yang menulis buku laporan ini sebenarnya tidak pernah membaca A Clockwork Orange.”


***


Kumasukkan papan nama toko dan trolly yang berada di luar dan menaruhnya di dalam toko. Aku kunci pintu tokonya, dan menurunkan tirainya. Seluruh transaksi di kasir sudah selesai ditotal, jadi pekerjaanku dalam menutup toko bisa dikatakan selesai.

Tidak ada satupun orang yang berada di toko saat ini. Akupun kembali ke meja kasir dan bisa mendengar suara kaki dari Shinokawa yang berada di tangga. Dia kembali ke rumah, dia mengatakan kalau dia hendak mengambil sesuatu sebelum memberiku penjelasan yang detail.

Buku laporan itu ditaruh di salah satu sudut kasir. Kulihat lagi judulnya, “A Clockwork Orange, karya Anthony Burgess.”

Shinokawa tadi, mengatakan dengan jelas kalau penulis buku laporan ini tidak membaca bukunya.

Bukankah ini sama saja dengan mengatakan kalau Yui menulis asal-asalan tentang buku yang dia sendiri tidak pernah baca? Aku sendiri tidak menangkap kesan itu ketika membaca laporannya. Lagipula, Wali Kelas atau Shida pasti langsung menyadari ini.

“Terima kasih sudah menungguku.”

Shinokawa sudah kembali dari rumah dan berjalan menuju kasir dari lorong dengan bantuan kruknya. Kami lalu duduk berseberangan di meja depan kasir. Dia lalu menaruh dua buah buku yang sedari tadi dia pegang dengan lengannya. Buku-buku tersebut adalah dua versi berbeda dariA Clockwork Orange – keduanya adalah terbitan Hayakawa Publishing dan diterjemahkan oleh Inui Shinici.

Meski begitu, kedua buku tampak sangat berbeda. Yang di sebelah kanan, bersampul seorang pria dengan mata yang sangat jahat dan tampak berkilau, memegang sebuah pisau. Tulisan di sekitarnya berbunyi, “Buku best-seller dalam perayaan 50 tahun Hayakawa Publishing”. Bukunya sendiri tampak cukup tua dan ujung-ujung dari bukunya sendiri dipenuhi oleh debu.

Kulihat buku satunya yang berada di sebelah kiri. Tidak ada gambar apapun selain judulnya. Kalau menilai desain dan kondisi kertasnya, buku ini adalah terbitan yang lebih baru daripada yang sebelahnya. Ada tulisan “Cerita yang luar biasa! Merayakan rilisnya judul ke-100 dari terbitan Hayakawa Publishing!”. Sepertinya, kedua buku ini memang digambarkan sebagai karya spektakuler ketika rilis secara resmi.

“Buku asli A Clockwork Orange diterbitkan pertamakali di Inggris pada tahun 1962. Meski Burgess ini adalah penulis yang menghasilkan banyak sekali karya, dia menjadi terkenal karena novel ini, dimana ceritanya banyak sekali mengandung kekerasan yang dilakukan oleh remaja.”

Shinokawa lalu menjelaskannya dengan nada yang antusias. Sikapnya yang gugup beberapa saat lalu tiba-tiba hilang. Seperti berubah menjadi orang yang berbeda.

“Hayakawa Publishing sendiri mencetak versi terjemahan Jepangnya pada tahun 1971. Buku yang ada disini adalah edisi cetakan waktu itu. Kupikir, edisi ini adalah versi mayoritas yang sudah tersebar di seluruh Jepang.”

Dia mengatakan itu sambil menunjuk ke buku yang memiliki sampul pria dengan pisaunya.

“Apa bukunya mahal?”

“Tidak sama sekali. Dalam beberapa puluh tahun setelahnya, perusahaan sering melakukan edisi cetak ulang buku ini, jadi harganya tidaklah mahal di Toko Buku Antik. Aku sendiri tidak akan heran jika melihat buku ini sedang berada di tumpukan buku-buku yang sedang didiskon.”

Nada suaranya seperti mengisyaratkan hal-hal yang melankolis.

Dia kemudian menunjuk ke arah buku yang di sebelah kiri.

“Yang ini adalah edisi baru yang dicetak pada tahun 2008 dan edisi inilah yang dijual di seluruh toko buku yang ada pada saat ini. Sampulnya didesain dengan tren kekinian dan ukuran font ataupun bukunya juga sedikit mengalami peningkatan.”

Sekarang 2010, jadi ini sudah terjadi sejak dua tahun lalu. Akupun mengambil dua buku tersebut dan membandingkannya. Buku yang edisi terbaru memang terasa lebih tebal.

“Kalau soal isi bukunya, apa ada yang berbeda?”

Kedua mata Shinokawa yang berada di balik lensa kacamatanya tiba-tiba bersinar ketika aku menanyakan ini. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sangat antusias dan menaruh kedua tangannya di meja kasir. Aku bisa merasakan kalau tubuh dibalik dress yang dipakainya itu terasa sedikit bergetar.

“Itulah masalahnya! Ada perbedaan besar antara edisi lama dan edisi barunya! Coba kau buka halaman terakhir kedua buku tersebut dan bandingkan.”

Akupun membuka buku edisi lama tersebut, seperti yang dia minta. Kubuka tepat di halaman terakhir, sebelum bagian afterwords dari penulis. Kubaca tulisan-tulisan itu dengancepat sebelum kondisi khususku ini menjadi kumat dan memaksaku untuk berhenti membaca.


Oh, ini sangat cakep dan mantab. Kalau ngomongin musik klasik, gue seperti sedang nge-fly dan bodo amat apa kata orang, mengukir nama gue di dunia yang udah teler seperti ini dengan bacotan khas gue. Dan masih ada gerakan lambat dan nyanyian indah yang akan datang sebentar lagi.

Aku benar-benar sudah sembuh.


Aku paham maksud kata-katanya itu. Seperti yang tertulis di buku laporan, ending ceritanya berakhir dengan sang tokoh utama sedang mendengarkan lagu Beethoven setelah terbebas dari cuci otak. Beberapa kata slang disana memang sangat aneh, tapi kurasa ini masih wajar-wajar saja.

Selanjutnya, kubuka buku edisi baru tersebut dan membaca halaman terakhirnya. Paragraf terakhirnya ada di halaman 310.


Kontol lo smua. Dunia kotor ini isinya cuma para badut semua, serius gue, oh saudaraku. Salam perpisahan ini dari temen lama lo. Dan buat lo semua yang mentingin bacotan doang, brrrr. Cipok nih pantat gue. Tapi khusus buat lo, oh saudara gue, tolong ingat baek-baek siapa Alex yang dulu. Amen. Dan satu lagi, Kontol lo semua!


“Huh?”

Endingnya kok berbeda dengan buku edisi lamanya? Aku tidak paham, tapi kurasa yang terakhir tadi dia berusaha mengucapkan selamat tinggal ke pembacanya.

“Kenapa kedua buku ini bisa berbeda?”

“Well, itu karena...”

Dia lalu menjulurkan tangannya, membuka halaman 291 dan menunjuk ke salah satu bagian yang menjadi akhir dari suatu chapter – “Dan masih ada gerakan lambat dan nyanyian indah yang akan datang sebentar lagi.”

Itu adalah ending dari buku edisi lama. Tapi tidak ada afterwords setelah itu, menandakan kalau halaman selanjutnya adalah chapter selanjutnya.

“Kenapa bisa begini?”

Aku berusaha mengeluarkan semua hal yang campur-aduk ini dari kepalaku.

“Apa mereka menambahkan chapter extra di edisi baru buku ini?”

“Tidak, sebenarnya bukan begitu.” dia menggelengkan kepalanya.

“Edisi baru buku ini, sebenarnya adalah cerita asli dari A Clockwork Orange. Sederhananya, edisi baru buku ini adalah versi yang original.”

Dia lalu menunjuk ke bagian bawah judul buku edisi baru itu. “[Edisi Lengkap]” tertulis dengan jelas disana, dengan ukuran yang agak kecil.

“Apa maksudmu?”

Ini membuat rasa penasaranku bertambah besar dan membuat tubuhku condong ke depan. Jarak diantara kita berdua kini sangatlah dekat, tapi itu bukanlah fokus pikiranku saat ini. Mendengarkan cerita dibalik buku ini adalah hal yang terpenting.

“Dalam versi yang rilis tahun 1962, sebenarnya ceritanya tidak berakhir ketika Alex kembali normal.”

Dia kemudian melanjutkan kata-katanya dengan nada yang pelan.

“Alex kembali ke dunia kriminal dan berbuat kekerasan, tapi tidak lama kemudian, dia lelah menjalani kehidupan yang semacam itu. Di saat yang bersamaan, dia berjumpa kembali dengan salah satu teman lamanya yang sudah menjalani kehidupan di jalan yang benar. Itu mengubah cara berpikir dari Alex dan mulai meninggalkan pola hidup keras yang dia jalani selama ini. Cerita berakhir ketika dia menyatakan kalau dia ingin berkeluarga dan sekaligus menjadi orang dewasa yang seharusnya.”

“Huh?”

Kunaikkan nada suaraku tanpa berpikir.

“Kalau begitu, bukankah kedua ending buku ini benar-benar berbeda?”

“Ya, kau benar.”

Shinokawa menganggukan kepalanya. Keningnya itu hampir mengenai daguku.

“Sepertinya, Si Burgess ini berencana untuk menjadikan jalan hidup Alex yang keras itu sebagai bagian dari sebuah proses dalam mencari jati dirinya. Dia lalu tumbuh menjadi orang dewasa dan bisa mengenali mana yang baik, dan mana yang buruk. Ini sebenarnya sebuah cerita tentang bagaimana manusia tumbuh dan berkembang. Tapi, ketika buku ini terbit di Amerika, perusahaan penerbitan memutuskan untuk menghapus chapter terakhirnya.”

“Mengapa mereka melakukan itu?”

“Mungkin mereka berpikir kalau mereka tidak ingin para pembacanya mengira kalau endingnya akan happy ending. Dan untuk menambah runyam situasinya, Stanley Kubrick membuat film adaptasinya dengan menggunakan versi Amerika dari edisi novel ini.”

Aku tahu siapa Stanley Kubrick ini...Kupikir begitu. Dulu, aku pernah melihat film perang di TV tentang seorang instruktur militer yang tanpa perasaan, melakukan perploncoan kepada kadet baru agar mereka disiplin. Aku lupa judulnya, tapi film itu disutradarai oleh Si Kubrick ini.[TL Note: Filmnya adalah Fullmetal Jacket, saya cukup menyukainya =].]

Dia lalu mengambil buku edisi lama itu dan jarinya menunjuk ke sebuah text tersembunyi yang berada di bawah gambar pria yang memegang pisau.


“Ini Clockwork Orange-nya Stanley Kubrick”


Ukuran fontnya bahkan lebih besar dari nama Burgess yang ditulis di sampul buku ini. Ini mengesankan kalau Kubrick adalah orang yang menulis buku ini.

“Gambar sampul ini diambil dari poster film. Karena kepopuleran film itu, novel tersebut akhirnya diterjemahkan ke berbagai bahasa. Untuk terjemahan Bahasa Jepang, rilis tahun 1971, rilisnya hampir bersamaan dengan filmnya. Endingnya sama persis dengan versi novel Amerika – dimana sama dengan versi filmnya juga – karena versi cerita originalnya sendiri belum pernah dicetak.”

“Kenapa si penulisnya tidak melakukan sesuatu soal ini?”

Jika gara-gara ada bagian novelku yang sengaja dipotong dan aku menjadi terkenal, aku pasti setidaknya akan merasa kesal.

“Karena masalah perjanjian kontrak dan pembayaran, dia tidak bisa berkomentar tentang edisi Amerikanya. Ini tidak terbatas ke perusahaan penerbitan di Amerika saja. Di tahun 1971, edisi novel yang tanpa menyertakan chapter terakhir juga rilis dinegara kelahiran si penulis, Inggris. Dalam waktu yang cukup lama, edisi yang seperti ini menjadi bacaan yang dibaca di seluruh Jepang. Tapi, tahun 1980, Hayakawa Publishing menerbitkan edisi cerita original dari buku ini. Ini artinya, ada waktu dimana edisi lengkap dan edisi tidak lengkapnya beredar secara bersamaan. Tapi, edisi lengkapnya berhenti dicetak lagi beberapa tahun kemudian.”

“Bukankah itu artinya kalau edisi tidak lengkap itu akhirnya tetap menjadi satu-satunya versi yang beredar?”

“Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Akhirnya, di tahun 2008, versi lengkapnya terbit lagi, dan edisi lama yang tidak lengkap secara resmi sudah tidak dicetak lagi.”

Kusilangkan lenganku dan melihat kedua versi buku tersebut. Ini benar-benar situasi yang kompleks.

“Ada masanya dimana versi tidak lengkapnya dianggap versi yang sah. Apakah Si Burgess ini benar-benar merasa tidak bisa menghentikan pihak penerbit untuk terus menerbitkannya, ataukah dia sendiri bingung harus melakukan apa?”

“Waktu bukunya rilis di Amerika, dia menulis ini di halaman depan bukunya: Kita bisa menghancurkan apa yang sudah kita tulis, tapi kita tidak bisa menghapusnya begitu saja.

Kedua mataku hanya bisa menatap buku-buku tersebut dan Shinokawa hanya bisa mendesah. Mungkin itu bukanlah sekedar desahan biasa, tapi bisa jadi itu juga pertanda kalau dia sudah lelah untuk bercerita lebih jauh lagi.

Kutatap wajahnya. Wawasannya itu terus mengejutkanku. Dari semua orang yang terlibat dalam kasus ini, hanya dia saja yang menyadari perbedaan versi ini.

Bahkan Kosuga Yui, yang menulis lapo–

“Tunggu dulu, ini ada yang janggal.”

Kupalingkan pandanganku menuju arahnya.

“Semua toko buku saat ini pasti menjual edisi lengkapnya, benar tidak?”

Buku laporan ini tidak menyentuh chapter terakhirnya sama sekali. Seperti menyatakan kalau chapter terakhirnya tidak pernah ada. Mungkin yang dia baca adalah edisi tidak lengkapnya.

“Mungkin dia membeli buku itu di Toko Buku Antik...”

Kalau begitu ceritanya, aku tidak heran jika dia tidak membahas chapter terakhirnya. Tapi, Shinokawa menggelengkan kepalanya.

“Bukan begitu. Ingat tidak, Nao bilang kalau dia membeli buku itu untuk adiknya, dari sebuah Toko Buku Online?”

“Ah, benar sekali.”

Itu artinya, buku yang dimiliki Yui saat ini adalah edisi lengkapnya. Ini malah menjadi semakin kompleks.

Mungkin ini yang dimaksud Shinokawa ketika dia berkata “Orang yang menulis laporan ini sebenarnya tidak pernah membaca A Clockwork Orange”. Tapi mengapa Yui melakukan itu?

Ini mungkin tidak ada hubungannya dengan request Kosuga Nao, tapi fakta inkonsistensi ini benar-benar mencurigakan. Sepertinya, ada sesuatu dibalik ini.

“Jadi apa yang akan kita lakukan?”

Aku menanyakan itu ke Shinokawa. Dia lalu menutup matanya dan berpikir.

“Kupikir...Kita harus mencari kebenaran dibalik buku laporan ini terlebih dahulu sebelum memberikan saran ke Nao.”

Akupun berpendapat sama. Masalahnya, lebih tepatnya, bagaimana cara kita melakukannya.

“Akan lebih mudah jika kita mendengar alasannya dari si penulis laporan secara langsung.”

Kita bisa meminta Yui untuk mampir ke Toko atau Shinokawa dan diriku berbicara kepadanya lewat telepon, tapi kita harus meminta tolong kakaknya, Nao, untuk menjadi mediatornya.

Mempertimbangkan bagaimana dia sangat mengagumi adiknya, Nao pasti tidak akan senang jika melihat keterlibatan Shinokawa dalam hal ini.

“...Tapi kau tidak harus melakukannya sekarang.”

Shinokawa mengatakannya secara perlahan, memilih dengan hati-hati kata-katanya. Mungkin, dia sudah menyadari kebenaran dibalik situasi kasus ini.

“Kau berencana untuk berbicara dengan Nao, benar?”

“Benar.”

“Bisakah kau mengatakan kepadanya, apakah dia bersedia meminjamkanku sesuatu? Ada sesuatu yang harus kuklarifikasi terlebih dahulu.”


***


Di akhir pekan, kami menutup toko tersebut, dan dua hari telah terlewati.

Esok paginya, kami buka kembali, dan kami disibukkan oleh rutinitas kami. Mengesampingkan fakta kalau ini masih awal pekan, terjadi tiga pembelian besar-besaran yang dilakukan oleh para pelanggan, mereka pulang dengan membawa buku-buku yang memenuhi ruang di mobil mereka. Banyaknya pelanggan membuat kami sibuk sepanjang hari. Setelah kesibukan itu mulai mereda, tanpa sadar ternyata matahari sudah mulai tenggelam.


Kosuga harusnya akan datang sebentar lagi.


Aku memikirkan itu sambil menaruh buku-buku di rak buku yang sedang kosong.

Aku sudah memberitahu Kosuga tentang permintaan Shinokawa melalui percakapan telepon kemarin.Dia juga menanyaiku banyak sekali pertanyaan soal itu, tapi karena aku sendiri juga tidak paham tentang apa yang dia maksud, aku hanya menjawab “tidak tahu”. Setelah menggerutu dan komplain panjang lebar, dia akhirnya setuju untuk membawa itu ke toko.

Seperti biasanya, Shinokawa hari ini sedang “bersembunyi” di balik tumpukan buku. Mungkin hanya sekedar imajinasiku saja, tapi tumpukan buku-buku yang berada di dekat meja kasir tampaknya terasa lebih tinggi dari biasanya. Setelah makan siang, Shinokawa yang kembali dari rumah terus melakukan kegiatan penilaian dan melayani pemesanan lewat internet.

Sebuah siulan yang cukup aneh tiba-tiba terdengar di toko yang sunyi ini. Sepertinya, itu berasal dari Shinokawa.

Dia mungkin sedang mengerjakan sesuatu yang menyenangkan dan tanpa sadar mulai bersiul. Kutaruh buku terakhir ini di rak buku dan kembali ke arah kasir. Aku sudah punya dugaan tentang apa yang dia kerjakan, tapi aku masih ingin memastikan itu dengan kedua mataku.

Secara perlahan, aku mengintip dari balik tumpukan buku-buku itu dan melihatnya sedang duduk di depan komputer sambil membaca buku. Dia seperti sedang menghayati buku tersebut sehingga tidak menyadari kalau aku sedari tadi sedang melihat ke arahnya. Karena mengharap dirinya untuk sadar kalau aku kehabisan pekerjaan ternyata tidak efektif, aku mulai mengatakan sesuatu.

“Umm...”

“HAH!?”

Dia melompat dan memalingkan tubuhnya, dengan ekspresi yang terkejut. Bibirnya yang setengah terbuka tampak mulai mengkerut dan dia tiba-tiba secara terburu-buru menutup bukunya. Dengan cepat, dia kembali duduk di kursinya. Buku yang sedang dia baca adalah karya dari ursula K. Le Guin, dengan judul “Sangat jauh dari siapapun” yang diterbitkan oleh Shueisha.

“A-Aku sedang bekerja...”

Dia mengatakan itu dengan nada yang tidak meyakinkan sama sekali.

Dia harusnya tidak punya alasan untuk mencari-cari alasan yang hendak dia katakan ke pekerja paruh waktu sepertiku. Malahan, itu membuatku merasa bersalah.

“Maaf, aku baru saja selesai menaruh kembali buku-buku yang di rak.”

“Ah, baiklah. Kalau begitu, selanjutnya kau ambil buku-buku yang disana dan...”

Tepat ketika Shinokawa memegangi kruk alumuniumnya untuk berdiri–

“Aku kembali!”

Seorang gadis SMA yang berisik tiba-tiba membuka pintu kaca dan masuk ke dalam toko. Dia memakai seragam yang sama dengan Kosuga Nao dan kulitnya agak sedikit gelap meskipun ini sudah masuk musim gugur. Rambutnya diikat dengan model ponytail.

Dia mungkin terlihat seperti gadis dari negara beriklim tropis, tapi dia sebenarnya adalah adik si pemilik toko, Shinokawa Ayaka.

Sangat langka melihatnya muncul di toko setelah jam pulang sekolah. Biasanya, dia langsung ke rumah lewat pintu belakang.

“Aya, selamat datang.”

Shinokawa tersenyum ke arah adiknya dan membuka tangannya yang tidak memegang kruk lebar-lebar. Kumiringkan kepalaku untuk membayangkan apa yang sebenarnya sedang terjadi, tiba-tiba Shinokawa Ayaka berlarike arahnya dan memeluk kakaknya.

Dia sedikit lebih tinggi dari kakaknya.

“Uwaah Onee-san!”

Ayaka mengatakan itu sambil merengek-rengek dan menggosokkan pipinya di leher Shinokawa. Mereka berdua tampak tersenyum. Aku yang sedari tadi menontonnya, mulai merasa malu dengan pemandangan itu. Apa sih yang barusan itu?

“Oke, saatnya untuk membuat makan malam.”

Lima detik kemudian, Ayaka melepaskan pelukan ke kakaknya itu seperti tidak terjadi apapun.

“Sampai jumpa ya, Goura.”

Dia menyapaku sebentar sebelum pergi ke rumah.

“Apa...Apa yang barusan itu?”

Aku menanyakan itu ke Shinokawa ketika hanya ada kami berdua di toko. Kalau dipikir-pikir, aku memang jarang melihat Shinokawa bersaudara yang sedang bersama-sama. Apakah ini sesuatu yang selalu mereka lakukan?

“Apa itu semacam sapaan...?”

Shinokawa mengedipkan-ngedipkan matanya karena kebingungan.

“Apa kalian saling menyapa seperti itu setiap harinya?”

“Eh? Memangnya kau tidak melakukan hal yang serupa ketika di rumah?”

Dia mengatakan itu seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini. Apakah berpelukan ini sudah menjadi semacam budaya bagi masyarakat Jepang tanpa aku sadari?

“Tidak, kami tidak melakukan itu di rumah.”

Rumah keluarga Goura hanya berisikan aku dan ibuku. Kami berdua memiliki semacam hubungan yang tidak normal. Kalau kami berpelukan ketika aku masih muda, mungkin terasa masuk akal. Tapi, kalau kita melakukannya saat ini, mungkin akan terlihat seperti semacam pertandingan sumo bagi orang luar.

“Begitu ya...”

Suaranya terdengar melemah.

“Adikku dan diriku sudah melakukan itu sejak lama...Karena orangtua kami sudah tidak ada lagi.”

“Eh?”

Pemilik toko yang sebelumnya, ayah dari Shinokawa bersaudara, meninggal tahun lalu. Dia pasti menyadari ekspresi wajahku yang mulai hendak meminta maaf karena dia tiba-tiba tersenyum dan mengklarifikasinya.

“Ah, tentunya, dia memang sudah tidak ada disini lagi, tapi dia bukanlah tipe orang yang akrab dengan putri-putrinya.”

Aku mulai merasa kurang nyaman. Mungkin seperti itu dengan ayahnya, tapi–

“Bagaimana dengan ibumu?”

Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah mendengar cerita tentang ibu dari Shinokawa. Aku merasa kalau dia belum pernah menceritakan apapun tentang ibunya.

“Sepuluh tahun lalu...”

Dia tidak melanjutkan penjelasannya sehingga aku tidak tahu ada apa dengan ibunya. Mungkin dia tidak mau membahasnya. Kalau begitu, itu artinya ibunya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“Maafkan aku. Bukan maksudku untuk membuatmu teringat akan hal itu.”

Akupun mulai menutup topiknya.

“Tidak apa-apa...”

Aku kehilangan peluang untuk melanjutkan obrolannya dan kesunyian yang tidak wajar mulai terjadi.

Di momen itu, kami mendengar suara yang berisik, suara langkah kaki yang gaduh terdengar mendekat.Pintu yang menuju rumah terbuka, dan Shinokawa Ayaka muncul kembali. Sepertinya, dia sedang ditengah-tengah kegiatannya untuk berganti pakaian, karena kakinya hanya memakai sebelah kaos kaki.

“Hampir lupa. Tolong terima ini. Ini dari Kosuga.”

Dia mengatakan itu, sambil menyerahkan tas karton ke tanganku. Tasnya tidak disegel, tapi aku sendiri tidak akan heran jika di dalam tas ini ada semacam hadiah.

Kumiringkan kepalaku.

“Dari Kosuga?”

“Kau kan kenal dia, itu tuh si Kosuga Nao, benar tidak? Dia ada keperluan mendadak hari ini sehingga memintaku untuk memberikan ini kepadamu.”

“Bukan itu maksudku. Apa kau ini kenalannya Kosuga?”

Aku pernah dengar dari Kosuga kalau dia tidak pernah berbicara dengan adik Shinokawa. Mereka seangkatan, tapi di kelas yang berbeda.

“Aku kenal dia beberapa tahun lalu. Dia cukup keren, makanya dia menjadi gadis populer. Aku kenal dia waktu kita sama-sama di Kepanitiaan Festival Budaya. Ternyata kita berdua berasal dari SD yang sama, tapi berbeda ketika SMP.”

“Oh, jadi begitu.”

“Ah, begitu ya.”

Itu artinya, mereka berdua dulunya tinggal di pemukiman yang berdekatan, sehingga tidak aneh kalau mereka sekolah di tempat yang sama. Meskipun kau jarang berbicara dengan orang itu, kau mungkin akan merasa kalau sering melihat orang itu, entah dimana.

“Waktu kelas 1 SMA dulu, kita sekelas loh, keren kan!?”

“Tidak, kalian berdua harusnya menyadari itu lebih cepat.”

“Ngomong-ngomong, dia berpesan kalau kau harus memperlakukan ini dengan serius, atau dia akan menghajarmu hingga babak belur. Well, kurang lebih seperti itu.”

Sambil tersenyum, setelah dia mengatakan pesan yang menjengkelkan itu, dia kembali lagi ke rumah. Harusnya, dia tidak perlu melakukan sesuatunya sambil berlarian seperti itu.

“Boleh aku melihatnya?” tanya Shinokawa.

Untunglah, akhirnya suasananya kembali normal. Aku berikan tas itu kepadanya dan dia mengambil isinya. Sebuah buku karya Anthony Burgess, A Clockwork Orange, terbitan Hayakawa Publishing.

Jadi inilah edisi A Clockwork Orange yang diminta oleh Kosuga Yui kepada kakaknya. Ini adalah buku baru, dimana aku bisa mencium aroma kertas cetakan yang masih baru, dan ada tulisan [Edisi Lengkap] tertulis di sampulnya.

“Seperti dugaanku, ada chapter terakhir di edisi buku yang ini,” kataku.

Shinokawa lalu membuka halaman demi halaman tanpa mengatakan apapun. Kami bisa mengkonfirmasi edisi buku mana yang dimiliki oleh Kosuga Yui, tapi misterinya masih belum terpecahkan: Kenapa dia tidak menuliskan satu hal-pun tentang chapter terakhir buku ini di laporannya?

“Sudah kuduga.”

Aku mendengarkan kata-katanya yang pelan. Sambil membiarkan buku itu tetap terbuka, Shinokawa lalu berhenti membalik halaman tersebut.

“Aku tampaknya punya dugaan tentang apa yang sedang terjadi.”

“Eh?”

Akupun meresponnya.

“Apa kau tahu sesuatu?”

Dia menunjuk ke sebuah kertas yang terlipat, berada diantara halaman buku itu dan terlihat seperti sebuah penanda buku.

Di kertas tersebut ada text yang bertuliskan “Kartu Request Buku-Buku Hayakawa”, lalu disitu ada nama distributor dan toko yang menjualnya. Juga, judul buku tersebut tercetak di samping barcode. Dia memegang ujung kertas itu dan menunjukkannya kepadaku.

“Kau tahu apa ini?”

“Err...Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi...”

Yang aku tidak paham, mengapa dia menanyakan itu.

“Slip kertas ini, adalah hal yang sangat penting dalam pencatatan stok buku.”

Akupun mengangguk. Masalahnya, aku tidak paham apa hubungan ini dengan buku laporannya.

“Bahkan bagi Toko Buku Bekas, slip ini pasti akan diperiksa secara detail. Kalau kau mendapatkan buku dengan penampilan yang masih baru dan ternyata masih ada slip seperti ini di dalamnya, kau harusnya mulai curiga. Biasanya, Toko Buku akan mengambil slip ini, jadi jika kau masih melihat slip ini di buku yang dimiliki oleh pelanggan, maka ada kemungkinan kalau buku tersebut adalah buku curian.”

Akupun terkejut.

“Ini artinya...Buku ini...”

Tidak, aku yakin kalau Nao mengatakan kepadaku bahwa buku ini dibeli olehnya lewat Toko Buku Online. Tidak masuk akal rasanya kalau sebuah buku yang dipesan secara online adalah hasil tindakan kriminal.

Ataukah, ada sebuah cerita lain tentang buku ini.

“Umm. Sebenarnya tidak harus begitu. Tidak juga serta-merta kita anggap kalau ini adalah buku curian.”

Imajinasi liarku tiba-tiba hilang entah kemana.

“Belakangan ini, mulai banyak Toko Buku yang tidak menggunakan sistem slip semacam ini. Mereka memperoleh data-data yang mereka butuhkan hanya dengan scan barcodenya saja. Setidaknya, begitulah cara kerja Toko Buku Online yang terkenal di internet. Kalau seandainya kejadiannya memang begitu, maka wajar saja kalau buku yang dibelinya masih memiliki slip ini.”

“Begitu ya.”

Kalau memang begitu, maka normal rasanya jika mendapati slip tersebut ada di buku. Terlebih lagi, cerita itu diyakinkan oleh cerita Nao yang mengatakan kalau buku itu stoknya kosong di Toko Buku terdekat, jadi dia terpaksa membelinya secara online.

Tapi, Shinokawa tampak masih memiliki sedikit keraguan di wajahnya.

“Sebenarnya, ada satu hal lagi yang aku temukan...Sesuatu yang ingin kupastikan dengan meminjam buku ini...”

Dia menyentuh slip itu dengan jari-jarinya yang pucat. Dia tampak kurang senang dengan kesimpulan yang dia miliki saat ini.

“Bisakah kau meminta adik Nao untuk datang sendiri kesini? Jika bisa, aku ingin berbicara dengannya. Secara empat mata.”


***


Mengatur pertemuan antara Kosuga Yui dengan Shinokawa ternyata memakan waktu beberapa hari. Kita memang merasa kalau menghubungi langsung Yui akan menjadi cara yang efektif, tapi karena dia sendiri tidak memiliki komputer atau HP, kami harus meminta bantuan kakaknya, Nao, sebagai mediator. Meminta Nao untuk melakukannya juga memperlambat prosesnya.

Dia curiga kalau kami ini lebih tertarik ke isi laporannya daripada bagaimana mempengaruhi kedua orangtuanya.


“Apa sih yang Shinokawa mau bicarakan!? Jelaskan kepadaku dengan detail!”

Meski dia menekanku seperti itu, aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya terus mengulang-ulang kalimat “Shinokawa itu mau berbicara empat mata dengan Yui”.

“Ya udah kalau gitu, gue ikut juga.”

Ada sesuatu yang kusadari dari cara Nao bersikap sejak tadi. Dia sama sekali tidak memberitahu kami megenai reaksi adiknya tentang hal ini. Mungkin, Yui tidak akan senang kalau tahu kakaknya sedang melakukan sesuatu demi dirinya.

“Bisa tidak kau bantu aku dengan menanyakan permintaan kami tadi ke Yui? Tanya juga kepadanya apa dia butuh jemputan untuk mengantarnya ke toko.”


Tidak lama kemudian, kami menerima kabar dari Kosuga Yui. Dia berkata kalau dia bersedia bertemu empat mata dengan Shinokawa.

Pertemuan dengan Yui terjadi di pagi hari, sebelum toko dibuka. Sepertinya dia tahu dimana letak Toko Buku Antik Biblia. Aku dan Shinokawa mengerjakan pekerjaan kami untuk persiapan membuka toko dengan tempo yang lebih cepat, semua demi menyambut kedatangan tamu kami.

Di lokasi yang disetujui untuk berbicara, akan ada tempat bagiku untuk berada disana. Nao memintaku untuk duduk disana dan memperhatikan jalannya pertemuan.


“Yui bilang setuju untuk datang sendiri, tapi aku sendiri masih merasa khawatir. Bisa tidak kau temani dia, hanya untuk jaga-jaga saja?”


Dia sepertinya memiliki gambaran tentang apa yang akan terjadi. Ada kemungkinan kalau ini tidak akan menjadi pembicaraan yang menyenangkan. Suasana semacam ini mengingatkan sebuah kejadian yang terjadi di masa lalu, dimana Kosuga diminta untuk datang dan bertemu Shinokawa untuk mempertanyakan buku yang dia curi.

Shinokawa sendiri agak keberatan dengan kehadiranku disana, tapi setelah Yui mengatakan tidak masalah, dia lalu memperbolehkanku untuk tetap disini.

“Kalau kupikir-pikir lagi, dia mau datang sepagi ini dan berada di hari kerja, apa sekolahnya libur?”

Aku menanyakan itu ke Shinokawa sambil melihat jam dinding. Kupikir Yui bukan tipe orang yang mau membolos demi datang kesini.

“Mungkin, itu adalah libur yang terjadi karena kompensasi event sekolah yang harus dihadiri siswa di akhir pekan.”

Dia menjawab itu dengan cepat dan akupun mengangguk. Meski begitu, aku sendiri masih kurang yakin dengan jawabannya.

“Kau tahu dari mana?”

“Aku ini alumni sekolahnya.”

Ini pertamakali bagiku untuk mendengar hal ini. Tapi, dia yang pergi ke sekolah khusus perempuan memang menjelaskan beberapa hal. Misalnya mengapa dia tidak sadar kalau sedari tadi ada pria yang menatapnya di area tertentu. Seperti hari ini dia memakai kaos rajutan dengan warna yang tidak mencolok, dan model leher berbentuk V– tapi, tidak, oke cukup sampai disitu.

“Apa kau juga kuliah di kampus khusus wanita juga? Misalnya universitas wanita agama blahblahblah?”

“Hah? Kau tahu dari mana!?” kedua pupil mata di balik kacamatanya tampak membesar ketika mengatakannya.

“Nah, hanya dugaan yang tak beralasan saja.”

Hanya itu yang bisa kukatakan ketika menatapnya. Sifatnya yang seperti itu pasti karena sudah terbiasa sejak lama berada di tempat yang hanya berisikan para gadis.

“Begitu ya...Aku memang pergi ke SD yang multi-gender. Tapi sekolah setelah itu, aku masuk ke sekolah yang khusus untuk para gadis...”

Aku mengangguk mendengar penjelasannya. Sebenarnya aku ingin mendengar lebih jauh tentang masa lalunya, tapi percakapan kami dipotong oleh suara dari pintu kaca yang terbuka.

Seorang gadis dengan rambut model ponitail dan kacamata ber-frame metal memasuki toko. Dia memakai jaket denim berwarna putih yang menyelimuti dress putih kotak-kotak. Rambutnya diikat oleh gelang karet. Meski berpakaian casual, tampilannya itu memang menggambarkan tampilan umum para siswi di sekolah itu jika ada aktivitas luar sekolah.

“Aku sudah ada disini, seperti kata kakakku,” kata Kosuga Yui.

Dia mengatakan itu dengan nada yang formal. Tampilannya yang seperti itu memang tidak mirip dengan kakaknya.

“Se-Selamat datang...Silakan masuk...”

Shinokawa yang duduk di belakang meja kasir, meminta Yui untuk masuk dengan nada yang gugup. Tampaknya, anak SMP ini sudah membuatnya gugup. Serius ini, dia harusnya bisa membatasi rasa gugupnya itu jika berada di sekitar orang asing.

Yui lalu masuk ke dalam toko, dan menutup pintunya. Aku sendiri mulai pindah ke pinggir dan bersandar di rak kaca. Kupikir ini hanyalah pembicaraan antara mereka berdua saja.

“Namaku Kosuga Yui.”

“Terima kasih...Sudah repot-repot datang ke sini...”

Pembicaraan yang sopan dan lembut ini tampaknya mulai melangkah di jalan yang salah. Shinokawa, sang orang dewasa, lupa untuk memperkenalkan dirinya.

“Ada perlu apa memanggilku kesini?”

Yui lalu menghentikan langkahnya dan melihat kami dengan dingin, diapun menyilangkan lengannya. Dia mungkin memiliki tampilan yang berbeda dengan kakaknya, tapi sifatnya yang keras itu memang mirip.

“Aku tidak ingin lama-lama disini.”

“Begitu ya...Umm...”

“Kalian ini hanya seenaknya sendiri melakukan ini dan itu, padahal sapa juga yang meminta bantuan kalian.”

Kamipun kembali fokus ke topiknya karena merasa tersindir olehnya.

“Kalian ingin membicarakan tentang buku itu? Kalian bahkan tidak tahu apa-apa.”

Yui tampaknya ingin menunjukkan perasaannya yang merasa terganggu oleh ulah kakaknya yang meminta keterlibatan kita. Jarak diantara mereka berdua ternyata jauh lebih terasa dari yang kita duga. Tidak, mungkin ini hanya kekesalan sesaat saja.

“Bukankah si Nao melakukan itu demi dirimu juga?”

“Aku tidak memintanya untuk melakukan itu. Aku tidak masalah dengan sikap orangtuaku yang memeriksa setiap buku milikku. Tapi melihat mereka ribut-ribut terus tiap hari malah membuatku kesal sendiri.”

Dia seperti hendak mengatakan kalau segala upaya yang dilakukan oleh kakaknya itu adalah hal yang sia-sia.

“Apa kau menulis buku laporan ini sendiri, di rumahmu?”

“Benar.”

Yui tampak terkejut melihat sikap Shinokawa yang tiba-tiba berubah, tapi dia menjawab pertanyaannya dengan segera.

“Aku biasanya mengerjakan PR-ku di rumah.”

“Apa kau sering menggunakan perpustakaan sekolah?”

“Tidak...Menyentuh buku yang pernah dipakai orang lain...Membuatku merasa tidak nyaman.”

Yui mengatakan itu sambil melirik rak buku yang berada di sebelah kirinya. Kata-katanya tampak menyindir Toko Buku Antik. Dari luar dia mungkin terlihat seperti gadis penurut yang lembah lembut, tapi dia ternyata berani sekali.

“Kalau begitu, itu artinya kau juga tidak pernah meminjam buku dari teman-temanmu?”

“Tidak. Teman-temanku tidak ada yang hobi membaca.”

“Bagaimana dengan keluargamu?”

Dia lalu terdiam sejenak.

“Aku tidak masalah meminjam buku dari keluargaku...Tapi itu sangat jarang sekali. Keluargaku tidak punya minat untuk membaca buku. Biasanya yang mereka baca hanyalah sekedar majalah, itu saja.”

Kurasa itu tidaklah benar. Kakaknya, Nao, belakangan ini sering meminjam dan membaca buku milik Shida. Sepertinya dia tidak menganggap kakaknya sebagai orang yang menyukai buku.

“Begitukah? Begitu ya...”

“Apa kita sudah selesai? Aku ada perlu sesudah ini.”

“Maaf ya, aku masih punya satu pertanyaan lagi untukmu.” Shinokawa menaikkan jari telunjuknya.

“Bagaimana caramu menulis review di buku laporan itu?”

Tiba-tiba, suasana di ruangan ini menjadi sunyi. Sekali lagi, Kosuga Yui tampaknya tidak mengerti inti dari pertanyaannya tadi, tapi kedua matanya tiba-tiba membesar.

“...Tentunya dengan berdasarkan apa yang kubaca dari buku itu. Bukankah yang ada di meja sana adalah buku milikku, benar tidak? Itu buku yang aku baca.”

Dia menunjuk ke arah meja kasir. Di atas meja, memang ada buku A Clockwork Orange yang dipinjamkan oleh Nao.

“Novel ini punya dua ending yang berbeda. Edisi yang tidak lengkap, berakhir ketika Alex merasa terbebas dari aktivitas cuci otak. Dan edisi yang lengkap, Alex memutuskan untuk mengubah dirinya untuk menjadi lebih baik. Kalau kau benar-benar membaca edisi yang lengkap, kenapa kau malah menulis review tentang ending edisi yang tidak lengkap?”

Shinokawa akhirnya membahas permasalahan intinya. Kalau melihat keseriusan pertanyaannya tadi, harusnya Yui merasakan sedikit ketakutan atau sejenisnya. Tapi, dia malah terlihat tenang-tenang saja.

Dia terlihat seperti orang dewasa, dan tersenyum dengan santainya sebelum menjawabnya.

“Chapter terakhirnya tidak begitu menarik, jadi kuputuskan untuk tidak mempedulikannya. Apa kau tidak merasa aneh kalau Alex tiba-tiba langsung berubah menjadi orang baik? Ending dimana Alex mendengarkan lagu Beethoven jauh lebih keren.”

Penjelasannya cukup logis, tapi aku merasa ada yang janggal dari kata-katanya tadi. Alasannya itu terdengar seperti sesuatu yang baru saja terpikirkan setelah mendengarkan penjelasan tentang chapter terakhirnya.


“Oh, ini sangat cakep dan mantab. Kalau ngomongin musik klasik, gue seperti sedang nge-fly dan bodo amat apa kata orang, mengukir nama gue di dunia yang udah teler seperti ini dengan bacotan khas gue. Dan masih ada gerakan lambat dan nyanyian indah yang akan datang sebentar lagi.”


Shinokawa mengatakan sebuah quote dari buku tersebut dan tersenyum ke Kosuga Yui.

“Aku setuju kalau itu akan menjadi ending yang bagus. Bahkan aku merasakan sensasi itu ketika pertamakali membaca buku itu dan berpikir kalau cerita novelnya sangat luar biasa.”

“Benar kan, karena itulah dalam buku laporanku...”

“––tapi kau tidak membacanya sampai sejauh itu, benar kan?”

“Eh?”

Orang yang mengatakan itu barusan adalah diriku. Kosuga Yui sendiri hanya bisa menggerutu.

“Bukan begitu. Aku benar-benar membaca buku itu sampai habis.”

“Benarkah?”

“Benar. Kau bilang kalau aku tidak membaca bukunya, lalu mana buktinya?”

Kosuga Yui tidak berpikir kalau Shinokawa bisa membuktikannya. Tapi, Shinokawa menanggapinya dengan tenang dan memegang buku A Clockwork Orange yang sebelumnya di atas meja dan menunjukkannya ke Kosuga Yui.

“Bisakah kau periksa sebentar buku ini, beberapa halaman di awal buku? Tidak masalah jika kau hanya sekedar membuka halamannya asal-asalan...Silakan, coba saja.”

Nada Shinokawa barusan mengindikasikan kalau dia tidak menerima penolakan, sedang Yui sendiri tampak komplain menanggapinya.

Yui lalu mengambil buku itu dari tangan Shinokawa dan membuka halamannya. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Ada sebuah slip berwarna pink di halaman tersebut, dan di halaman lainnya ada pula slip pink yang serupa. Dia lalu menarik keluar slip pink tersebut.

“Apa kau bisa membaca buku itu tanpa menarik keluar slip itu?”

Jari-jari gadis itu tiba-tiba terhenti.

Aku akhirnya paham. Dia pasti tidak akan bisa membaca halamannya tanpa menarik keluar slip itu. Mungkin tidak banyak orang di luar sana yang akan menaruh kembali slip itu setelah menariknya keluar.

Jadi ini yang Shinokawa maksud ketika dia mengatakan kalau dia menemukan satu hal lagi dari fakta slip ini. Dia tahu apakah si pemilik buku ini sudah membacanya atau tidak.

“Kau tidak membaca sampai habis buku ini. Alasan mengapa kau tidak menyadari kalau ending reviewmu tidak sama dengan ending buku milikmu adalah karena kau tidak membacanya sampai habis. Meski begitu, kau masih bisa menulis review dalam buku laporanmu, sehingga ini hanya menyisakan satu kesimpulan.”

Shinokawa menarik napasnya dalam-dalam dan mengatakannya dengan datar.

“Kau menyalin review yang ditulis oleh orang lain.”


***


Masih ada waktu sebelum memasuki jam buka toko. Tapi yang terdengar sedari tadi di ruangan ini hanyalah bunyi dari jarum jam. Tidak lama kemudian, Kosuga Yui, yang wajahnya terlihat pucat, mulai berbicara.

“Jangan konyol.” dia mengatakan itu dengan nada yang bergetar, tapi aku masih bisa merasakan kalau dia agak memaksakannya.

“Apa kau ingin mengatakan kalau aku menjiplak tulisan orang lain?”

Shinokawa lalu memasang wajah serius dan tersenyum kecil. Dia pasti sudah menduga kalau akan keluar kata-kata yang seperti itu.

“...Kalau begitu, aku akan bertanya satu hal lagi kepadamu. Dimana kau mendengar pertamakali tentang A Clockwork Orange?”

“Huh?”

Yui terlihat sangat terkejut. Seperti orang yang baru saja disetrum.

“Ini adalah buku klasik, tapi novel ini rilis pertamakali di luar negeri sekitar 50 tahun yang lalu. Lalu dari mana, orang yang tidak punya tempat diskusi tentang buku bacaan dengan teman dan keluarga, bisa tahu soal buku ini? Kenapa kau memutuskan untuk membuat review buku yang semacam ini?”

“Begini...Kebetulan saja aku melihatnya berada di Toko Buku dan...”

“Harusnya, toko buku di sekitar tempat tinggalmu sudah kehabisan stoknya. Lagipula, di buku laporannya tertulis kalau kau membeli buku itu tanpa memiliki gambaran apapun tentang cerita di dalamnya.”

Shinokawa tidak membiarkan adanya jeda dan terus menambahkan.

“Sebenarnya, kebenarannya merupakan hal yang berkebalikan dengan itu, benar kan? Kau membaca buku laporan orang lain terlebih dahulu, dan memutuskan untuk membaca A Clockwork Orange karena terasa menarik. Aku yakin awalnya kau berusahamenulis review versimu sendiri. Kau pasti tidak membeli buku ini jika tidak ada niatan untuk menulis reviewnya. Tapi, akhirnya reviewmu itu terasa buruk sekali, sehingga kau kehabisan opsi dan memutuskan untuk menyalin review milik orang lain.”

“Yang kau katakan itu jelas-jelas tidak masuk akal! Kau bahkan tidak punya buktinya!”

“Buktinya akan muncul sebentar lagi.”

Shinokawa terus memasang wajah serius, bahkan ketika Yui memasang ekspresi yang penuh dengan emosi.

“Katamu, kau menulis laporan ini di rumah, benar? Kau juga bilang kalau kau tidak menggunakan perpustakaan. Kalau itu benar, maka buku laporan yang kau salin itu pastilah sesuatu yang kau temukan di rumahmu. Tentunya, itu bukan milik dari anggota keluargamu di masa lalu. Kalaupun itu milik anggota keluargamu, maka kau akan segera ketahuan. Tapi karena tidak, maka hanya ada satu kesimpulan...”

Shinokawa terus melanjutkan kata-katanya dengan nada yang tenang.

“SD-mu dulu itu punya perlombaan tahunan untuk membuat review dalam sebuah buku laporan, benar tidak? Karya-karya yang dianggap terbaik akan dibuatkan kompilasi dalam bentuk anthologi yang akan dibagikan ke seluruh siswa.”

Wajah Yui tiba-tiba membeku. Aku mulai teringat sesuatu tentang kata-kata Nao tempo hari.


“Jujur saja, kupikir hasil tulisannya itu selalu lebih bagus daripada anak-anak lain yang seumurannya.”


Aku memang merasa kalau kata-katanya itu agak janggal. Mustahil Nao punya momen dimana dia bisa membandingkan buku laporan adiknya dengan siswa yang lain. Kecuali, dia melihatnya lewat anthologi.

“Tentunya, perlombaan itu terjadi sebelum kau menjadi siswi SD itu, dan anthologinya sudah dibagikan ke seluruh siswa disana. Buku laporan ini pasti ditulis di jaman dimana edisi lengkap dari A Clockwork Orange belum dirilis. Mungkin ditulis oleh seseorang yang seangkatan dengan kakak-kakakmu. Karena Nao tidak menyadari apapun, maka ada kemungkinan besar kalau penulisnya seangkatan dengan kakak tertuamu. Dari situ, aku akan memulai penyelidikannya.”

Untuk sejenak, tidak ada satupun orang yang berbicara.

Yui, yang memegang erat buku A Clockwork Orange miliknya, tiba-tiba menurunkan tangannya, seperti kehilangan kekuatannya.

“Karena aku berpikir tidak ada satupun orang yang bisa memahamiku,” dia mulai menggumam, kepalanya hanya tertunduk saja karena malu.

“Aku suka membaca buku berdasarkan review yang ditulis anthologi tua itu, dan menemukan buku yang menarik untuk dibaca dari sana. Setiap tahunnya hanya ada satu atau dua orang yang tulisan reviewnya sangat bagus. Yang paling mengejutkan, ketika aku membaca buku laporan tentang A Clockwork Orange. Itu ditulis dengan sangat baik, dan isinya sangat keren dan dewasa. Kupikir itu sangat bagus.”

Itu artinya, ada seseorang di luar sana yang membaca buku ini ketika SD dulu dan menulis reviewnya. Kupikir, akan selalu ada anak-anak yang punya kecintaan luar biasa kepada buku, tidak peduli kapan dan dimana. Mungkin, orang-orang sejenis itu sedang ada di dekatku saat ini.

“Aku ingin membaca buku itu, tapi ketika aku mulai membacanya...Alex ternyata jauh lebih kejam dari yang kubayangkan, dan sering menggunakan kata-kata yang sulit. Aku berhenti membaca ketika sudah sampai sepertiga ceritanya.”

Kakaknya, Nao, mengatakan hal yang serupa. Kedua saudara ini ternyata memiliki selera yang sama terhadap buku-buku.

“Tapi kenapa kau harus menjiplak karya orang lain?” tanya Shinokawa.

“Itulah yang tidak aku mengerti. Kalau kau tidak bisa membaca A Clockwork Orange, kenapa kau tidak memilih buku lainnya untuk laporannya?”

Wajah Yui tampak memerah.

Untuk sejenak, dia terlihat seperti gadis muda. Atau tepatnya, dia terlihat seperti gadis seumurannya.

“Itu karena kakakku...Umm...Dia bilang kalau dia tidak bisa membaca buku yang seperti ini.”

“Eh?” kata Shinokawa.

“...Kakakku itu belakangan ini ternyata sudah punya pacar.”

Shinokawa dan diriku hanya bisa menatap satu sama lain. Dia sepertinya hendak menanyakan kepadaku apakah aku kenal orangnya atau tidak. Akupun menggelengkan kepalaku.

Nao mencoba menembak siswa di kelasnya bulan lalu, tapi dia ditolak. Itu adalah asal mula dari kasus pencurian bulan lalu. Siswa yang menolaknya dibully di sekolahnya, dan berusaha membakar papan nama Toko Biblia untuk balas dendam. Kabarnya, dia diskors oleh sekolahnya, bahkan sampai detik ini.

“Selama musim panas, dia membuat kue dan sering pergi keluar. Mungkin dia menembak seorang pria dan diterima. Pacarnya itu tampaknya pria yang pintar, dan dia selalu meminjam buku-buku dengan tampilan yang aneh dari pacarnya. Malahan, dia sepertinya memiliki ketertarikan yang jauh lebih dalam soal buku daripada diriku.”

Kepalaku mulai pening ketika mendengarkan kata-katanya. Gadis ini benar-benar salah paham akan semuanya. Pria yang menjadi tempat Nao untuk bertukar buku bukanlah pacarnya atau sejenisnya. Pria itu adalah gelandangan yang berprofesi sebagai pemburu buku, dan berusia lebih tua dari orangtuanya.

Awalnya aku hendak mengatakan ini, tapi kubatalkan. Kupikir tidak sopan jika orang luar sepertiku menceritakan sesuatu dimana Nao sendiri belum pernah menceritakan itu ke anggota keluarganya.

“...Jadi kau ingin menunjukkan ke kakakmu kalau kau bisa membaca buku yang tidak bisa dibaca oleh kakakmu?”

Shinokawa mengatakan itu dengan serius.

Tiba-tiba, Yui merendahkan kepalanya jauh lebih dalam lagi.

“Tolong jangan beritahu kakakku soal ini. Dia seperti punya rasa keadilan yang tinggi, jadi aku yakin kalau dia akan menceritakan itu ke orangtuaku. Dan itu bisa sangat buruk jika benar-benar terjadi.”

“Tapi...”

“Aku tahu kalau yang kulakukan ini salah, tapi hanya orangtuaku dan guruku saja yang melihat buku laporannya. Bahkan si penulis aslinya sendiri tidak tahu, jadi kalau kalian mendiamkan saja...”

“Kosuga Yui,” Shinokawa tiba-tiba memanggilnya. Suaranya tu terdengar sangat berat sehingga membuat Yui terdiam.

“Kau mengambil karya orang yang sudah lulus beberapa tahun lalu, dan menganggap karyanya itu sebagai milikmu. Bahkan siswi yang menulisnya saja tidak tahu, tapi itu tidak mengubah fakta kalau kau sudah menjiplak karyanya. Terlebih lagi, kau mengirim sebuah laporan tentang buku yang tidak kau baca. Kupikir, itu seperti sebuah penghinaan ke penulis aslinya. Apa kau tidak suka membaca buku?”

Shinokawa lalu mengambil sesuatu di balik meja kasir. Ketika kulihat, itu adalah sampul dari sebuah buku. Itu adalah sampul dari edisi lama A Clockwork Orange yang memiliki sampul berwarna kuning. Itu adalah buku yang pernah dia tunjukkan kepadaku.

“Seperti kata Burgess, Kita bisa menghancurkan apa yang kita tulis, tapi kita tidak bisa menghapusnya. Kau juga tidak bisa menghilangkan fakta kalau kau menjiplak buku laporan ini. Kau harus bertanggung jawab.”

Yui hanya bisa menggigit-gigit bibirnya sendiri dan tampak menyesalinya. Dia tampaknya ketakutan tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

“Kau harus menceritakan semuanya ke kakakmu dan bertanya kepadanya tentang apa yang harus kau lakukan. Hanya itu saja yang bisa kukatakan.”

“Ehhh?”

“Aku yakin kalau kakakmu itu akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Dia pasti memahami betul situasimu.”

Dari semua orang yang kukenal, Nao adalah orang yang paling paham rasanya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukannya. Terlebih lagi, dia sangat peduli dengan adiknya.

Akhirnya, Kosuga Yui menegakkan kepalanya kembali.


“Aku paham...Aku akan melakukannya.”


***


Aku tidak perlu menjelaskan lebih jauh apa yang sedang dialami oleh Yui. Kosuga Nao sendiri tidak pernah memberikan kami penjelasan yang lebih detail setelah kejadian itu.

Beberapa hari telah berlalu dan tibalah sebuah surat berisi ucapan terima kasih yang ditujukan kepada Shinokawa. Sepertinya, ini berakhir dengan baik bagi Yui. Mungkin dia berhasil menyelesaikan semuanya tanpa memberitahu kedua orangtuanya.

Secara tidak sengaja, aku bertemu Kosuga bersaudara di Toko Buku dekat Stasiun Ofune, beberapa hari lalu. Mereka berada di pojokan dan mengobrol dengan gembira. Sepertinya, hubungan mereka berdua bertambah dekat.

Aku memang mengatakan kalau aku tidak bisa menceritakan lebih jauh lagi tentang kasus ini, tapi aku menemukan sebuah kebenaran yang melengkapi seluruh teka-teki ini. Itu terjadi setelah Kosuga Yui meninggalkan toko.

Waktu itu sudah masuk jam makan siang dan Shinokawa pergi ke rumah untuk makan siang. Salah satu pelanggan kami, yang kebetulan mampir hanya untuk menyapa, sudah pergi, dan aku kini sendirian di toko.

Kedua mataku melihat sebuah buku A Clockwork Orange yang ditinggalkan dan berada di dekat kasir. Buku itu merupakan edisi lama yang tidak memiliki chapter terakhir.

Shinokawa membawa buku ini dari lantai dua rumah. Buku ini tidak ada dalam inventaris barang-barang toko. Lebih tepatnya, buku ini adalah koleksi pribadinya. Kubaca sekali lagi tulisan di sampulnya.


“Merayakan 50 tahun Perusahaan Penerbitan Hayakawa”.




Kenapa sih dia membeli buku ini?


Kubalik beberapa halaman buku itu untuk melihat halaman tentang hak ciptanya. Disana, ditulis kalau buku ini dicetak pada tanggal 5 Oktober tahun 1995, cetakan ke-25. Buku ini jauh lebih tua dari ekspektasiku – tepatnya lebih tua 15 tahun. Tentunya ada kemungkinan kalau Shinokawa membelinya di Toko Buku Antik, tapi bagaimana kalau dia membeli buku ini dalam keadaan baru...

“Ah,” tiba-tiba aku mengatakannya.

Semua keraguan yang ada di pikiranku sejak kemarin tiba-tiba mendapatkan jawabannya, dan aku teringat apa yang Shinokawa katakan.


Bahkan siswi yang menulisnya saja tidak tahu, tapi itu tidak mengubah fakta kalau kau sudah menjiplak karyanya.


Aku memikirkan itu berkali-kali, dan aku yakin kalau Yui tidak pernah bilang kalau penulis review aslinya adalah seorang gadis. Akan selalu ada kemungkinan kalau penulisnya seorang pria.

Terlebih lagi, baik keluarga Shinokawa dan Kosugatinggal di area sekolahan yang sama. Karena Shinokawa bilang kalau SD-nya adalah multi-gender, masuk akal kalau itu adalah SD yang sama dimana Yui bersaudara juga menempuh ilmunya. Kenapa Shinokawa tidak mengatakan hal itu?

“Maaf ya, sudah membuatmu menunggu.”

Kulihat asal suara tersebut. Shinokawa sudah kembali dari rumah dan sedang menutup kembali pintunya.

“Aku tadi...Hanya...Mencari-cari sesuatu.”

Dia melihat buku yang sedang kubuka dan dirinya mulai gugup. Meski begitu, dia meyakinkan dirinya untuk berjalan ke arahku.

“Aku...Harus meminta maaf kepadamu terlebih dahulu...” Dia mulai berbicara, dan aku sendiri terkejut dengan bagaimana dia melihatku secara langsung dengan kedua matanya.

Dia lalu mengambil sebuah buku yang berada di lengannya dan menunjukkannya kepadaku. Mungkin ini adalah benda yang dia cari-cari sebelumnya.

Buku itu berjudul Mebuki, dimana mungkin artinya adalah tunas. Di bawahnya lagi ada tulisan, “Kota Kamakura, SD Iwatani, tahun ke-7 Showa. Dengan kata lain, tahun 1995.

Aku menerima buku tersebut dan membuka halamannya hingga di bagian daftar isi. Yang tertulis di dalamnya adalah kompilasi laporan review buku. Mebuki sendiri mungkin adalah nama anthologi yang merangkum kompetisi review buku saat itu. Akhirnya aku menemukan judul yang kucari-cari.


A Clockwork Orange.


Kedua mataku terhenti di kalimat selanjutnya – Kelas 3-2. Shinokawa Shioriko.

“Maafkan aku.” Dia menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat memerah.

“Yang kau pegang itu...Adalah anthologi milikku.”


Jadi begini ya...


Shinokawa tidak memecahkan teka-tekinya dengan analisis. Tapi dia tahu kalau Yui itu hanya menjiplak karya orang lain dan pura-pura memecahkan misterinya.

“Kenapa kau tidak mengatakan ini sejak awal?” Kupikir dia tidak punya alasan mengapa harus menyembunyikan kebenarannya.

Juga, tidak perlu menjelaskan panjang lebar ke Kosuga Yui. Jika Shinokawa langsung menunjukkan anthologi ini dan membuktikan kalau itu adalah review miliknya, maka semuanya langsung selesai.

“Itu karena...Well...” dia mulai gugup untuk mengatakannya.

“I-Itu karena kata-katamu dulu...”


Aku? Memangnya aku mengatakan apa?


“Ketika Shida mengatakan, Kalau SMP-nya saja sudah seperti ini, bagaimana nanti kalau sudah dewasa?, waktu itu kau setuju dengannya.”

“Ah.”

Shinokawa tidak sedang berada di SMP ketika menulis review itu, dia masih SD. Baik Shida ataupun diriku tidak menyadari itu, ternyata versi dewasa dari si penulis review itu sudah berada di depan kami selama ini.

“Ketika aku menyerahkan buku laporanku, aku dinasehati oleh guruku. Tentunya sangat mengkhawatirkan jika ada anak kecil menulis sesuatu yang semacam itu. Tapi, ada beberapa guru yang membelaku, jadi buku laporanku tetap dimasukkan ke dalam anthologi, tapi...”

Suaranya tampak lebih pelan dari biasanya.

“Aku sedih ketika mendengar dirimu juga berpikir seperti itu.”

Kalau dipikir-pikir, dia memang hendak mengatakan sesuatu sebelum Shida muncul. Dia pasti hendak memberitahuku soal ini sebelumnya.

Kedua mataku langsung melihat ke kalimat pertama di buku laporan itu.


Aku membeli buku ini dari Toko Buku Shimano tanpa tahu seperti apa cerita dalam buku ini.


Hanya kalimat itulah yang berbeda dari review Kosuga Yui. Shinokawa pasti baru menerima uang saku bulanannya dan langsung mengayuh sepedanya ke Toko Buku setelah itu.

Kali ini, aku bisa membayangkan bagaimana dirinya waktu itu.

“Apa pendapatmu jika ada anak kecil yang menulis hal-hal semacam itu?”

Kubuka-buka beberapa halaman di Mebuki itu dan melihat sebentar review milik siswa lainnya. Ada Literatur Modern dari Mori Ougai, Dazai Osamu dan sejenisnya. Review dari Shinokawa jelas-jelas sangat mencolok dari yang lainnya.

“Aku pasti berpikir kalau itu tidaklah wajar, tapi bukan berarti kalau itu adalah hal yang buruk,” kataku.

“Sekarang aku mulai penasaran untuk bertemu dirimu yang masih muda dulu.”

Shinokawa tersenyum ketika mengatakannya.

Mungkin benar kalau ada anak SD yang menulis review semacam ini, trus bagaimana? Ini hanyalah review, sekedar review. Tindakan apapun yang diambil oleh seseorang setelah membaca ini akan selalu dikembalikan kepada kehendak masing-masing. Bahkan dalam buku ini, bukankah Alex sendiri yang memutuskan untuk lulus dari perilaku iblis atas kehendaknya sendiri?

Kututup Mebuki dan mengembalikan itu kepadanya. Seperti kata Burgess, kau tidak menghapus apa yang sudah kau tulis. Tapi, ini memang tidak perlu dihapus.

“Karena kau yang dewasa sudah membaca edisi lengkap dari buku ini, jadi bagaimana dengan reviewmu yang terbaru soal ini?”

“Eh?”

“Aku ingin mendengarkan ceritamu.”

Tentunya, kesannya harusnya berubah karena dia sudah membaca ending yang sebenarnya. Apa pendapat Shinokawa tentang novel ini? Aku lebih tertarik dengan hal itu.

Senyum Shinokawa tampak melebar.

“Well, ini akan memakan waktu...”

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita tutup tokonya lebih awal?”

“Ah, tentu saja.”

Kami berdua kemudian mulai merapikan toko. Dia lalu berjalan menuju meja kasir yang dipenuhi tumpukan buku sambil bersiul seperti biasanya. Meski kali ini, aku tahu kalau dia tidak akan membaca sebuah buku ketika melakukannya.

─̶─Chapter 1 END─̶─


Prev | ToC | Next